Khutbah Jumat: Empat Golongan Manusia dalam Menyikapi Urusan Dunia

Ilustrasi khutbah Jumat tentang empat golongan manusia dalam menyikapi urusan dunia tanpa menampilkan manusia
Khutbah Jumat yang mengingatkan: dunia bukan tujuan, tapi ujian menuju akhirat.

 
 
Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Shalat Jumat yang Dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan inilah bekal utama kita menghadapi kehidupan dunia yang fana ini dan untuk meraih kebahagiaan akhirat yang kekal.

Hadirin Rahimakumullah,

Hidup di dunia adalah ujian. Allah menguji kita dengan berbagai macam nikmat dan keadaan. Ada yang diuji dengan kelapangan harta, ada yang diuji dengan kesempitannya. Ada yang diuji dengan ilmu yang luas, ada pula yang diuji dengan keterbatasan ilmu. Bagaimana sikap seorang Muslim dalam menyikapi perkara duniawi ini akan menentukan kedudukannya di sisi Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, sang guru teragung, telah memberikan panduan yang sangat jelas dan ringkas tentang hal ini. Dalam sebuah hadits yang sarat dengan pelajaran berharga, beliau bersabda:

أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Aku akan sampaikan kepada kalian sebuah hadits, maka ingatlah! Sesungguhnya dunia diisi oleh empat golongan orang:

  1. Seorang hamba yang dikaruniai oleh Allah harta dan ilmu. Dengan ilmu itu ia bertakwa kepada Allah, ia dapat menggunakannya untuk menyambung silaturahmi, dan ia mengetahui bahwa Allah memiliki hak padanya. Ini adalah tingkatan yang paling baik.

  2. Seorang hamba yang diberi Allah ilmu, tetapi tidak diberi harta. Namun, ia memiliki niat yang benar sambil berkata, ‘Andai saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan amalan seperti si Fulan.’ Maka, ia (mendapatkan pahala) berdasarkan apa yang dia niatkan. Sehingga keduanya mendapatkan pahala yang sama.

  3. Seorang hamba yang diberikan harta, tetapi Allah tidak memberikannya ilmu. Ia menggunakan hartanya tanpa ilmu. Ia tidak menggunakan hartanya dalam takwa kepada Allah, ia tidak menggunakan untuk menyambung silaturahmi, dan ia juga tidak tahu bahwa Allah memiliki hak atas hartanya. Dan inilah tingkatan terburuk.

  4. Seorang hamba yang tidak diberikan Allah harta maupun ilmu, namun ia berkata, ‘Andai aku memiliki harta, tentu aku akan melakukan apa yang dilakukan Fulan (yang ketiga).’ Maka, ia berdasarkan niatnya. Sehingga bagi keduanya, mendapatkan dosa yang sama.” (HR. Tirmidzi no. 2325 dan Ahmad no. 18031)

Inilah panduan hidup bagi kita. Mari kita telaah satu per satu keempat golongan ini untuk kita jadikan cermin.

Pertama: Golongan Terbaik, yang Diberi Ilmu dan Harta
Inilah golongan yang paling utama. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang telah Allah sempurnakan nikmatnya. Ilmu yang dimiliki menjadi petunjuk bagi penggunaan harta. Harta yang dimiliki menjadi sarana untuk mengamalkan ilmu.

Mereka adalah para ulama yang kaya, atau pengusaha, profesional, dan orang kaya yang berilmu. Ilmu membuat mereka:

  • Bertakwa kepada Rabbnya: Mereka tidak akan menggunakan harta untuk kemaksiatan. Zakat ditunaikan, riba dihindari, transaksi dilakukan dengan jujur.

  • Menyambung Silaturahmi: Mereka membantu keluarga, kerabat, dan anak yatim. Sebagaimana diajarkan Nabi, sedekah kepada kerabat memiliki dua pahala: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi.

  • Mengetahui Hak Allah dalam Hartanya: Mereka sadar betul bahwa dalam harta mereka ada hak orang lain yang mustahik. Mereka tidak merasa bahwa harta itu murni jerih payahnya, tetapi mereka meyakini itu adalah amanah dari Allah yang harus dikelola sesuai syariat-Nya.

Merekalah pewaris para Nabi dan Sahabat yang kaya raya seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhuma. Inilah sikap Muslim yang tepat terhadap harta: mengelolanya dengan ilmu.

Kedua: Golongan Mulia, yang Diberi Ilmu tapi Tidak Diberi Kelapangan Harta
Mereka adalah orang-orang berilmu yang hidupnya sederhana atau bahkan kekurangan. Namun, ketiadaan harta tidak membuatnya iri atau dengki. Justru, hati mereka dipenuhi dengan niat yang tulus. Mereka berkata, “Seandainya aku punya harta, akan aku gunakan untuk kebaikan seperti si Fulan (golongan pertama).

Lihatlah! Betapa agungnya Islam. Kekuatan niat yang tulus dapat mengangkat seseorang kepada derajat yang setara dengan orang yang beramal, meski ia belum mampu melakukannya. Ini adalah bentuk rahmat Allah yang Maha Luas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengajarkan hal serupa dalam perang Tabuk. Para Sahabat yang tertinggal karena uzur yang sangat syar’i (seperti sakit), namun hati mereka selalu bersama para mujahidin, merekapun mendapat pahala yang sama.

Ini pelajaran berharga bagi kita yang mungkin belum dikaruniai harta berlimpah. Jangan bersedih! Niatkanlah dalam hati, andai Allah memberiku rezeki yang lebih, akan kugunakan untuk membangun masjid, membantu yatim, mendanai dakwah. Niat yang tulus itu dicatat oleh Malaikat sebagai sebuah kebaikan. Ilmu dan niat baik adalah kekayaan yang tidak ternilai.

Ketiga: Golongan Terburuk, yang Diberi Harta tapi Tidak Diberi Ilmu
Inilah golongan yang paling celaka dalam urusan dunia. Allah memberinya harta melimpah, tetapi tidak memberinya petunjuk ilmu. Akibatnya, ia bagai orang buta yang berjalan di tepi jurang.

Tanpa ilmu, harta menjadi bencana:

  • Ia tidak bertakwa: Harta digunakan untuk kesombongan, pamer (riya’), maksiat, dan hal-hal yang haram.

  • Ia tidak menyambung silaturahmi: Ia pelit dan kikir. Kerabat dekat yang membutuhkan dibiarkan menderita.

  • Ia tidak mengetahui hak Allah: Zakat tidak ditunaikan, bahkan mungkin ia menganggap hartanya adalah hasil kecerdasannya semata, lupa bahwa Allah-lah pemberi rezeki.

Allah berfirman:

وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)

Pemimpin mereka adalah Qarun. Dengan congkaknya ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasas: 78). Akhirnya, Allah membenamkan dia beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi. Na’udzubillah min dzalik.

Keempat: Golongan yang Rugi, yang Tidak Diberi Harta Maupun Ilmu
Golongan ini miskin harta dan juga miskin ilmu. Namun, yang menjerumuskannya ke dalam dosa adalah niatnya yang buruk. Ia berkata, “Seandainya aku kaya, akan aku lakukan seperti si Fulan (golongan ketiga yang boros dan maksiat).

Ia iri dengan gaya hidup orang kaya yang foya-foya dan durhaka. Ia tidak memiliki keinginan untuk belajar (tarbiyah islamiyah) atau berusaha memperbaiki diri. Karena niat jahatnya yang telah terucap dan menetap dalam hatinya itulah, ia mendapat dosa yang sama dengan golongan ketiga.

Ini bukanlah kezaliman dari Allah, tetapi itu adalah konsekuensi dari pilihan niatnya sendiri. Allah memaafkan bisikan hati yang belum mengakar, tetapi jika niat buruk itu sudah menetap dan diucapkan, maka itu telah menjadi sebuah kesalahan.

Jamaah Jumat yang Berbahagia,

Keempat golongan ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya memadukan antara ilmu dan harta. Ilmu tanpa harta, masih bisa mengantarkan pada pahala dengan niat. Harta tanpa ilmu, justru menjadi penghancur. Yang paling ideal adalah menggabungkan keduanya. Dan yang paling berbahaya adalah ketika miskin harta, juga miskin ilmu, ditambah dengan niat yang kotor.

Oleh karena itu, marilah kita:

  1. Senantiasa Menuntut Ilmu Agama (talaabul ilmi), mempelajari fiqh muamalah, fiqh zakat, dan adab-adab dalam mencari dan membelanjakan harta.

  2. Bersyukur atas Segala Kondisi. Jika kaya, syukuri dengan menginfakkannya. Jika miskin, syukuri dengan bersabar dan berniat baik.

  3. Membersihkan Niat dalam setiap keadaan. Niatkan mencari harta untuk beribadah kepada Allah dan menegakkan agama-Nya.

  4. Berdoa kepada Allah agar diberi rezeki yang halal, berkah, dan ilmu yang bermanfaat untuk mengelolanya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Muslimin yang Insya Allah Dicintai Allah,

Khutbah yang baru saja kita dengar memberikan pelajaran sangat mendalam. Esensinya adalah: Ilmu adalah pemandu, dan niat adalah penentu nilai segala amal perbuatan.

Dalam konteks kekinian, hadits ini sangat relevan. Di era digital dan media sosial ini, kita melihat banyak sekali contoh nyata dari keempat golongan ini. Ada orang kaya yang dermawan dan pandai bersyukur, ada artis atau publik figur yang kaya raya tetapi hidupnya hampa tanpa ilmu dan penuh maksiat. Ada juga orang biasa yang dengan niat tulusnya berdonasi meski jumlahnya kecil, yang pahalanya berlipat ganda di sisi Allah.

Pertanyaan besarnya adalah: Kita termasuk golongan yang manakah?

Marilah kita melakukan muhasabah, introspeksi diri:

  • Apakah kita telah menggunakan harta kita di jalan yang benar?

  • Apakah kita telah menuntut ilmu untuk mengelola harta dan hidup kita?

  • Apakah niat-niat kita selama ini sudah lurus karena Allah?

Semoga Allah menjauhkan kita dari golongan ketiga dan keempat, golongan yang merugi dan celaka. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan pertama, atau setidaknya golongan kedua, yang dengan niat tulusnya diangkat derajatnya oleh Allah.

Mari kita akhiri khutbah ini dengan doa:

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami rezeki yang halal dan berkah.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat.
Ya Allah, jadikanlah harta yang Engkau berikan kepada kami sebagai pembantu untuk menaati-Mu, bukan sebagai penghalang untuk mendekat kepada-Mu.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari niat yang buruk, dari sifat kikir dan sombong.
Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agama-Mu dan pada ketaatan kepada-Mu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Posting Komentar