Gaspoll Lagi! Mahal-Mahal? Ini Cara Islam Lihat Kenaikan Harga biar Hati Tetap Adem

Ilustrasi Islami bertema kenaikan harga dengan pola geometris Islam dan cahaya nur yang menenangkan, menggambarkan cara Islam menghadapi mahalnya harga tanpa gambar manusia.

Ketika harga naik, Islam memberi panduan agar hati tetap tenang



Halo, Sobat Muslim! Lagi buka apps belanja atau lewat depan warung, terus lihat harga minyak goreng, telor, atau yang lain-lain: "Loh, kemaren berapa? Sekarang berapa?!". Hati langsung ciut, dag-dig-dug, langsung mau update status galau atau story WA keluar grup keluarga. Tenang, kamu nggak sendirian!

Fenomena ini sebenernya udah dicatat sama Allah SWT dalam Al-Qur'an sebagai salah satu default setting manusia. Cek deh ayat ini:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Artinya: "Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan memiliki sifat keluh kesah dan kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta), dia menjadi kikir." (QS. Al-Ma'arij: 19-21)

Manusia tuh nature-nya pengennya enak mulu. Pas dapet hal yang nggak nyaman, sedihnya bisa banget bikin stres. Tapi, sebagai Muslim, kita punya manual book-nya. Kita punya sudut pandang yang bikin kita nggak cuma bisa mengeluh, tapi bisa tetap tenang dan bersikap benar. Yuk, kita bahas beberapa insight-nya.

1. Harga Naik? Itu Sudah SK dari Atas! (Sunnatullah & Qadha' Allah)


Pertama yang harus kita restart di pikiran kita: kenaikan harga itu bagian dari ketetapan Allah (Qadha' dan Qadar). Ini bukan hal baru yang cuma kita alamin di zaman now. bahkan di zaman Nabi Muhammad ﷺ aja udah terjadi.

Bayangkan, para sahabat yang hidup di zaman penuh berkah itu juga pernah menghadapi masalah yang sama. Mereka pun ngaduin ke Rasulullah ﷺ. Coba simak curhat mereka:

يَا رَسُولَ اللهِ، غَلَا السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا

(Wahai Rasulullah, harga-harga sedang naik, tolong tetapkan harga untuk kami!).

Mereka minta Nabi ﷺ buat intervensi harga. Tapi respon beliau ﷺ justru mengingatkan pada konsep tauhid yang dalam. Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِي بِمَظْلِمَةٍ فِي دَمٍ وَلا مَال

Artinya: "Sesungguhnya Allah-lah Yang Menetapkan Harga, Yang Menyempitkan, Yang Melapangkan, dan Pemberi Rezeki. Dan sungguh aku berharap bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena suatu kezaliman, baik dalam urusan darah maupun harta." (HR. Abu Daud no. 3451, At-Tirmidzi no. 1314, Ibnu Majah no. 2200, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Subhanallah! Lihat nggak? Daripada langsung turun tangan fix harga, Nabi ﷺ justru ngasih perspektif ilahiyah. Beliau mengingatkan bahwa yang ngatur pasar itu Allah. Tugas kita adalah menerima ketetapan-Nya dengan yakin dan berusaha mencari solusi yang halal, bukan malah stres atau naudzubillah sampai nekat melakukan hal yang nggak benar.

2. Tenang, Rezeki Lo Nggak Bakal Keambil Sama Harga Mahal


Nih, prinsip yang penting banget buat dipegang: Kenaikan harga barang nggak akan mengurangi jatah rezeki lo sedikit pun. Kok bisa? Karena rezeki itu udah diatur sama Allah dengan sistem pre-order yang sempurna. Jatah kita udah fix, nggak akan kecopetan sama inflasi.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Artinya: "Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di muka bumi; tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya." (QS. Asy-Syura: 27)

Ibnu Katsir, ulama penafsir ternama, nerangin ayat ini dengan keren: Allah ngasih rezeki sesuai dengan yang Dia pilihkan, yang itu mengandung maslahat terbaik buat kita. Dia yang ngasih kekayaan ke yang layak kaya, dan ujian kesempitan ke yang kuat menghadapinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/206).

Nabi ﷺ juga ngasih affirmation yang bikin kita lega:

أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya tidaklah seorang dari kalian mati sampai sempurna jatah rezekinya. Karena itu, janganlah kalian merasa rezeki kalian terlambat. Bertakwalah kepada Allah, carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 2070, beliau menshahihkannya dan disepakati Adz-Dzahabi).

Jadi, hadits ini bukan suruhan buat malas-malasan, lho! Justru kita disuruh hustle yang halal. Tapi, di saat yang sama, hati kita harus adem karena yakin bahwa apa yang udah ditakdirin buat kita, pasti akan sampai. Nggak perlu \grinding sampai nekat korupsi atau menipu karena takut miskin.

3. Role Model: Para Ulama Salaf yang Nggak Peduli Mahal!


Nih, buat lo yang masih kepikiran, "Gimana mau tenang, duit di dompet nggak nambah, harga di pasar pada naik?" Coba deh dengerin cerita inspiratif dari seorang ulama salaf.

Suatu ketika, di masa lalu, terjadi kenaikan harga pangan yang sangat parah. Rakyat pun resah. Mereka datang mengadukan masalah ini kepada Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, salah satu ulama besar yang zuhud.

Apa jawaban beliau? Bikin merinding sekaligus bikin ngiri sama keteguhan hatinya.

Beliau bilang:

وَاللَّهِ لَا أُبَالِي وَلَوْ أَصْبَحَتْ حَبَّةُ الشَّعِيرِ بِدِينَارٍ! عَلَيَّ أَنْ أَعْبُدَهُ كَمَا أَمَرَنِي، وَعَلَيْهِ أَنْ يَرْزُقَنِي كَمَا وَعَدَنِي

Artinya: "Demi Allah, aku tidak peduli! Sekalipun satu biji gandum harganya menjadi satu dinar (sangat mahal)! Kewajibanku adalah beribadah kepada-Nya sebagaimana Dia perintahkan, dan kewajiban-Nya adalah memberi rezeki kepadaku sebagaimana yang Dia janjikan."

Broke the scale of chillness! Bayangkan keimanan selevel ini. Fokusnya cuma satu: menunaikan kewajiban sebagai hamba. Soal rezeki, serahkan pada yang punya janji. Ini bukan sikap pasrah tanpa usaha, tapi ini adalah puncak keyakinan (tawakkal) setelah berusaha maksimal.

4. Kunci Supaya Tetap Tenang: Jaga Shalat dan Istiqamah


Lalu, apa action plan kita biar bisa kayak Imam Sufyan Ats-Tsauri? Jawabannya ada dalam perintah Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Artinya: "Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaha : 132)

Shalat itu adalah charging station rohani kita. Di saat harga serba nggak pasti, shalat mengingatkan kita pada Zat yang Maha Pasti. Allah bilang langsung, "Kami yang akan memberi rezeki kepadamu." Jadi, jangan sampe karena sibuk mengeluh atau cari pelarian yang nggak jelas, kita malah ninggalin shalat. Itu justru bakal nambah masalah.

Kesimpulan: Jadi, Gimana Sikap Kita?


1.  Yakinlah bahwa kenaikan harga adalah bagian dari takdir dan hikmah Allah yang mungkin kita belum tahu.
2.  Jangan Panik! Rezeki sudah dijamin. Tugas kita adalah berusaha dengan cara yang halal dan baik (thalabul halal).
3.  Tiru Keteguhan Ulama Salaf. Fokus pada kewajiban ibadah, dan serahkan hasilnya pada Allah. Jangan jadikan harga mahal sebagai alasan untuk mengeluh berlebihan atau melakukan kemaksiatan.
4.  Jaga Shalat dan Doa. Ini adalah sumber kekuatan batin kita. Mintalah kepada Allah ketenangan dan kemudahan dalam menghadapi ujian ini.

So, next time lihat harga naik, tarik napas dalem-dalem, ucapkan "Hasbunallahu wa ni'mal wakil" (Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung), lalu lanjutkan hidup dengan usaha yang positif. Yang mahal? Ya, kita sesuaikan dan bijak dalam konsumsi. Nggak usah bikin hidup jadi serem terus!

Semoga tulisan ini bermanfaat dan bikin hati kita lebih adem ayem dalam menghadapi fluktuasi harga apa pun. Bagikan ke teman-teman dan keluarga yang mungkin butuh pencerahan ini!

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

✍️ Tulis pendapatmu dengan niat baik dan sopan.
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿