![]() |
| Menjadi besar tanpa pamer, kemuliaan jiwa lewat sikap low-key yang sering kita salah paham. |
Flexing vs. Low-Profile, Mana Pilihan Lo?
Hai, guys! Pernah nggak sih lagi bokek abis beli kopi kekinian aja mikir 10x, tapi demi feed Instagram tetep upload story lagi makan di resto mewah? Atau lagi sebel banget sama temen sekantor, tapi di depan dia tetap cengar-cengir kayak lagi syuting drama Korea?
Kita hidup di era di mana flexing (pamer) itu kayak napas. Pamer kekayaan, pamer kebahagiaan, bahkan sampai pamer amal ibadah. Tapi, tahukah lo? Ribuan tahun sebelum tren flexing ini ada, seorang legenda pemikir Islam, Imam Syafi'i rahimahullah, udah ngasih kode bahwa kunci kemuliaan jiwa itu justru ada di kebalikannya: low-key.
Beliau bilang gini nih:
ﺟﻮﻫﺮ ﺍﻟﻤـــــــﺮﺀ ﻓﻲ ﺛﻼﺙ: ﻛﺘﻤﺎﻥ ﺍﻟﻔـــــﻘـﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﻈﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻋﻔﺘﻚ ﺃﻧﻚ ﻏﻨﻲ، ﻭﻛﺘﻤﺎﻥ ﺍﻟﻐﻀـﺐ ﺣﺘﻰ ﻳﻈﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻔﻚ ﺭﺍﺿ، ﻭﻛﺘﻤﺎﻥ ﺍﻟﺸﺪﺓ ﺣﺘﻰ ﻳﻈﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻚ ﻣﺘﻨﻌﻢ.
"Kemuliaan jiwa seseorang ada pada tiga perkara: Menyembunyikan kefakiran hingga orang lain menyangka bahwa engkau berkecukupan, menyembunyikan kemarahan hingga orang lain menyangka bahwa engkau ridha, dan menyembunyikan penderitaan hingga orang lain menyangka bahwa engkau hidup enak."
(Manaqib asy-Syafi’i, jilid 2 hlm. 188)
Kedengarannya jadul? Eits, jangan salah. Filosofi ini justru super kekinian dan bikin mental lo jadi sekuat baja. Yuk, kita bahas satu per satu, plus dalil-dalilnya biar nggak cuma jadi teori doang.
1. Menyembunyikan Kefakiran: Bukan Bohong, Tapi Menjaga Harga Diri
Apa yang lo lakukan saat dompet lagi tipis? Mungkin ada yang langsung curhat panjang lebar di grup WA, atau bahkan memaksa diri ikut nongkrong mewah padahal uangnya cuma cukup buat bayar parkir.
Imam Syafi'i menawarkan perspektif lain: menyembunyikan kefakiran. Ini bukan berarti lo jadi pribadi yang gengsi dan tidak jujur. Intinya adalah menjaga iffah (rasa malu untuk meminta-minta) dan harga diri, sehingga orang lain menganggap lo orang yang cukup. Kenapa ini mulia?
- Melatih Syukur & Tawakal: Dengan tidak terus-menerus mengeluh tentang kekurangan, lo justru melatih diri untuk bersyukur atas apa yang ada. Lo belajar bersandar kepada Allah, bukan pada belas kasihan orang lain.
- Menghindari Riya'': Kalau lo sering cerita susah, bisa jadi saat lo dapat rezeki, orang akan menganggapnya sebagai hasil dari "keluhan" lo, bukan anugerah Allah.
Dalilnya:
Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Quran:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوٓا۟ مَنًّا وَلَآ أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"(Yaitu) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan tidak pula menyakiti (perasaan penerima), mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati."
(QS. Al-Baqarah: 262)
Ayat ini menunjukkan keutamaan untuk tidak menyebut-nyebut pemberian, yang juga berarti tidak perlu menyebut-nyebut lack atau kekurangan kita.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan-Nya."
(HR. Muslim No. 2438)
Kunci utamanya adalah qana'ah (merasa cukup). Dengan merasa cukup, meskipun secara materi pas-pasan, kita akan terlihat "kaya" di mata orang lain karena jiwa kita yang tenang.
2. Menyembunyikan Kemarahan: Superpower untuk Mengendalikan Diri
Bayangin lagi meeting, ada orang yang comment-nya bikin emosi. Atau lagi macet, ada motor nyelip bikin nyaris celaka. Dorongan pertama kita biasanya pengin marah-marah, kan?
Nah, Imam Syafi'i bilang, kemuliaan jiwa itu justru ada pada menyembunyikan kemarahan. Ini BUKAN berarti memendam amarah sampai sakit jiwa, lho ya! Tapi tentang memiliki self-control yang tinggi sehingga emosi tidak mengendalikan kita.
- Menjaga Relasi: Marah yang meledak-ledak seringkali merusak hubungan dan membuat kita menyesal belakangan.
- Tanda Kekuatan: Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Orang yang kuat bukanlah yang jago gulat, tetapi orang yang dapat menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari No. 6114 dan Muslim No. 4745). Nah, ini dia superpower-nya!
Allah memuji orang-orang yang bisa menahan amarah:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali 'Imran: 134)
Lihat nggak? Menahan amarah disejajarkan dengan kedermawanan dan dimasukkan dalam kategori al-muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) yang dicintai Allah. Keren banget, kan?
3. Menyembunyikan Kesulitan: Tetap Tersenyum di Tengah Badai
Ini mungkin yang paling berat. Saat hati lagi sedih, lagi ada masalah keluarga, atau lagi diterpa musibah, ekspektasi sosial sering memaksa kita untuk terlihat "baik-baik saja". Tapi bagi Imam Syafi'i, ini adalah seni untuk menjaga kehormatan dan tidak membebani orang lain.
- Mencegah Simpati Palsu: Tidak semua orang tulus mendengarkan keluhan kita. Kadang, dengan menyembunyikan kesulitan, kita menghindari diri dari belas kasihan yang tidak perlu atau bahkan ghibah.
- Bentuk Tawakkal yang Nyata: Dengan tidak mengeluh kepada makhluk, kita sedang melatih diri untuk hanya mengadu kepada Allah. Ini level trust issue yang positif banget!
Dalilnya:
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Meskipun hidup penuh ujian, wajah beliau selalu berseri. Bahkan, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ شَكْوَى إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْجُوعِ
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak mengeluhkan rasa laparnya kepada Rasulullah ﷺ..."
(HR. Bukhari).
Tapi, keluhan sahabat ini disampaikan kepada Rasulullah, bukan diumbar ke publik. Sementara Rasulullah sendiri, meski sering kelaparan, tetap terlihat sebagai pemimpin yang tegar di hadapan umat. Ini menunjukkan ada tempat yang tepat untuk berkeluh kesah (kepada Allah dan orang yang bisa dipercaya), bukan di ruang publik.
Seorang ulama salaf, Fudhail bin 'Iyadh, juga pernah berpesan:
« احفظ عليك لسانك ، وأستعن على دهرك بحفظك إياه »
"Jagalah lisanmu, dan mintalah pertolongan dalam menghadapi zamanmu dengan menjaganya."
(Hilyatul Auliya', 8/109).
Dengan tidak banyak mengeluh tentang zaman yang sulit, kita sebenarnya sedang menjaga lisan dan meminta pertolongan Allah dengan cara yang elegan.
Bonus Level: The Ultimate Low-Key Move, Menyembunyikan Amal Ibadah
Nah, kalau tiga hal di atas udah berat, ini ada level dewasanya: menyembunyikan amal baik. Iya, bener. Di zaman di mana challenge sedekah dan ngaji online ramai, Imam Syafi'i dan Rasulullah ﷺ justru mengajarkan kita untuk silent operation.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya adalah:
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
"Dan seseorang yang bersedekah dengan satu sedekah, lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya."
(HR. Bukhari No. 1423 dan Muslim No. 1712).
Bayangin level kerahasiaannya! Bukan cuma dari orang lain, tapi sampai tangan kirinya sendiri nggak tahu. Ini untuk menghindari penyakit hati yang paling halus: riya' (ingin dipuji).
Allah sangat mencintai amal yang sembunyi-sembunyi:
إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
"Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu."
(QS. Al-Baqarah: 271)
Jadi, sedekah terang-terangan itu baik karena bisa mengajak orang lain. Tapi yang disembunyikan itu lebih baik bagi diri lo sendiri karena lebih suci dan terjaga dari riya'.
Kesimpulan: Jadi, Lo Mau Pamer atau Mulia?
Jadi, guys, filosofi Imam Syafi'i ini bukan ajaran untuk jadi pribadi yang palsu atau hipokrit. Ini adalah seni melatih jiwa agar menjadi lebih kuat, ikhlas, dan tidak bergantung pada penilaian orang lain.
- Menyembunyikan kefakiran melatih syukur dan harga diri.
- Menyembunyikan kemarahan melatih kesabaran dan kebijaksanaan.
- Menyembunyikan kesulitan melatih ketabahan dan tawakal.
- Menyembunyikan amal melatih keikhlasan.
Di era yang serba pamer ini, menjadi orang yang low-key dan punya inner strength justru adalah sebuah kekuatan. Jadi, pilihannya ada di tangan lo: mau hidup untuk feed medsos, atau untuk membangun kemuliaan jiwa yang hakiki di mata Allah?
Yang jelas, menurut Imam Syafi'i dan ajaran Islam, low-key is the new cool.
Apa pendapat lo? Share di kolom komentar ya! 😉


Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿