Stop Cuma Duduk Dengerin! Ini Adab Khutbah Jumat Ala Nabi ﷺ yang Wajib Kamu Tahu

Ilustrasi adab khutbah Jumat ala Nabi dengan siluet jamaah kecil.
Panduan singkat adab khutbah Jumat sesuai sunnah Nabi ﷺ.

Zona "Mati" Saat Khutbah? Bukan Itu Intinya!


Hai, Sobat Muslim! Pernah gak sih, lagi duduk manis di shaf Jumat, tiba-tiba pikiran melayang ke menu makan siang? Atau jari-jari gemes pengen cek notifikasi medsos yang bergetar? Atau mungkin, kita bingung sendiri, "Sebenernya gimana sih posisi duduk yang bener pas khutbah? Boleh gak ya kayak lagi duduk di antara dua sujud?"

Tenang, kita semua mungkin pernah ngalamin ini. Tapi, sebagai Gen Z yang gaul tapi juga ingin taat, kita harus paham bahwa Jumat itu bukan sekadar rutinitas. Ia punya "VIP Pass"-nya sendiri. Dan bagian terpenting dari "VIP Pass" itu adalah khutbah.

Nah, artikel ini bakal bahas tuntas adab Nabi ﷺ ketika berkhutbah dan adab kita sebagai pendengar. Kita akan kupas habis, dari posisi duduk, larangan-larangan yang sering dianggap sepele, sampai bahasan seru tentang al-habwu (memegang lutut ke dada) yang lagi rame itu. Semua pakai dalil yang jelas, jadi kita gak asal nuduh atau ikut-ikutan tren doang.

Gaya Sang Pemimpin - Adab Nabi ﷺ Saat Berkhutbah


Nabi ﷺ itu bukan cuma penyampai pesan, beliau adalah contoh terbaik. Cara beliau berkhutbah aja udah penuh pelajaran.

Posisi Berdiri dan Tatapan yang Menyentuh Hati


Nggak kayak presenter seminar yang mondar-mandir, Nabi ﷺ berkhutbah dengan penuh wibawa dan fokus.

Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu‘anhu, beliau berkata:

كَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا، يَقْرَأُ القُرْآنَ، وَيُذَكِّرُ النَّاسَ

"Nabi ﷺ biasa menyampaikan dua khutbah, dan beliau duduk di antara kedua khutbah tersebut. Beliau membaca Al-Qur'an dan mengingatkan manusia." (HR. Muslim No. 862)

Poin Penting:

· Berdiri: Nabi ﷺ berkhutbah dalam keadaan berdiri. Ini menunjukkan keseriusan dan penghormatan terhadap momen tersebut.
· Dua Khutbah: Khutbah Jumat itu ada dua bagian, dipisahkan dengan duduk sebentar.
· Isi Khutbah: Baca Al-Qur'an dan nasihat yang mengingatkan orang pada Allah. Bukan ceramah motivasi tanpa dasar atau gossip politik.

Bahasa yang Jelas, Isinya "Ngena" Banget


Bayangkan, Nabi ﷺ berbicara dengan bahasa yang sangat jelas, sampai-sampai siapa yang menghafal khutbah beliau bisa langsung hafal. Gak pake bahasa yang berbelit-belit atau istilah-istilah sok tinggi yang bikin audien ngantuk.

Dari Aisyah radhiyallahu‘anha, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ

"Adalah Nabi ﷺ bersabda dengan suatu perkataan, seandainya ada orang yang menghitungnya, niscaya dia dapat menghitungnya (karena begitu jelas dan perlahan)." (HR. Al-Bukhari No. 3567 dan Muslim No. 2493)

Kalau Nabi aja bicaranya jelas dan gak buru-buru, masa kita dengerinnya sambil scroll feed Instagram? Ih, yang bener aja.


Mode "Silent & Serius" - Adab Kita Sebagai Pendengar Khutbah


Nah, ini nih bagian yang sering banget kita "langgar" tanpa sadar. Yuk, kita benahi pelan-pelan.

Posisi Duduk: Kayak Apa Sih yang Ideal?


Gak usah sok kreatif cari gaya duduk. Yang dituntunkan Nabi itu sederhana saja.

Dari Nu'man bin Basyir radhiyallahu‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوبِكُمْ

"Hendaklah kalian meluruskan shaf-shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan membuat perselisihan di antara hati-hati kalian." (HR. Al-Bukhari No. 717 dan Muslim No. 436)

Apa yang Dilakukan Sahabat?
Mereka duduk dengan tenang,rapatkan dan luruskan shaf. Posisi duduknya adalah duduk iftirasy (seperti duduk di antara dua sujud dalam shalat) atau duduk bersila untuk kenyamanan. Intinya, posisi yang membuat kita siap menyimak dan tidak mengganggu orang lain.

Larangan "No Play Zone": Jangan Sentuh Ini!


Ini dia zona larangan yang wajib banget kita tahu. Saat khatib naik mimbar dan muadzin selesai azan, dunia kita harus "freeze". Apa aja yang dilarang?

1. Jangan Ngobrol! Titik.
Ini yang paling utama.Bahkan, ngomong "ssst!" ke temen yang ngobol aja termasuk ngobrol.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَالإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ

"Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat, 'Diamlah!' sedangkan imam sedang berkhutbah, maka kamu telah berbuat sia-sia (laghwu)." (HR. Al-Bukhari No. 934 dan Muslim No. 851)

 Kalau mau bagi-bagi gosip atau bahas bola, kan ada grup WA. Jangan sampe pahala Jumat kita hangus karena hal sepele.

2. Jangan Main HP!
Ini musuh zaman now.Notifikasi medsos, chat dari doi, atau bahkan sekadar liat waktu aja bisa bikin konsentrasi buyar. Nonaktifkan atau silent mode HP-mu. Lebih baik lagi, taruh di tas.

3. Jangan Lewati Bahu Orang untuk Isi Shaf Depan yang Kosong?
Ini penting!Jangan memaksakan diri melewati pundak orang untuk pindah ke shaf depan saat khutbah sudah berlangsung. Itu mengganggu.

Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

...وَلاَ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

"...Dan janganlah seseorang melangkahi pundak-pundak manusia pada hari Jumat saat imam sedang berkhutbah." (HR. Abu Dawud No. 1118, dinilai shahih oleh Al-Albani)


Kontroversi "Al-Habwu": Posisi Duduk Memegang Lutut, Boleh atau Nggak?


Nah, kita masuk ke topik yang lagi rame ini. Al-habwu secara bahasa artinya "menggenggam". Dalam konteks ini, maksudnya adalah posisi duduk dengan memegang lutut dan mendekapnya ke dada, seperti posisi orang yang lagi kedinginan atau lagi setengah meringkuk.

Apa Kata Dalil?


Jadi, gini ceritanya. Ada sebuah hadits yang sering jadi rujukan:

Dari Syaqiq,dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ حَبْوَةِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

"Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang dari al-habwah pada hari Jumat saat imam sedang berkhutbah." (HR. Abu Dawud No. 1110, At-Tirmidzi No. 514)

Nah, di sini jelas ada kata "nahaa" (melarang). Tapi, kenapa banyak ulama yang tidak memaknainya sebagai larangan mutlak? Karena ada konteksnya.

Penjelasan Para Ulama: Bukan Larangan Mutlak, Tapi Makruh


Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan lainnya menjelaskan bahwa larangan ini bukan karena posisi duduknya itu haram, tapi karena:

1. Bisa Menyebabkan Tidur: Posisi meringkuk seperti itu sangat berpotensi bikin kita ngantuk dan ketiduran. Bayangin aja, khutbah yang seharusnya kita simak, malah berubah jadi ajang tidur siang. No way!
2. Menghilangkan Kekhusyukan: Posisi ini terkesan santai banget, kurang mencerminkan sikap hormat dan serius dalam mendengarkan nasihat.
3. Bisa Membatalkan Wudhu: Dalam penjelasan lain, posisi seperti ini (terutama bagi laki-laki) dikhawatirkan bisa menyebabkan sentuhan langsung pada kemaluan tanpa penghalang, yang bisa membatalkan wudhu.

Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah menyebutkan hadits ini:

"Sebagian ahli ilmu memakruhkan al-habwah (posisi memegang lutut) saat khutbah Jumat. Mereka berkata, 'Karena hal itu menyerupai duduknya orang-orang Yahudi'."

Jadi, intinya, posisi ini dimakruhkan, bukan haram. Makruh artinya lebih baik ditinggalkan. Kenapa? Karena ia bisa menjerumuskan kita pada hal-hal yang merusak kekhusyukan khutbah.

Jadi, posisi al-habwu itu bisa aja sih, legally gak dilarang keras. Tapi risikonya besar, bisa bikin "tidur" dan lupa sama kewajiban mendengar khutbah. Mending cari posisi duduk yang lebih aman dan bikin khusyuk, kayak duduk iftirasy atau bersila aja.

Nasihat Para "OG" (Ulama Salaf) Tentang Khutbah


Biar makin mantap, kita dengerin juga nasihat dari para ulama besar yang ilmunya diakui sepanjang zaman.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata dalam kitab Zadul Ma'ad:

وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخُطْبَةِ أَنْ يَقُومَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، وَيَجْلِسَ بَيْنَ الْخُطْبَتَيْنِ جِلْسَةً خَفِيفَةً

"Dan di antara petunjuk Nabi ﷺ dalam khutbah adalah beliau berdiri menghadap kiblat, dan duduk di antara dua khutbah dengan duduk yang singkat." (Zadul Ma'ad, 1/189)

Beliau berkata juga:

Nabi ﷺ apabila berkhutbah, beliau berdiri di mimbar, menghadap jamaah dengan wajahnya, memberi salam kepada mereka, lalu duduk sampai muadzin selesai azan...” (Zād al-Ma‘ād, 1/429).


Beliau menjelaskan bahwa semua tata cara Nabi ﷺ dalam khutbah adalah teladan terbaik yang penuh hikmah.

Fun fact:
Awalnya, Nabi ﷺ belum punya mimbar. Beliau berkhutbah sambil berdiri di atas batang pohon kurma (ada yang bilang batangnya ditancap di masjid, ada yang bilang di dekat mihrab lama). Saat itu posisi batang pohon kurma memang di sisi kiblat masjid, jadi otomatis beliau menghadap kiblat, sementara jamaah di belakang beliau , artinya beliau memang “membelakangi” jamaah saat khutbah.

Setelah mimbar dibuat (oleh seorang wanita Anshar yang menyuruh tukangnya membuatkannya), barulah Nabi ﷺ berdiri di atas mimbar yang menghadap ke arah jamaah, bukan lagi ke kiblat. Dan saat itulah batang pohon kurma itu menangis, kisah yang masyhur dan sahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhari, dan lainnya.

Ibnu Qayyim menjelaskan hal ini dalam Zād al-Ma‘ād (1/429):

Dahulu Rasulullah ﷺ berkhutbah berdiri di dekat batang pohon kurma yang ada di masjid. Ketika dibuatkan mimbar, beliau pun berkhutbah dari atas mimbar itu, maka batang kurma tersebut menangis rindu kepada beliau.”

Dari urutan sejarah ini, bisa disimpulkan:

Sebelum ada mimbar: Nabi ﷺ khutbah menghadap kiblat (karena posisi beliau di sisi kiblat masjid).

Setelah ada mimbar: Nabi ﷺ khutbah menghadap jamaah (karena mimbarnya menghadap ke mereka).


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menekankan pentingnya memperhatikan khutbah. Beliau berkata:

وَيَجِبُ عَلَى مَنْ حَضَرَ الْجُمُعَةَ أَنْ يَنْصِتَ لِخُطْبَةِ الإِمَامِ وَلاَ يَتَكَلَّمَ

"Wajib bagi siapa saja yang menghadiri shalat Jumat untuk diam mendengarkan khutbah imam dan tidak berbicara." (Majmu' Al-Fatawa, 24/211)

Jelas banget kan, para "OG" ini sepakat bahwa diam dan menyimak adalah kewajiban utama.

Kesimpulan: Jumat Jadi Makin Berkah, Gak Cuma Gaya Doang!


Oke, Sobat Muslim, kita sudah bahas tuntas mulai dari gaya khutbah Nabi, adab duduk kita, sampai kontroversi al-habwu. Intinya sederhana:

1. Buat Khatib: Sampaikan dengan jelas, penuh wibawa, dan berisi pengingat yang menyentuh hati, bukan sekadar kata-kata indah.
2. Buat Pendengar: Diam, duduk yang sopan, dan simak dengan serius. HP diem, mulut dikunci, hati dan telinga dibuka lebar-lebar.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9)

"Mengingat Allah" di sini mencakup mendengarkan khutbah Jumat. Jadi, khutbah adalah bagian dari "dzikir" yang diperintahkan.

Mari jadikan setiap Jumat kita lebih berkualitas. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi benar-benar meraih pahala sempurna dan hikmah dari setiap detiknya. Karena sejatinya, adab yang baik itu cerminan dari iman yang kita miliki.

Kalau nonton konser aja bisa anteng dan fokus, masa sama pesan dari Allah dan Rasul-Nya kita malah gak bisa diam? Fix, prioritas kita yang harus di-check ulang nih!

Semoga artikel ini bermanfaat. Share ke sahabat dan grup kajianmu, ya! Biar pahala Jumat kita mengalir terus.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

✍️ Tulis pendapatmu dengan niat baik dan sopan.
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿