Hai, Sobat Rebahan!
Kita hidup di era di mana ekspresi adalah segalanya. Sedih dikit, update status panjang lebar. Galau dikit, story WhatsApp berfaedah puisi penyemangat. Marah dikit, unfollow dan block mantan—eh, orang lain. Ini zaman di mana kita bebas banget ngekspresiin perasaan.
Tapi, sebagai muslim, ada aturan mainnya, lho. Islam nggak melarang kita buat sedih atau marah. Itu manusiawi banget. Namun, cara kita mengekspresikannya, itu yang bedain kita sama orang lain. Sampai-sampai, Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ, sampai bersabda dengan kalimat yang bikin merinding:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ حَلَقَ وَمَنْ سَلَقَ وَمَنْ خَرَقَ
"Bukanlah dari golonganku orang yang mencukur rambutnya, merobek bajunya, dan menjerit (ketika tertimpa musibah)." Hadits Riwayat An Nasa'i no.1863, Abu Dawud (no. 3130), ada yang mirip ini riwayat Muslim no.104,
Whoa. Hold on. "Bukanlah dari golonganku"? Itu kalimat yang keras, gaes. Bukan cuma sekadar "itu perbuatan kurang baik", tapi "itu BUKAN ciri-ciri pengikutku".
Apa sih maksudnya? Yuk, kita bedah bareng-bareng biar kita gak termasuk orang yang "dilepas" dari golongan Nabi ﷺ ini.
Musibah Itu Ujian, Bukan Alasan Buat "Syok Berat"
Sebelum kita bahas lebih dalam, kita harus sepakati dulu satu hal: Hidup ini ujian. Kayak game, ada level mudah, ada level boss fight yang bikin mau nangis bombay.
Allah sudah janji ini dalam Al-Qur'an:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)
Jadi, sedih, kecewa, hilang orang yang dicintai, itu semua adalah bagian dari game plan Allah. Tujuannya? Lihat siapa yang paling ikhlas dan sabar. Nah, di saat-saat genting inilah karakter asli seorang muslim keluar.
Tiga Tindakan "Laisa Minna" yang Wajib Kita Hindari
Nabi ﷺ menyebut tiga tindakan ekstrem yang dilakukan orang-orang jahiliyah dulu ketika dapat musibah. Mari kita kupas satu per satu dengan bahasa anak zaman now.
1. "Man Halaqa" (Mencukur Rambut)
Bayangin, zaman dulu, kalo dapat musibah kematian, ada yang sampe nyukur rambutnya sebagai tanda duka mendalam. Itu adalah simbol keputusasaan dan protes kepada takdir.
Maksud Modernnya:
Ini bukan cuma nyukur rambut doang,ya. Tapi lebih ke sikap yang merusak diri sendiri karena emosi dan putus asa. Misalnya:
· Gagal move on, terus nyukur gundul tanpa alasan syar'i, biar keliatan "hidupnya hancur".
· Stres dapat masalah, malah nyiksa diri sendiri, gak mau makan, gak mau merawat diri.
· Tindakan self-harm lainnya yang muncul dari rasa tidak terima pada takdir Allah.
Intinya, musibah apapun, jangan pernah bikin kita lupa buat menjaga dan mensyukuri jasad yang Allah kasih.
2. "Man Khalaqa" (Merobek Baju)
Ini tuh dramatisasi level dewa. Orang jahiliyah suka banget merobek-robek kerah baju atau kantongnya sambil teriak-teriak kena musibah. Itu simbol kemarahan dan kegilaan yang meluap-luap.
Maksud Modernnya:
Ini mewakilisikap melampiaskan amarah dengan merusak. Dalam versi kita sekarang:
· Marah dikit, lempar HP atau keyboard sampai pecah.
· Ngambek, merobek foto atau barang-barang pemberian mantan.
· Toxic banget sampe mukul-mukul tembok atau barang sampai rusak.
· Update status yang isinya umpatan dan cacian tanpa kontrol.
Islam ngajarin kita buat menahan amarah, bukan melampiaskannya dengan kerusakan. Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
"Orang yang kuat bukanlah yang jago gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Lihat? Kekuatan sebenarnya justru ada pada pengendalian diri.
3. "Man Kharaqa" (Menjerit atau Meratap)
Nah, ini mungkin yang paling sering kita dengar. Ratapan histeris, teriak-teriak, narik-narik pipi, sambil nyebut-nyebut "duh anakku... duh orangtuaku..." dengan cara yang berlebihan. Dalam bahasa Arab, ini disebut an-niyyahah (meratap).
Maksud Modernnya:
Ini adalahekspresi kesedihan yang berlebihan dan berisik, yang pada dasarnya adalah protes kepada Allah. Versi modernnya:
· Nangis histeris sampe sesenggukan dan bikin suasana jadi makin kacau.
· Meratap dengan kata-kata seolah-olah dunia sudah berakhir.
· Overacting di media sosial dengan caption yang dramatis banget, seakan-akan dialah orang yang paling menderita di dunia.
Perbuatan ini bukanlah ciri seorang muslim yang percaya pada takdir. Rasulullah ﷺ pernah mengatakan:
الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى
"Sabar itu (dinilai) pada saat goncangan pertama (saat musibah baru terjadi)."(Riwayat Bukhori no.1283, Muslim no. 926)
Artinya, nilai kita ada di saat pertama kali musibah menghantam. Boleh sedih, tapi jangan sampai hilang kendali.
Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan? Ini Solusi Ala Nabi!
Jadi, gimana dong cara ngeluh yang bener? Nabi ﷺ udah kasih contohnya. Kita gak disuruh bottling up emotion (menyimpan emosi), tapi disalurkan dengan cara yang benar.
1. Baca Istirja' (Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un)
Ini adalah senjata utama. Ini bukan kalimat pasrah biasa, lho. Ini adalah pengakuan bahwa kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Musibah ini adalah "kepulangan" sebagian dari apa yang Allah pinjamkan kepada kita.
لَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 156)
Dengan baca ini, hati langsung diingatkan: "Oh iya, gue cuma titipan. Yang punya mau ambil, ya harus ikhlas."
2. Bersabar dan Lihat "Side Quest"-nya
Setiap musibah punya hikmah yang gila-gilaan. Nabi ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, dan kepedihan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibah tersebut." (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Lihat nggak? Musibah itu kayak "pembersih dosa" yang gratis! Daripada kita merobek baju, mending kita lihat ini sebagai kesempatan buat upgrade pahala dan bersih-bersih dosa.
3. Berdoa dan Curhat Hanya kepada Allah
Curhat itu boleh, asal ke orang yang tepat dan nggak menjurus pada mengumpat takdir. Tapi, tempat curhat yang paling ampuh adalah kepada Allah. Dia dengar, Dia ngerti, dan Dia bisa ngubah segalanya.
Doa adalah senjata andalan. Curhatlah dengan khusyuk, adukan semua keluh kesahmu. Sebagaimana perkataan indah Ibnul Qayyim:
وَلِلَّهِ أَشْكُو بُعْدَ الْوَقْتِ عَنْ خِدْمَتِكَ وَانْشِغَالَ الْقَلْبِ عَنْ مُنَاجَاتِكَ
"Kepada-Mu lah aku mengadukan jauhnya waktuku dari mengabdi kepada-Mu, dan sibuknya hatiku dari bermunajat kepada-Mu."(Al-Wabilush Shayyib)
4. Tetap Tampil Elegan dan Bersyukur
Sabar bukan berarti mati rasa. Sedih itu wajar. Tapi, seorang muslim sejati akan tetap berusaha tampil elegan di tengah musibah. Masih bisa tersenyum, masih bisa menjaga penampilan, masih bisa beraktivitas. Karena dia tahu, musibahnya bukanlah alasan untuk mengabaikan nikmat-nikmat Allah yang lain.
Penutup: Jangan Sampai Kita "Dilepas" dari Golongan Terbaik
Jadi, Sobat Rebahan, pesan dari artikel ini sederhana: Jangan jadi orang yang "Laisa Minna".
Di era yang penuh dengan tekanan dan drama ini, jadilah muslim yang cerdas secara emosional. Yang sedihnya nggak berlebihan, marahnya nggak merusak, dan pasrahnya bukan berarti pasif.
Ketika musibah datang, ingat tiga larangan ini: Jangan rusak diri, jangan rusak barang, jangan rusak suasana dengan ratapan.
Kita inginnya, ketika kita bilang "Saya muslim", itu bukan sekadar KTP. Tapi ciri-ciri kesabaran, kelembutan, dan ketegaran kita dalam menghadapi ujian, bikin orang lain ngelihat dan berkata, "Ih, orang itu muslim banget ya, sedih-sedih masih elegan."
Mari kita buktikan bahwa kita memang benar-benar bagian dari golongan Nabi Muhammad ﷺ, baik dalam senang maupun susah.
Semoga artikel ini bermanfaat. Kalau ada yang mau ditanyakan atau ditambahin, langsung aja ke kolom komentar ya! Jangan lupa share biar temen-temen kita yang lagi galau juga dapat pencerahan.


Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿