Khutbah Jumat: Cara Menjaga Istiqamah di Tengah Fitnah Dunia

Ilustrasi khutbah Jumat tentang tanda-tanda istiqomah
Penjelasan tanda-tanda istiqomah dalam khutbah Jumat.




KHUTBAH PERTAMA

Ø§Ų„Ø­Ų…Ø¯ Ų„Ų„Ų‡ Ø§Ų„Ø°ŲŠ Ų‡Ø¯Ø§Ų†Ø§ Ų„Ų„ØĨŲŠŲ…Ø§Ų†، ŲˆŲˆŲŲ‚Ų†Ø§ Ų„Ų„Ø§ØŗØĒŲ‚Ø§Ų…ØŠ ØšŲ„Ų‰ Ø§Ų„ØˇØ§ØšØŠ، Ų†Ø­Ų…Ø¯Ų‡ Ø­Ų…Ø¯Ø§ً ؃ØĢŲŠØąØ§ً ØˇŲŠØ¨Ø§ً Ų…Ø¨Ø§ØąŲƒØ§ً ŲŲŠŲ‡ ŲƒŲ…Ø§ ŲŠØ­Ø¨ ØąØ¨Ų†Ø§ ŲˆŲŠØąØļŲ‰.
ØŖØ´Ų‡Ø¯ ØŖŲ† Ų„Ø§ ØĨŲ„Ų‡ ØĨŲ„Ø§ Ø§Ų„Ų„Ų‡ ŲˆØ­Ø¯Ų‡ Ų„Ø§ Ø´ØąŲŠŲƒ Ų„Ų‡، ŲˆØŖØ´Ų‡Ø¯ ØŖŲ† Ų…Ø­Ų…Ø¯Ø§ً ØšØ¨Ø¯Ų‡ ŲˆØąØŗŲˆŲ„Ų‡، ØĩŲ„Ų‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡ ØšŲ„ŲŠŲ‡ ŲˆØšŲ„Ų‰ ØĸŲ„Ų‡ ؈ØĩØ­Ø¨Ų‡ ŲˆŲ…Ų† ØĒØ¨ØšŲ‡Ų… بØĨØ­ØŗØ§Ų† ØĨŲ„Ų‰ ŲŠŲˆŲ… Ø§Ų„Ø¯ŲŠŲ†.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Coba kita bayangkan seseorang yang setiap pagi selalu datang ke masjid, duduk di saf pertama, wajahnya tenang, suaranya lembut. Tapi suatu hari, dia berhenti datang. Seminggu, dua minggu, sebulan… hilang. Ketika ditanya, ia berkata, “Aku lagi capek.”
Begitulah, saudara-saudara—istiqomah itu bukan tentang kuat di awal, tapi tentang bertahan sampai akhir.

Karena banyak yang semangat di awal, namun futur di tengah jalan. Nabi īˇē sudah mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah bukan yang paling banyak, tapi yang paling terus menerus.

Rasulullah īˇē bersabda:

«ØŖَØ­َبُّ Ø§Ų„ØŖَØšْŲ…َØ§Ų„ِ ØĨِŲ„َŲ‰ Ø§Ų„Ų„َّŲ‡ِ ØŖَدْ؈َŲ…ُŲ‡َا ؈َØĨِŲ†ْ Ų‚َŲ„َّ» 

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Istiqomah itu seperti mata air di gunung. Tidak deras, tapi tidak pernah berhenti. Ia mungkin kecil, tapi menghidupi banyak hal di sekitarnya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Istiqomah itu mahal karena dia bukan hasil dari satu tindakan, tapi dari perjuangan hati setiap hari.
Ada satu kisah menarik. Seorang sahabat datang kepada Rasulullah īˇē dan berkata:
"Wahai Rasulullah, katakan padaku satu perkataan tentang Islam yang aku tidak akan bertanya lagi kepada siapa pun setelahmu."

Nabi īˇē menjawab singkat namun menghantam ke dalam dada:

Ų‚ُŲ„ْ ØĸŲ…َŲ†ْØĒُ بِØ§Ų„Ų„َّŲ‡ِ ØĢُŲ…َّ Ø§ØŗْØĒَŲ‚ِŲ…ْ 

“Katakan: Aku beriman kepada Allah, lalu beristiqomahlah.”
(HR. Muslim)

Singkat. Tapi itu inti hidup.
Mengucapkan “Aku beriman” itu mudah. Tapi istiqomah? Itu perjuangan. Karena setan tidak iri dengan orang yang baru taubat, tapi dia panik dengan orang yang tetap taat setelah taubatnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bagaimana kita tahu bahwa kita termasuk orang yang istiqomah?
Ulama menyebut ada beberapa tanda-tanda istiqomah:

  1. Hatinya tenang di atas ketaatan.
    Ia tidak lagi mencari alasan untuk menunda ibadah. Ia justru gelisah kalau jauh dari Allah.
    Allah berfirman:

    ØĨِŲ†َّ Ø§Ų„َّذِŲŠŲ†َ Ų‚َØ§Ų„ُŲˆØ§ ØąَبُّŲ†َا Ø§Ų„Ų„َّŲ‡ُ ØĢُŲ…َّ Ø§ØŗْØĒَŲ‚َØ§Ų…ُŲˆØ§ ØĒَØĒَŲ†َØ˛َّŲ„ُ ØšَŲ„َ؊ْŲ‡ِŲ…ُ Ø§Ų„ْŲ…َŲ„َاØĻِ؃َØŠُ

    “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat turun kepada mereka...”
    (QS. Fussilat: 30)

    Malaikat turun bukan hanya di waktu sakaratul maut, tapi juga dalam kehidupan: meneguhkan hati, menenangkan langkah.

  2. Tidak tergoda oleh pujian, tidak runtuh oleh hinaan.
    Orang istiqomah itu tidak berubah karena komentar manusia.
    Kalau orang lain memuji, dia tidak tinggi hati. Kalau dicaci, dia tidak berhenti.
    Sebab yang ia cari bukan tepuk tangan manusia, tapi ridha Allah.

  3. Konsisten di amal kecil, bukan hanya ketika ramai.
    Shalat malam satu rakaat pun, tapi rutin. Sedekah seribu rupiah pun, tapi terus.
    Karena Allah melihat ketulusan, bukan besarnya jumlah.

Ma’asyiral Muslimin, a'azzakumullah

Istiqomah itu seperti berlari maraton, bukan sprint.
Kita tidak butuh cepat, tapi butuh tetap di jalan sampai garis akhir.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Istiqomah adalah jalan menuju Allah tanpa menoleh ke kanan atau kiri.”
Artinya, terus maju meski dunia menawari seribu jalan pintas.

Kadang istiqomah itu berat.
Tapi kalau Allah lihat kita terus berusaha, Dia akan turunkan pertolongan yang tak pernah kita sangka.

KHUTBAH KEDUA

 Ø§Ų„Ø­Ų…Ø¯ Ų„Ų„Ų‡، Ų†Ø­Ų…Ø¯Ų‡ ŲˆŲ†ØŗØĒØšŲŠŲ†Ų‡ ŲˆŲ†ØŗØĒØēŲØąŲ‡، ŲˆŲ†ØšŲˆØ° Ø¨Ø§Ų„Ų„Ų‡ Ų…Ų† Ø´ØąŲˆØą ØŖŲ†ŲØŗŲ†Ø§ ŲˆŲ…Ų† ØŗŲŠØĻاØĒ ØŖØšŲ…Ø§Ų„Ų†Ø§.  ØŖØ´Ų‡Ø¯ ØŖŲ† Ų„Ø§ ØĨŲ„Ų‡ ØĨŲ„Ø§ Ø§Ų„Ų„Ų‡ ŲˆØ­Ø¯Ų‡ Ų„Ø§ Ø´ØąŲŠŲƒ Ų„Ų‡، ŲˆØŖØ´Ų‡Ø¯ ØŖŲ† Ų…Ø­Ų…Ø¯Ø§ً ØšØ¨Ø¯Ų‡ ŲˆØąØŗŲˆŲ„Ų‡، ØĩŲ„Ų‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡ ØšŲ„ŲŠŲ‡ ŲˆØšŲ„Ų‰ ØĸŲ„Ų‡ ؈ØĩØ­Ø¨Ų‡ ŲˆŲ…Ų† ØĒØ¨ØšŲ‡Ų… بØĨØ­ØŗØ§Ų† ØĨŲ„Ų‰ ŲŠŲˆŲ… Ø§Ų„Ø¯ŲŠŲ†.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Istiqomah tidak berarti tanpa dosa. Tapi orang yang istiqomah tidak nyaman di dalam dosa.
Ia segera kembali. Ia cepat sadar.
Allah tidak menuntut kita untuk selalu sempurna, tapi untuk selalu kembali kepada-Nya.

Maka, ketika kamu merasa lelah dalam ketaatan, ingat: bahkan Rasulullah īˇē pun berdoa agar diberi keteguhan hati.

؊َا Ų…ُŲ‚َŲ„ِّبَ Ø§Ų„ْŲ‚ُŲ„ُŲˆØ¨ِ ØĢَبِّØĒْ Ų‚َŲ„ْبِ؊ ØšَŲ„َŲ‰ دِŲŠŲ†ِ؃َ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)

Jika Nabi yang ma’shum saja memohon istiqomah, apalagi kita yang penuh cela.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari jaga istiqomah ini bersama:

  • Istiqomah di shalat lima waktu.
  • Istiqomah dalam menahan lisan dari ghibah.
  • Istiqomah dalam menundukkan pandangan.
  • Dan istiqomah dalam memperbaiki diri setiap hari, walau perlahan.

Karena tidak ada perjalanan yang lebih indah selain terus berjalan menuju Allah.

اَŲ„Ų„َّŲ‡ُŲ…َّ ØĩَŲ„ِّ ØšَŲ„َŲ‰ Ų…ُØ­َŲ…َّدٍ ؈َØšَŲ„َŲ‰ ØĸŲ„ِ Ų…ُØ­َŲ…َّدٍ ؃َŲ…َا ØĩَŲ„َّ؊ْØĒَ ØšَŲ„َŲ‰ ØĨِبْØąَØ§Ų‡ِ؊ْŲ…َ ؈َØšَŲ„َŲ‰ ØĸŲ„ِ ØĨِبْØąَØ§Ų‡ِ؊ْŲ…َ، ØĨِŲ†َّ؃َ Ø­َŲ…ِ؊ْدٌ Ų…َØŦِ؊ْدٌ. ؈َبَØ§Øąِ؃ْ ØšَŲ„َŲ‰ Ų…ُØ­َŲ…َّدٍ ؈َØšَŲ„َŲ‰ ØĸŲ„ِ Ų…ُØ­َŲ…َّدٍ ؃َŲ…َا بَØ§Øąَ؃ْØĒَ ØšَŲ„َŲ‰ ØĨِبْØąَØ§Ų‡ِ؊ْŲ…َ ؈َØšَŲ„َŲ‰ ØĸŲ„ِ ØĨِبْØąَØ§Ų‡ِ؊ْŲ…َ، ØĨِŲ†َّ؃َ Ø­َŲ…ِ؊ْدٌ Ų…َØŦِ؊ْدٌ

Ø§Ų„Ų„Ų‡ُŲ…َّ اØēْ؁ِØąْ Ų„ِŲ„ْŲ…ُØŗْŲ„ِŲ…ِ؊ْŲ†َ ؈َØ§Ų„Ų…ØŗْŲ„ِŲ…َاØĒِ ؈َØ§Ų„Ų…Ø¤ْŲ…ِŲ†ِ؊ْŲ†َ ؈َØ§Ų„Ų…Ø¤ْŲ…ِŲ†َاØĒِ Ø§Ų„ØŖَØ­ْ؊َØ§ØĄِ Ų…ِŲ†ْŲ‡ُŲ…ْ ؈َØ§Ų„ØŖَŲ…ْ؈َاØĒِ ØĨِŲ†َّ؃َ ØŗَŲ…ِ؊ْØšٌ Ų‚َØąِ؊ْبٌ Ų…ُØŦِ؊ْبُ Ø§Ų„Ø¯َّØšْ؈َØŠِ

ØąَبَّŲ†َا Ų„َا ØĒُØ˛ِØēْ Ų‚ُŲ„ُŲˆØ¨َŲ†َا بَØšْدَ ØĨِذْ Ų‡َدَ؊ْØĒَŲ†َا ؈َŲ‡َبْ Ų„َŲ†َا Ų…ِŲ†ْ Ų„َدُŲ†ْ؃َ ØąَØ­ْŲ…َØŠً ØĨِŲ†َّ؃َ ØŖَŲ†ْØĒَ Ø§Ų„ْ؈َŲ‡َّابُ

Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų… اØŦØšŲ„Ų†Ø§ Ų…Ų† Ø§Ų„Ø°ŲŠŲ† Ų‚Ø§Ų„ŲˆØ§ ØąØ¨Ų†Ø§ Ø§Ų„Ų„Ų‡ ØĢŲ… Ø§ØŗØĒŲ‚Ø§Ų…ŲˆØ§، ؈ØĢبØĒŲ†Ø§ ØšŲ„Ų‰ ØˇØ§ØšØĒ؃ Ø­ØĒŲ‰ Ų†Ų„Ų‚Ø§Ųƒ ŲˆØŖŲ†ØĒ ØąØ§Øļٍ ØšŲ†Ø§.
Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų… ØĩŲ„ ŲˆØŗŲ„Ų… ŲˆØ¨Ø§ØąŲƒ ØšŲ„Ų‰ Ų†Ø¨ŲŠŲ†Ø§ Ų…Ø­Ų…Ø¯، ŲˆØšŲ„Ų‰ ØĸŲ„Ų‡ ؈ØĩØ­Ø¨Ų‡ ØŖØŦŲ…ØšŲŠŲ†.

Ø§Ų„Ų„َّŲ‡ُŲ…َّ ØĨِŲ†َّا Ų†َØŗْØŖَŲ„ُ؃َ Ø§Ų„Ų‡ُدَŲ‰ ؈َØ§Ų„ØĒُّŲ‚َŲ‰ ؈َØ§Ų„Øšَ؁َØ§Ųَ ؈َØ§Ų„ØēِŲ†َŲ‰

Ø§Ų„Ų„َّŲ‡ُŲ…َّ ØŖَØ­ْØŗِŲ†ْ ØšَØ§Ų‚ِبَØĒَŲ†َا ؁ِŲ‰ Ø§Ų„ØŖُŲ…ُŲˆØąِ ؃ُŲ„ِّŲ‡َا ؈َØŖَØŦِØąْŲ†َا Ų…ِŲ†ْ ØŽِØ˛ْŲ‰ِ Ø§Ų„Ø¯ُّŲ†ْ؊َا ؈َØšَذَابِ Ø§Ų„ØĸØŽِØąَØŠِ

اَŲ„Ų„َّŲ‡ُŲ…َّ ØŖَØĩْŲ„ِØ­ْ ؈ُŲ„َا؊َ ØŖُŲ…ُ؈ْØąِŲ†َا، اَŲ„Ų„َّŲ‡ُŲ…َّ ؈َ؁ِّŲ‚ْŲ‡ُŲ…ْ Ų„ِŲ…َا ؁ِ؊ْŲ‡ِ ØĩَŲ„َاحُŲ‡ُŲ…ْ ؈َØĩَŲ„َاحُ اْŲ„ØĨِØŗْŲ„َØ§Ų…ِ ؈َØ§Ų„ْŲ…ُØŗْŲ„ِŲ…ِ؊ْŲ†َ اَŲ„Ų„َّŲ‡ُŲ…َّ ØŖَبْØšِدْ ØšَŲ†ْŲ‡ُŲ…ْ بِØˇَØ§Ų†َØŠَ Ø§Ų„Øŗُّ؈ْØĄِ ؈َØ§Ų„ْŲ…ُ؁ْØŗِدِ؊ْŲ†َ ؈َŲ‚َØąِّبْ ØĨِŲ„َ؊ْŲ‡ِŲ…ْ ØŖَŲ‡ْŲ„َ Ø§Ų„ْØŽَ؊ْØąِ ؈َØ§Ų„Ų†َّاØĩِØ­ِ؊ْŲ†َ ؊َا Øąَبَّ Ø§Ų„ْØšَØ§Ų„َŲ…ِ؊ْŲ†َ

ØąَبَّŲ†َا Ų‡َبْ Ų„َŲ†َا Ų…ِŲ†ْ ØŖَØ˛ْ؈َاØŦِŲ†َا ؈َذُØąِّ؊َّاØĒِŲ†َا Ų‚ُØąَّØŠَ ØŖَØšْ؊ُŲ†ٍ ؈َاØŦْØšَŲ„ْŲ†َا Ų„ِŲ„ْŲ…ُØĒَّŲ‚ِŲŠŲ†َ ØĨِŲ…َØ§Ų…ًا

ØąَبَّŲ†َا ØĸØĒِŲ†َا ؁ِ؊ Ø§Ų„Ø¯ُّŲ†ْ؊َا Ø­َØŗَŲ†َØŠً ؈َ؁ِ؊ Ø§Ų„ْØĸØŽِØąَØŠِ Ø­َØŗَŲ†َØŠً ؈َŲ‚ِŲ†َا Øšَذَابَ Ø§Ų„Ų†َّØ§Øąِ

؈َØĩَŲ„َّŲ‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡ُ ØšَŲ„َŲ‰ Ų†َبِ؊ِّŲ†َا Ų…ُØ­َŲ…َّدٍ ؈َØšَŲ„َŲ‰ ØĸŲ„ِŲ‡ِ ؈َØĩَØ­ْبِŲ‡ِ ŲˆŲ…َŲ†ْ ØĒَبِØšَŲ‡ُŲ…ْ بِØĨِØ­ْØŗَØ§Ų†ٍ ØĨِŲ„َŲ‰ ؊َ؈ْŲ…ِ Ø§Ų„Ø¯ّ؊ْŲ†

؈َØĸØŽِØąُ دَØšْ؈َØ§Ų†َا ØŖَŲ†ِ Ø§Ų„ْØ­َŲ…ْدُ Ų„Ų„Ų‡ Øąَبِّ Ø§Ų„ْØšَØ§Ų„َŲ…ِ؊ْŲ†َ

Posting Komentar

🌙 alwansiy ☯ Tempat Artikel Berisi Ilmu & Nasihat dari Kisah Dan Sejarah Islam.