Loyal Gue Buat Islam, Bukan Buat Perayaan Agama Lain

Poster islami gaya Gen Z bertema loyalitas kepada Islam, pesan agar tidak ikut perayaan agama lain.
Tetap loyal ke Islam, gak perlu ikut vibes lain.


Hai, guys! Pernah nggak sih lo dapet pertanyaan kayak gini, “Eh, lo kan muslim, kenapa sih nggak mau ngucapin selamat Natal? Kan cuma basa-basi, nggak nyembah-nyembah.”

Atau mungkin lihat di timeline medsos, banyak temen yang ikutan countdown tahun baru Masehi dengan gaya yang over the top banget sampai mirip perayaan agama tertentu?

Nah, di akhir tahun yang penuh dengan euforia seperti ini, sebagai muslim kadang kita dihadapkan pada situasi yang bikin galau. Di satu sisi, pengen gaul dan nggak dicap eksklusif. Di sisi lain, ada suara hati kecil yang ngebisikin, “Wait, ini bener sesuai sama prinsip gue sebagai muslim nggak, sih?”

Tenang, perasaan bingung itu wajar banget. Tapi, biar nggak galau berkepanjangan, yuk kita kulik dalil-dalil dan penjelasan ulama soal prinsip AL-WALA’ WAL BARA’ – alias SIAPAKAH YANG HARUS KITA SETIAI DAN SIAPA YANG HARUS KITA JAUHI.

Ini bukan soal benci-bencian, tapi soal prinsip hidup kita sebagai muslim. Let’s get started!

Apa Itu Al-Wala’ wal Bara’? Bukan Sekadar “Gak Suka”


Sebelum kita bahas lebih dalam, kita perlu paham dulu konsepnya. Al-Wala’ artinya loyalitas, cinta, setia, dan dukungan total. Sementara Al-Bara’ artinya berlepas diri, memusuhi, dan menjauhi.

Dalam konteks akidah, prinsip ini intinya adalah:

· Al-Wala’: Kita wajib memberikan loyalitas dan kecintaan penuh hanya kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
· Al-Bara’: Kita wajib berlepas diri dari segala sesuatu yang disembah selain Allah, para penyembahnya, dan segala bentuk kekufuran serta kemaksiatan.

Ini adalah paket lengkap yang nggak bisa dipisah. Kalo kita ngaku cinta sama Allah, ya otomatis kita harus menjauhi segala sesuatu yang dibenci-Nya.

Seorang ulama besar, Imam Al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah, ngasih nasihat yang super jelas:

أَنَّ مَن أَطَاعَ الرَّسُولَ وَوَحَّدَ اللَّهَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُوَالَاةُ مَن حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَو كَانَ أَقرَبَ قَرِيبٍ

Barangsiapa yang mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mentauhidkan Allah, maka tidak boleh baginya untuk berwala’ (berkasih sayang) kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya.” (Kitab Tsalatsah Al-Ushul)

Baca baik-baik, ya. “Walau kerabat dekat sekalipun.” Jadi, ini soal prinsip yang lebih tinggi dari segalanya.

Dalil “Pedes” dari Al-Qur’an yang Bikin Merinding


Nah, buat lo yang masih mikir, “Ah, masa sih segitunya?” Allah udah kasih jawaban yang super tegas dalam Al-Qur’an. Ayat ini tuh bikin merinding dan ngingetin kita buat nggak main-main dalam urusan loyalitas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ، أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ، وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، أُولَئِكَ حِزْبُ اللهِ، أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 22)

Coba renungkan. Ayat ini nggak main-main. Orang yang imannya udah mantap, nggak mungkin dia bisa “mesra” secara akidah dengan orang yang jelas-jelas memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Loyalitas kita 100% buat Hizbullah (Golongan Allah).

Ibnu Katsir, pakar tafsir ternama, nerangin dalam kitabnya: “Orang-orang beriman tidaklah mencintai orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim)

Bayangkan, dalam sejarah Perang Badar, sahabat-sahabat seperti Abu ‘Ubaidah sampai harus berhadapan dan membunuh ayah kandungnya sendiri yang musyrik. Itu bukan karena benci, tapi karena LOYALITAS TERTINGGI HANYA UNTUK ALLAH.

Tasyabbuh: Janganlah Lo Jadi “Bajak Laut Kardus”


Sekarang kita masuk ke hal yang lebih praktis dan sering banget kita lihat: TASYABBUH.

Apa sih tasyabbuh? Secara sederhana, tasyabbuh itu kayak “jiplakan gaya”. Lo niru-niru gaya orang atau kelompok lain sampai lo keliatan jadi bagian dari mereka.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin nerangin dengan gamblang: “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Analoginya gini: kalo lo pake kostum bajak laut lengkap dengan pedang mainan, orang mungkin cuma ketawa. Tapi kalo lo pake seragam polisi palsu dan coba ngatur lalu lintas, ya itu bahaya banget! Lo udah menyerupai sesuatu yang bukan hak lo.

Nah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam udah kasih warning yang super jelas lewat sabdanya:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan sanadnya bagus)

Hadits ini PUNCHLINE-nya pedes banget! Nggak tanggung-tanggung, konsekuensinya adalah kita dianggap “bagian dari mereka”.

Kenapa bahaya? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ngasih penjelasan yang dalem: “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin.” (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim)

Jadi, awalnya cuma ikut-ikutan gaya, lama-lama hati kita jadi simpati, lalu loyal. Itu proses yang halus banget, guys. Makanya Islam ngelarang dari akarnya.

Aplikasinya di Akhir Tahun:


· Ikutan pake topi Sinterklas? Itu adalah simbol khas perayaan Natal.
· Hias pohon Natal di rumah? Same thing.
· Ikutan ritual countdown ala festival tertentu yang bernuansa agama? Hati-hati, itu bisa masuk tasyabbuh.

Prinsipnya: kita punya identitas sendiri. Idul Fitri dan Idul Adha adalah hari raya kita yang jauh lebih bermakna. Jangan sampe kita jadi rendah diri dan merasa ketinggalan zaman karena nggak ikut-ikutan trend perayaan agama lain.

Ucapan Selamat ke Non-Muslim: “Innocent Gesture” atau Pelanggaran Prinsip?


Nah, ini nih yang paling sering jadi perdebatan. “Cuma ngucapin ‘Selamat Natal’ doang, kok dilarang? Kan nggak ikut misa.”

Mari kita lihat dari kacamata ulama. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah – murid kesayangan Ibnu Taimiyyah – ngasih statement yang tegas:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بَشِعَائِرِ الكُفْرِ المخْتَصَةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالاتِّفَاقِ

Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Ahkam Ahli Adz Dzimmah)

Jadi, para ulama sepakat (IJMA’) bahwa ngucapin selamat atas ritual kekufuran yang jadi ciri khas suatu agama itu HARAM. Kenapa?

1. Karena itu bentuk persetujuan. Dengan lo ngucapin selamat, secara implisit lo ngasih sinyal bahwa lo setuju dan senang dengan ritual penyembahan selain Allah yang mereka lakukan.
 
2. Itu adalah syi’ar agama mereka. Natal, bagi Nashrani, bukan cuma pesta biasa. Itu adalah perayaan keyakinan bahwa Isa adalah Tuhan. Sedangkan kita sebagai muslim percaya Isa adalah Nabi, dan keyakinan Trinitas adalah kesyirikan yang paling besar. Allah berfirman:
 
     لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
   
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”.” (QS. Al-Maidah: 72)
   Gimana mungkin kita ngucapin selamat untuk perayaan yang esensinya adalah mengagungkan keyakinan yang kita anggap kufur?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ngasih guidance yang praktis:

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim)

Nah, “salam” di sini artinya mendoakan keselamatan. Kalo kita pikir, ngucapin “Selamat Natal” kan sama aja mendoakan agar hari raya mereka diberkahi dan diselamatkan. Lah, kita aja dilarang mendahului ngucapin “Assalamu’alaikum” yang artinya “Semoga keselamatan untukmu”, apalagi ngucapin selamat untuk ritual kekufuran mereka?

Prinsip Hidup Kita: “You Do You, I Do Me” ala Quran


Ini nih prinsip yang keren banget yang diajarin Al-Qur’an. Bukan berarti kita sombong atau nggak mau berteman, tapi kita punya batasan yang jelas dalam hal akidah.

Allah ngajarin kita untuk berkata:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al-Isra’: 84)

أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al-Qashash: 55)

Prinsip “You do you, I do me” ini justru adil dan menghindari konflik. Kita nggak memaksa mereka, dan kita juga minta hak untuk nggak dipaksa. Kita tetep bisa interaksi dalam urusan duniawi (jual-beli, kerja sama, dll) dengan adil dan baik, tapi dalam urusan akidah dan ibadah, WE MIND OUR OWN BUSINESS.

Kesimpulan dan Action Plan Buat Kita


Jadi, setelah bahas panjang lebar, ini kesimpulan dan yang bisa kita terapkan:

1. Loyalitas itu Mahal. Jangan dikasih ke sembarang orang. Loyalitas tertinggi kita cuma buat Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Prinsip Al-Wala’ wal Bara’ adalah pondasi akidah, bukan sentimentil.
 
2. Jangan Ikut-Ikutan Gaya (Tasyabbuh). Kita punya identitas sebagai muslim. Bangga dengan jati diri kita. Idul Fitri dan Idul Adha adalah hadiah terindah dari Allah, seperti dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Ahmad. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sampai nulis dalam kitab monumentalnya, Fathul Bari, bahwa merayakan hari raya orang musyrik itu dilarang. Beliau bahkan nyebut ada ulama (Abu Hafsh An-Nasafi) yang bilang, “Siapa yang menghadiahkan sebutir telur kepada orang musyrik pada hari raya mereka karena mengagungkan hari tersebut, maka dia telah kafir.” (Fath Al-Bari). Ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.
 
3. Stop Ucapan Selamat untuk Perayaan Agama Lain. Itu bukan basa-basi, tapi bentuk persetujuan terhadap syi’ar kekufuran. Kita tetap bisa bersikap sopan dan baik tanpa harus melanggar prinsip agama.
 
4. Hidup Damai Tapi Berprinsip. Kita nggak musuhi orang secara personal. Kita tetap berbuat baik kepada semua orang, tapi dalam hal akidah dan ibadah, kita berlepas diri. Prinsip “Lakum dinukum waliya din” adalah kunci hidup rukun dalam perbedaan.

Jadi, lain kali ada yang tanya, “Kenapa sih muslim nggak boleh ikutan ginian?” Lo udah punya amunisinya. Jelaskan dengan baik, santun, tapi tetap pada prinsip.

Ini semua demi menjaga kemurnian iman kita. Iman itu mahal, guys. Jangan sampe kita tukar dengan “basabasi” atau “ikut-ikutan” yang ujung-ujungnya bikin nilai iman kita anjlok.

Semoga kita semua termasuk dalam Hizbullah, golongan Allah yang dijanjikan keberuntungan. Aamiin.

Jangan lupa share artikel ini ke temen-temen lo yang lain biar pada paham dan stop the galau!......

Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama