![]() |
Nasihat Nabi ﷺ untuk anak muda di era penuh hoax. |
When the Prophet's Words Feel Like a Twitter Trend
Bro, sis, coba deh kita liat sekeliling. Scroll timeline medsos, buka grup WhatsApp, atau dengerin obrolan di warung kopi. Rasanya kayak lagi nonton film dystopian yang terlalu absurd buat jadi fiksi.
· Selebgram yang jualan produk abal-abal dipuja kayak pahlawan.
· Pakar yang ngomong berdasarkan data malah dicancel.
· Politikus korup dielu-eluin, sementara aktivis yang beneran kerja malah dibully.
· Dan yang paling bikin geleng-geleng: orang-orang yang kemarin cuma jualan pulsa di pinggir jalan, tiba-tiba jadi "expert" urusan geopolitik dan vaksin, dengan follower ratusan ribu.
Ngerasa familiar? Tenang, kamu nggak sendirian. Rasanya dunia lagi pada silly mode. Tapi yang bikin merinding, semua chaos ini udah diprediksi sama Nabi kita, Muhammad ﷺ, 14 abad yang lalu. Seriously, gak bohong.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أْمُرِ الْعَامَّةِ
Artinya: "Akan datang tahun-tahun penuh dengan kebohongan yang menimpa manusia. Para pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, amanah diberikan kepada pengkhianat, orang jujur dikhianati. Dan para 'Ruwaibidhah' tampil berperan dan turut berbicara." Rasulullah ditanya: "Siapakah Ruwaibidhah itu?" Rasulullah ﷺ menjelaskan: "Orang bodoh lagi hina yang mengurusi urusan orang banyak." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani)
Nah, mari kita bedah satu per satu fenomena "zaman edan" ini, biar kita gak kecele dan bisa jadi agen penebar kebenaran di tengah badai hoax.
Deconstructing the "Khadda'aat": Zaman di mana Realitas Dibalik
Kata "خَدَّاعَاتُ" (khadda'aat) itu berasal dari akar kata yang artinya menipu, memperdaya. Ini bukan kebohongan biasa, tapi kebohongan yang makeup-nya cantik banget sampe susah dibedain mana yang asli dan palsu. Kayak filter IG yang bikin kulit mulus tanpa pori-pori, padahal aslinya... yaudah lah.
Nah, Rasulullah ﷺ merincikan beberapa gejala utamanya:
1. Si Pembohong Dipercaya, Si Jujur Dicuekin
Kita sering liat kan? Akun-akun buzzer yang nyebarin hoax demi duit atau politik, follower-nya jutaan dan kata-katanya dianggap wahyu baru. Sementara ilmuwan atau kiyai yang jelasin berdasarkan data dan dalil, malah di-bully dan dituduh sebagai "agen asing" atau "kaum kuno".
Ini udah diingetin sama Allah dalam Al-Qur'an:
وَيْلٌ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ . يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَىٰ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya: "Kecelakaan besarlah bagi setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, kemudian dia tetap menyombongkan diri seolah-olah dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih." (QS. Al-Jatsiyah: 7-8)
Jadi, jangan heran kalo kebenaran kadang sepi likes. Tugas kita adalah tetap menyuarakannya, karena nilai sebuah perkataan bukan di trending topic, tapi di kebenaran yang dikandungnya.
2. Pengkhianat Dikasih Amanah, Orang Amanah Dikhianatin
Ini tuh klasik banget. Kayak kasus koruptor yang malah dijadiin kepala proyek, atau influencer yang ketauan scam tapi tetep aja dikasih endorse-an. Sementara orang kecil yang jujur ngembalin dompet berisi uang jutaan, malah dicurigai mau cari popularitas.
Rasulullah ﷺ sangat menekankan tentang amanah:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ إِلَّا قَالَ: لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
Artinya: "Dari Anas bin Malik ia berkata: 'Tidaklah Nabi Allah ﷺ berkhutbah kepada kami melainkan beliau bersabda: 'Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.'" (HR. Ahmad, shahih)
Jadi, ketika amanah disia-siakan, itu adalah pertanda rapuhnya iman secara kolektif. Bukan cuma di level pejabat, tapi juga dalam urusan kita sehari-hari.
Meet the "Ruwaibidhah": Si Tukang OOT yang Sok Tajir
Ini nih bintang utama di zaman khadda'aat. Ruwaibidhah.
Apa sih Ruwaibidhah? Nabi ﷺ jelasin dengan singkat dan ngena: "Ar-rajul at-taafihu fii amril 'aammah." – "Orang bodoh lagi hina yang mengurusi urusan orang banyak."
Mari kita urai kata-katanya biar makin greget:
· At-Taafih (التَّافِهُ): Ini artinya remeh, hina, dangkal, kayak orang yang omongannya nggak berbobot. Pikirannya cetek, pengetahuannya seujung kuku, tapi confidence-nya sebesar gunung. Big ego, small brain.
· Fii Amril 'Aammah (فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ): Yang bikin bahaya, dia ini bukan cuma ngurusin urusan privatnya. Tapi dia nyemplung dan ngomongin urusan publik yang dampaknya luas. Mulai dari urusan kesehatan, ekonomi, sampai politik internasional.
Jadi, Ruwaibidhah itu bukan orang miskin atau orang biasa. Tapi siapapun yang pengetahuannya dangkal tapi sok jadi pemimpin opini publik. Bisa jadi dia youtuber, admin grup Facebook, atau bahkan pejabat yang ngomong tanpa data.
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah ngasih nasihat yang bikin kita melek:
"من أطلق لسانه في كل شيء .. كثر غلطه"
Artinya: "Barangsiapa yang melontarkan lisannya pada segala sesuatu (tanpa ilmu), maka akan banyak kesalahannya." (Shaidul Khathir, hlm. 124)
Punchline-nya: Jadi, sebelum kita share info atau ngomong panjang lebar di medsos, tanya diri sendiri: "Aku ini lagi jadi penyampai kebenaran, atau lagi jadi Ruwaibidhah berjalan?"
Survival Kit : Gimana Caranya Tetap Waras di Zaman Silly?
Jangan panik! Meski zamannya udah kayak gini, kita punya "survival kit" dari Allah dan Rasul-Nya biar tetep waras dan di jalan yang lurus.
1. Upgrade Ilmu, Jangan Cuma Upgrade Filter
Ini solusi utama. Kebodohan (taafih) cuma bisa dilawan dengan ilmu. Bukan cuma ilmu agama, tapi juga ilmu umum yang bikin kita melek data dan logika.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: "Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" (QS. Az-Zumar: 9)
Jadi, jangan malas baca, ikuti kajian yang valid, dan dalami ilmu sebelum ngomong. Biar medsosmu dipenuhi ilmu, bukan cuma story kopi dan aesthetic.
2. Verifikasi, Jangan Asal Share (Tabayyun)
Ini prinsip dasar Islam yang sangat relevan di era digital.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Tips praktis: Sebelum pencet tombol "share", tanya: Sumbernya dari mana? Bukan cuma "katanya si A". Cek ke situs berita terpercaya atau tanya langsung pada ahlinya.
3. Jaga Lisan dan Jari (Hifzhul Lisaan wal Ashaabi')
Setiap kata yang kita ketik di medsos itu akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)
Jari kita itu amanah. Jangan sampai jadi alat untuk menyebar kebencian, ghibah, dan hoax. Think before you click.
4. Cari Komunitas yang Baik (Shuhbah Shalihah)
Kita adalah cerminan dari orang-orang di sekitar kita. Kalau kita dikelilingi oleh para Ruwaibidhah yang isi obrolannya cuma gosip dan hoax, lama-lama kita bisa ketularan.
Imam Syafi'i rahimahullah bilang:
"كونوا عباد الله إخوانا .. واصبروا إن الصبر من إيمان"
(الديوان)
Artinya: "Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.. dan bersabarlah, karena sesungguhnya kesabaran adalah bagian dari iman."
Cari teman-teman yang bisa ngasih reminder ketika kita salah, dan saling menyemangati dalam kebaikan. Biar feed medsomu penuh dengan konten yang mencerahkan.
Penutup: Jadi Player, Bukan Penonton
Zaman ini emang penuh ujian. Tapi, di tengah maraknya para pendusta dan Ruwaibidhah, justru di situlah peluang kita bersinar. Kita bisa memilih: ikut-ikutan silly mode, atau jadi generasi yang bangkit dengan ilmu dan integritas.
Rasulullah ﷺ gak cuma ngasih kabar buruk, beliau juga ngasih solusi. Tugas kita sekarang adalah mengimplementasikannya.
Yuk, kita jadi agen perubahan kecil di lingkaran kita masing-masing. Dengan verifikasi info sebelum share, dengan ngomong yang bermanfaat, dan dengan terus menuntut ilmu. Biar kelak, ketika ada yang nanya "Gimana sih keadaan zaman sekarang?", kita bisa jawab dengan bangga: "Chaos, tapi aku disana jadi penyebar kebaikan, bukan bagian dari masalah."
Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat Ruwaibidhah dan diteguhkan dalam kebenaran.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Apa pendapatmu? Share pengalamanmu menghadapi "zaman penuh kebohongan" ini di kolom komentar! Jangan lupa share artikel ini ke teman-temanmu biar mereka juga melek!


Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿