| Ilustrasi kisah Nabi Adam AS, manusia pertama yang bikin Iblis iri dan dengki. |
Halo, Sobat Semua! Pernah nggak sih kepikiran, gimana ya asal-usul kita? Bukan dari mana keluarga kita, tapi lebih ke, dari mana banget-nya? Kita sering dengar nama Nabi Adam, tapi kayaknya cuma sebatas: "Dia manusia pertama, diciptakan dari tanah, terus tinggal di surga terus diturunin ke bumi." Titik. Padahal, ceritanya seru banget, lho! Penuh drama, intrik, dan pelajaran hidup yang masih relevan sampe sekarang, di zaman yang serba canggih ini.
Nah, artikel ini bakal ajak kamu jalan-jalan waktu ke masa
lalu yang sangat-sangat jauh. Kita akan telusuri perjalanan Nabi Adam
`alaihissalam dari awal penciptaan, kenapa dia bisa "kena usir" dari
surga, sampai bagaimana dia memulai peradaban manusia di bumi dengan
segala suka dukanya. Siap-siap, karena ceritanya bakal bikin kamu mikir,
"Oh, ternyata gitu ya..."
Lets Go, Dari Mana Sih Asal-usul Kita?
Jadi,
gini ceritanya. Sebelum Adam ada, yang ngejaga jagat raya ini adalah
para malaikat. Lalu, Allah `Azza wa Jalla pengen menciptakan seorang
khalifah (pemimpin) di muka bumi. Ini diceritain jelas dalam Al-Qur'an.
QS. Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ
خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ
إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Dan (ingatlah) ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah
di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang
merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih
memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Dia berfirman, 'Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'"
Para malaikat nanya
bukan karena sok tahu, lho, ya. Mereka cuma menyampaikan apa yang mereka
lihat dari potensi makhluk bumi sebelumnya (seperti jin). Tapi Allah
punya rencana yang lebih besar, yang nggak mereka ketahui: manusia.
Proses Kreatif Allah: Dari Tanah Sampai Jadi Manusia Sempurna
Nah,
ini nih bagian yang bikin merinding. Penciptaan Adam itu nggak instan
kayak pesen kopi. Ada tahapannya, dan ini menunjukkan betapa detail dan
agungnya ciptaan Allah.
1. Bahan Bakunya: Tanin Bumi Pilihan
Allah nggak asal ambil tanah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, dijelaskan gini:
"Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil
dari seluruh bagian bumi. Maka datanglah anak Adam (keturunannya) sesuai
dengan asal tanahnya. Di antara mereka ada yang merah, putih, hitam dan
di antara warna-warna itu. Ada yang lembut dan kasar, ada yang buruk
dan ada yang bagus." (HR. At-Tirmidzi No. 2955, dishahihkan Al-Albani).
Jadi,
guys, ini jawabannya kenapa kita punya warna kulit dan sifat yang
beda-beda! Asal tanahnya aja udah beda. Ini harusnya bikin kita saling
menghargai, bukan malah saling menindas.
2. Tahap-tahap Pembuatannya
Allah sebutkan prosesnya dalam Al-Qur'an:
- Dari Tanah Liat Lengket (Thiin Laazib):
إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (QS. Ash-Shaffat: 11).
- Menjadi Lumpur Hitam yang Berbau (Hamaa'in Masnuun):
خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن صَلْصَٰلٍ كَٱلْفَخَّارِ
"...Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (QS. Al-Hijr: 28).
- Akhirnya Kering Kayak Tembikar (Shalshaal kal-Fakhkhaaar):
خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن صَلْصَٰلٍ كَٱلْفَخَّارِ
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar." (QS. Ar-Rahman: 14).
Bayangin, dari tanah biasa, jadi lumpur, dibentuk, lalu dikeringin. Setelah bentuk fisiknya sempurna, barulah...
3. The Soul Activation: Ditiupkan Ruh
فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah
meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud." (QS. Al-Hijr: 29).
Boom! Hiduplah Adam.
Bukan cuma hidup, dia adalah masterpiece. Bayangin, tinggi Adam saja 60
hasta, atau sekitar 27-30 meter! Gila, gedee banget!
"Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh hasta." (HR. Al-Bukhari No. 6227, Muslim No. 2841).
Bahkan
ketampanannya pun legendaris. Nabi Yusuf `alaihissalam yang terkenal
ganteng itu cuma dianugerahi separuh dari ketampanan Adam.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang Yusuf:
"Sesungguhnya ia (Yusuf) telah diberi setengah ketampanan." (HR. Muslim No. 162).
Jadi, ya, Adam adalah standar ganteng yang sesungguhnya. Jangan bandingin sama artis K-Pop, ya. Itu beda jauh levelnya.
Drama Surgawi: Pemberontakan Iblis dan Tipu Daya Pertama
Nah,
Adam yang sudah sempurna ini lalu diperkenalkan kepada para malaikat.
Allah perintahkan mereka untuk sujud hormat kepada Adam. Semua patuh,
kecuali satu makhluk sombong: Iblis.
وَإِذْ قُلْنَا
لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ
أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
"Dan (ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!'
Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri,
dan ia termasuk golongan kafir." (QS. Al-Baqarah: 34).
Iblis
ngotot, "Gue dari api, dia cuma tanah. Gue lebih tinggi derajatnya!"
Karena kesombongannya inilah Iblis diusir dari surga. Tapi, dia minta
penangguhan umur sampai hari kiamat dan bersumpah akan menyesatkan anak
cucu Adam.
Ini dia awal mula musuh abadi kita, guys. Iblis
itu gagal move on. Dia dendam mati-matian dan janji bakal ganggu
kita sampe akhir zaman. Hati-hati!
Pasangan Pertama: Lahirnya Siti Hawa
Sendirian di surga kan sepi. Allah lalu menciptakan pasangan untuk Adam: Hawa.
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya." (QS. Ar-Rum: 21).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Jika kau ingin
meluruskannya, kau justru akan mematahkannya. Jika kau ingin
bersenang-senang dengannya, bersenang-senanglah dengan tetap ada
kebengkokannya." (HR. Al-Bukhari No. 3331, Muslim No. 1468).
Nah,
ini pelajaran buat para suami. Perempuan punya "kebengkokan" alami,
yaitu perasaan dan cara berpikir yang berbeda. Jangan maksa dia berubah
100% sesuai keinginanmu. Pahami dan jalani dengan bijak.
Ujian Pertama & "Turunnya" Ke Bumi
Adam
dan Hawa dibolehin nikmatin semua di surga, kecuali satu pohon. Iblis,
yang dendam, datang dengan tipu daya klasik: janji palsu.
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ ٱلشَّيْطَٰنُ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ
"Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dia berkata,
'Wahai Adam! Maukah ku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan
yang tidak akan binasa?'" (QS. Thaha: 120).
Adam dan Hawa
tergoda. Mereka pun memakan buah dari pohon terlarang itu. Seketika itu
juga, terbukalah aurat mereka dan mereka merasa malu. Mereka segera
bertaubat dengan doa yang diajarkan Allah:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
"Keduanya berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami
sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada
kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.'" (QS. Al-A'raf: 23).
Allah
Maha Pengampun. Taubat mereka diterima, tapi konsekuensi dari melanggar
aturan tetap berlaku: mereka harus turun ke bumi.
قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى
هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
"Kami berfirman, 'Turunlah kamu semua dari surga!
Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa
mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka
tidak bersedih hati.'" (QS. Al-Baqarah: 38).
Pelajaran penting
nih: Taubat itu menghapus dosa, tapi belum tentu menghapus konsekuensi
duniawi dari kesalahan kita. Allah turunkan mereka ke bumi bukan
sebagai hukuman murni, tapi sebagai awal dari misi besar: menjadi
khalifah.
Life on Earth: Baby Pertama, Konflik Pertama
Hidup
di bumi pun dimulai. Adam dan Hawa dikaruniai anak-anak kembar,
sepasang laki-laki dan perempuan. Dalam satu riwayat, Qabil dan saudara
perempuannya (yang cantik) lahir bersamaan, sementara Habil dan saudara
perempuannya (yang kurang cantik) lahir bersamaan.
Nah, aturan
pernikahan waktu itu adalah: anak dari satu kandungan dinikahkan dengan
anak dari kandungan lainnya. Jadi, Qabil seharusnya menikahi saudara
perempuan Habil, dan Habil menikahi saudara perempuan Qabil. Tapi, Qabil
ngotot pengen nikah sama saudara kembarnya sendiri yang lebih cantik.
Untuk menyelesaikan konflik, Adam menyuruh mereka berdua untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang berhak.
QS. Al-Ma'idah ayat 27:
وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا
قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْآخَرِ
قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ
ٱلْمُتَّقِينَ
"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah kedua putra
Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya
mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka
berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil)
berkata, 'Aku pasti membunuhmu!' (Habil) berkata, 'Sesungguhnya Allah
hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.'"
Habil yang
peternak mempersembahkan domba terbaiknya, sementara Qabil yang petani
mempersembahkan hasil pertanian yang jelek-jelek. Api dari langit
menyambar dan melahap kurban Habil, tanda diterima. Kurban Qabil
dibiarkan begitu saja.
Dengki dan marah membutakan mata Qabil. Dia ancam bunuh Habil. Dengan tenang dan penuh ketakwaan, Habil bilang:
لَئِن بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَدِىَ
إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَٰلَمِينَ
"Sungguh, sekiranya engkau mengangkat tanganmu untuk membunuhku, aku
sekali-kali tidak akan mengangkat tanganku untuk membunuhmu.
Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam." (QS.
Al-Ma'idah: 28).
Tapi nasi sudah jadi bubur. Qabil membunuh
Habil. Itulah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia, yang bermula
dari dengki dan nafsu.
فَطَوَّعَتْ لَهُۥ نَفْسُهُۥ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُۥ فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
"Maka nafsunya (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, lalu
dibunuhnyalah. Maka jadilah ia termasuk orang yang merugi." (QS.
Al-Ma'idah: 30).
Qabil pun kebingungan, gimana cara ngurusin
mayat. Allah utus seekor burung gagak yang menggaruk-garuk tanah untuk
mengubur bangkai gagak lainnya. Melihat itu, Qabil pun sadar dan
menyesal.
فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِى ٱلْأَرْضِ
لِيُرِيَهُۥ كَيْفَ يُوَٰرِى سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَٰوَيْلَتَآ
أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا ٱلْغُرَابِ فَأُوَٰرِىَ سَوْءَةَ
أَخِى ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ
"Kemudian Allah mengutus
seekor gagak yang menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya
(Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Dia
(Qabil) berkata, 'Celaka aku! Apakah aku tidak mampu seperti burung
gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku?' Maka jadilah
dia termasuk orang yang menyesal." (QS. Al-Ma'idah: 31).
Duh,
sedih banget kan? Dari sini kita belajar, dengki itu ngerusak
banget. Bisa menghilangkan akal sehat sampai tega bunuh saudara
sendiri. Hati-hati sama rasa iri yang mulai menggerogoti hati.
Wasiat Terakhir Adam untuk Syits `Alaihissalam
Setelah
tragedi itu, Adam dan Hawa dikaruniai seorang anak yang shaleh bernama Syits (dalam bahasa Ibrani berarti "anugerah Allah"). Syits inilah
yang kemudian menjadi penerus risalah dan kenabian setelah Adam.
Ibnu
Katsir dalam Al-Bidayah wan-Nihayah menukil dari para ulama salaf,
bahwa ketika ajal Adam sudah dekat, dia mewasiatkan beberapa hal penting
kepada Syits:
1. Pesan Utama: Jaga Agama Allah.
Adam
berpesan, "Wahai anakku, jagalah perintah-perintah Allah, dan
lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya, serta jauhi apa yang
dilarang-Nya. Sesungguhnya dunia ini adalah rumah yang fana (sementara),
sedangkan akhirat adalah rumah yang kekal."
2. Mewaspadai Musuh Bebuyutan: Iblis.
Dia memperingatkan Syits dan semua keturunannya untuk selalu waspada
terhadap tipu daya Iblis yang telah menipu dirinya dahulu. "Jangan
sampai musuh itu membuatmu terpedaya seperti dia telah menipu ayahmu."
3. Menjaga Ilmu dan Warisan Kenabian.
Adam mewariskan kepada Syits semua ilmu yang telah Allah ajarkan
kepadanya. Dia memerintahkan Syits untuk mengajarkannya kepada
keturunannya yang shaleh dan menyembunyikannya dari orang-orang yang
zalim seperti Qabil dan keturunannya. Diriwayatkan bahwa ilmu itu
ditulis di atas lempengan-lempengan tanah liat dan batu.
4. Tugas Menggantikan Adam.
Adam menunjuk Syits sebagai pemimpin dan penggantinya untuk membimbing manusia.
Setelah
menyampaikan wasiatnya, Adam pun wafat. Malaikat-lah yang memandikan,
mengkafani, menyalati, dan menguburkan jasad beliau. Konon, dalam suatu
riwayat, setelah menguburkan Adam, malaikat berkata, "Wahai anak cucu
Adam, inilah sunnah (tata cara) kalian dalam mengurus jenazah." (HR.
Ahmad No. 21240, dengan derajat yang diperselisihkan).
Kesimpulan dan Pelajaran Buat Kita yang Hidup di Zaman Now
Nah, Sobat, dari perjalanan panjang Nabi Adam ini, kita bisa ambil banyak banget pelajaran berharga:
1.
Kita Semua Satu Keluarga: Asal-usul kita sama, dari Adam. Perbedaan
warna kulit, suku, dan bangsa bukan alasan untuk saling membenci. Kita
bersaudara.
2. Musuh Itu Nyata: Iblis itu ada dan dendamnya
kebangetan. Dia akan gunakan semua cara, dari godaan subtle sampai yang
kasar, buat nyimpulin kita dari jalan lurus. Jangan lengah!
3. Taubat Itu Nggak Ada Matinya: Adam aja, nabi, bisa khilaf. Tapi yang
bikin beda adalah dia langsung balik dan bertaubat. Allah Maha
Pengampun. So, jangan pernah putus asa dari rahmat-Nya.
4. Dengki =
Racun Hati: Lihatlah Qabil. Dengki bisa ngancurin segalanya, bahkan
hubungan saudara. Bersyukur dan ikhlas adalah penawarnya.
5. Hidup
Punya Misi: Kita diturunkan ke bumi bukan tanpa tujuan. Tugas kita
adalah jadi khalifah yang ngatur bumi dengan baik, berdasarkan
aturan Allah. Bukan jadi perusak.
Jadi, gimana? Cerita Nabi Adam
nggak cuma buat pengantar tidur, kan? Ini adalah sejarah kita, akar
kita, dan peta perjalanan hidup kita. Dengan mempelajarinya, kita jadi
tahu dari mana kita datang, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan
kembali.
Semoga kita bisa mengambil ibrah dan menjadi keturunan Adam yang membuatnya bangga di akhirat nanti. Aamiin.
Sumber Tulisan:
Al-Qur'an Al-Karim,
Kitab Al-Bidayah wan-Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir.

Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿