Khutbah Jumat: Budaya Cancel Culture dalam Timbangan Syariah

Ilustrasi simbolik khutbah Jumat tentang budaya cancel culture dalam perspektif syariah Islam dan keadilan
Menghakimi tanpa adil bukan ajaran syariah, meski dibungkus tren sosial.




Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 
 
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.



Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Takwa yang membuat kita selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap ucapan dan perbuatan. 
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 
 
(QS. Ali Imran: 102)

1. Fenomena Cancel Culture di Era Digital

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,


Kita hidup di zaman di mana media sosial menjadi pengadilan publik. Sebuah cuitan, sebuah status, atau sebuah video bisa membuat seseorang di-"cancel"—dikucilkan, dipecat, dan dihancurkan reputasinya dalam sekejap. Inilah yang disebut Cancel Culture.
Fenomena ini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat Islam dalam beberapa aspek penting.

2. Larangan Menghakimi Tanpa Ilmu yang Jelas

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."(QS. Al-Isra': 36)
 
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya: "Ayat ini melarang seseorang berkata tanpa ilmu, baik dalam masalah agama maupun dunia."
 
Cancel culture seringkali melanggar prinsip ini. Orang dihakimi berdasarkan asumsi, dugaan, atau informasi yang tidak terverifikasi.

3. Bahaya Ghibah dan Fitnah dalam Cancel Culture

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ 
 
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. 
(QS. Al-Hujurat: 12)
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
 
"Tahukah kalian apa itu ghibah? Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang dia benui. Ditanyakan: Bagaimana jika yang kusebutkan itu benar ada padanya? Beliau bersabda: Jika benar ada padanya, maka engkau telah menggunjingnya. Jika tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya."(HR. Muslim)
 
Cancel culture adalah bentuk modern dari ghibah dan fitnah yang disebarkan melalui media sosial. Satu share, satu retweet terhadap tuduhan yang belum jelas kebenarannya, bisa termasuk dalam dosa besar ini.

4. Perintah Berlaku Adil Meskipun Terhadap Musuh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Maidah: 8)
 
Ayat ini tegas: kebencian kita terhadap seseorang TIDAK BOLEH membuat kita berlaku tidak adil dalam menilainya.
Cancel culture sering mengabaikan keadilan karena didorong oleh emosi dan kebencian massal.

5. Cara Islam dalam Menghadapi Kesalahan

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 
 
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Hasyr: 10)
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ 
 
“Termasuk kesempurnaan Islam seseorang, ia meninggalkan hal-hal yang tidak menjadi urusannya.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Islam mengajarkan:
 
1. Menasihati secara privat terlebih dahulu
2. Memverifikasi informasi sebelum menyebarkan
3. Memberikan hak jawab kepada yang dituduh
4. Membuka pintu taubat dan perbaikan
5. Mendoakan kebaikan, bukan mengutuk


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,


Cancel culture bertentangan dengan ajaran Islam karena:
  1. Melanggar larangan berprasangka buruk
  2. Menyebarkan ghibah dan fitnah
  3. Menutup pintu taubat dan perbaikan
  4. Bertindak tidak adil karena emosi
  5. Merusak persaudaraan Islam
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ

Nasihat Praktis bagi Muslim di Era Digital:


1. Verifikasi sebelum share - Ingat hadits: "Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar." (HR. Muslim)

2. Nasihat privat dahulu - Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

3. Buka pintu taubat - Allah Maha Penerima Taubat, janganlah kita menjadi lebih keras dari Allah.

4. Gunakan media sosial untuk dakwah, bukan untuk menghakimi.

5. Perbanyak istighfar untuk diri sendiri dan saudara-saudara kita.

عِبَادَ اللَّهِ، اذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ، وَاتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ مَخْرَجًا
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدُّعَاءِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Posting Komentar

✍️ Tulis pendapatmu dengan niat baik dan sopan.
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿