![]() |
| Bayi pernah viral karena kebenaran, bukan validasi, sementara kita hari ini sibuk mengejar pengakuan. |
Kamu pernah nggak sih, lagi asyik-asyiknya scroll TikTok atau ngerjain deadline, terus ibu nelpon? “Sebentar, Bu, lagi sibuk nih.” Atau ketika ibu chat, cuma dibalas singkat, “Oke,” sambil mata nggak lepas dari layar. Kita anggap itu hal biasa. “Lagi fokus, kok.” Tapi pernah terpikir nggak, apa yang sebenarnya kita prioritaskan? Dunia yang sibuk ini kadang bikin kita lupa, mana yang benar-benar ‘ibadah’ dan mana yang cuma ‘tampak sibuk’ untuk memuaskan ekspektasi orang lain.
Nabi ﷺ pernah menceritakan sebuah kisah dari zaman Bani Israil. Bukan tentang peperangan spektakuler atau mukjizat yang mengubah geografi. Tapi tentang hal-hal yang sangat manusiawi: seorang anak saleh dan ibunya, seorang wanita pezina yang difitnah, dan seorang bayi yang… berbicara. Iya, bayi yang baru lahir, bisa ngomong. Viral banget kan kalau zaman sekarang? Tapi ini viral dengan maksud yang dalam banget. Kisah ini mengajarkan kita soal prioritas yang sering salah tempat, tentang prasangka yang menghancurkan, dan tentang ibadah yang ‘benar’ tapi… kok bisa bikin sakit hati orang tua?
Mari kita simak kisah lengkapnya, sebelum kita terburu-buru judge atau merasa diri paling benar.
Kisah Tiga Bayi yang Bicara: Cerita yang Bikin Merinding dan Mikir
Bayangkan suasana zaman dulu. Nabi ﷺ duduk bersama para sahabat, lalu beliau membuka percakapan dengan kalimat yang langsung bikin penasaran: “Tidak ada yang berbicara dalam buaian (saat bayi) kecuali tiga…” Langsung deh, yang dengar pada nangkup. Siapa saja tiga orang itu?
Pertama, sudah jelas: Nabi Isa ‘alaihissalam. Mukjizat beliau yang satu ini sudah masyhur di kitab-kitab samawi.
Yang kedua dan ketiga, inilah kisah yang mungkin belum banyak kita gali dalam-dalam. Kisah tentang Juraij, seorang ahli ibadah, dan seorang bayi lain yang tanpa nama, tapi dialognya dengan ibunya bikin kita tercengang.
Kisah Juraij: Ibadah Tinggi Tapi ‘Membekukan’ Hati Ibu
Juraij adalah seorang rahib atau pendeta. Dia tinggal di sebuah shawma’ah (biara) untuk fokus beribadah. Suatu hari, ibunya datang menemuinya. Saat itu, Juraij sedang asyik-asyiknya shalat. Sang ibu memanggil, “Wahai Juraij!”
Di sinilah konflik batinnya dimulai. Dalam hatinya, Juraij bergumul: “Ya Rabb, ibuku atau shalatku?” Dia memilih untuk melanjutkan shalatnya dan tidak menjawab panggilan ibunya. Sang ibu, dengan perasaan kecewa, pergi.
Keesokan harinya, ibunya datang lagi. Kejadian yang sama terulang. Juraij kembali memilih shalatnya. Ibunya pergi dengan kekecewaan yang lebih dalam.
Hari ketiga, ibunya datang lagi. Dan lagi-lagi, Juraij mengabaikannya demi menyelesaikan shalat. Kali ini, kekecewaan itu berubah menjadi sebuah doa dari mulut seorang ibu yang terluka: “Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sampai Engkau perlihatkan kepadanya wajah-wajah wanita pelacur!”
Duh. Bukan doa yang main-main. Ini doa dari seorang ibu. Dan doa ibu, sebagaimana kita tahu, adalah doa yang mustajab.
Lalu, takdir mulai bergulir. Ada seorang wanita pelacur (baghiyy) yang berusaha merayu Juraij, tapi ditolak mentah-mentah. Wanita itu sakit hati. Untuk balas dendam, dia mendatangi seorang penggembala dan berzina dengannya. Dari hubungan itu, lahirlah seorang bayi. Nah, di sinilah fitnah keji dimulai. Wanita itu mengklaim, “Ini bayi dari Juraij!”
Hebohlah masyarakat. Mereka marah, mendatangi biara Juraij, menyeretnya keluar, menghancurkan tempat ibadahnya, dan memukulinya. Juraij yang bingung bertanya, “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kamu telah berzina dengan wanita pezina ini hingga dia melahirkan anakmu!”
Juraij, dengan ketenangan yang luar biasa, hanya bertanya, “Mana bayinya?” Bayi itu dibawa. Juraij meminta izin, “Biarkan aku shalat dulu.” Setelah shalat, dia menghampiri bayi itu, mencolek perutnya, dan bertanya, “Wahai bayi, siapa ayahmu?”
Dan mukjizat pun terjadi. Bayi yang masih dalam gendongan itu menjawab dengan jelas, “Ayahku adalah si Fulan, sang penggembala.”
Seketika itu juga, suasana berubah 180 derajat. Orang-orang yang tadi memukuli, kini berusaha memeluk dan mencium Juraij. Mereka menawarkan untuk membangun kembali biaranya dengan emas dan perak. Tapi Juraij dengan rendah hati hanya meminta, “Bangunlah kembali seperti semula dari tanah.” Dan kejadian itu pun menjadi pelajaran bagi semua.
Kisah Bayi dan Ibunya yang ‘Salah Pilih Idola’
Kisah ketiga lebih singkat, tapi tak kalah menusuk. Seorang wanita dari Bani Israil sedang menggendong bayinya. Lewatlah seorang laki-laki yang tampan, gagah, dan terlihat sangat perkasa (dzû syārah). Si ibu langsung berdoa, “Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia!”
Lalu, terdengarlah suara dari gendongannya. Sang bayi spontan membalas, “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia!” Sang ibu tentu shock.
Kemudian, mereka melewati seorang budak perempuan yang sedang dipukuli dan dituduh, “Kamu berzina! Kamu mencuri!” Di tengah siksaan itu, budak perempuan itu hanya mengulang-ulang kalimat tauhid: “Hasbunallâhu wa ni’mal wakîl” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung).
Melihat itu, si ibu berdoa lagi, “Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia!”
Nah, kali ini bayinya membalas, “Ya Allah, jadikan aku seperti dia!”
Si ibu tambah bingung. “Lho, kok anakku ngomong gitu?” Lalu, sang bayi pun menjelaskan dengan hikmah yang dalam: “Wahai Ibu, sesungguhnya lelaki tadi adalah seorang penguasa yang zalim (jabbar). Sedangkan budak perempuan ini, mereka menuduhnya berzina dan mencuri, padahal dia tidak melakukannya. Dia hanya berserah diri dan bertawakal kepada Allah.”
Sumber & Riwayat Hadits: Shahih dan Penuh Hikmah
Sebelum kita lanjut mengambil pelajaran, mari kita lihat dulu sumbernya. Kisah ini bukan dongeng, tapi bagian dari hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim hadits.
Shahih Muslim no. 2550
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ، وَكَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ، كَانَ يُصَلِّي فِي صَوْمَعَتِهِ، فَأَتَتْهُ أُمُّهُ فَنَادَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، أُمِّي أَوْ صَلَاتِي؟ فَآثَرَ صَلَاتَهُ، فَانْصَرَفَتْ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، أُمِّي أَوْ صَلَاتِي؟ فَآثَرَ صَلَاتَهُ، فَانْصَرَفَتْ، فَلَمَّا كَانَ مِنَ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، أُمِّي أَوْ صَلَاتِي؟ فَآثَرَ صَلَاتَهُ، فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ وُجُوهَ الْمُومِسَاتِ. وَكَانَتْ امْرَأَةٌ تُرَاوِدُهُ عَنْ نَفْسِهَا فَأَبَى، فَأَتَتْ رَاعِيًا فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا، فَقَالَتْ: هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ، فَأَتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وَهَدَمُوا صَوْمَعَتَهُ، وَجَعَلُوا يَضْرِبُونَهُ، فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قَالُوا: زَنَيْتَ بِهَذِهِ الْبَغِيِّ فَوَلَدَتْ مِنْكَ، قَالَ: أَيْنَ الصَّبِيُّ؟ فَجَاءُوا بِهِ، فَقَالَ: دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ، فَصَلَّى، ثُمَّ أَتَى الصَّبِيَّ فَطَعَنَ فِي بَطْنِهِ، فَقَالَ: يَا غُلَامُ، مَنْ أَبُوكَ؟ قَالَ: فُلَانٌ الرَّاعِي. قَالَ: وَكَانَتِ امْرَأَةٌ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مَعَهَا صَبِيٌّ، فَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ ذُو شَارَةٍ، فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ اجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهُ، فَقَالَ الصَّبِيُّ: اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ، ثُمَّ مَرُّوا بِجَارِيَةٍ يُضْرَبُونَهَا وَيَقُولُونَ: زَنَيْتِ، سَرَقْتِ، وَهِيَ تَقُولُ: حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ: اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ ابْنِي مِثْلَهَا، فَقَالَ الصَّبِيُّ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا، فَقَالَ: أَمَّا الرَّجُلُ فَكَانَ جَبَّارًا، وَأَمَّا الْجَارِيَةُ فَكَانُوا يَقُولُونَ عَلَيْهَا كَذِبًا
Terjemahan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada bayi yang bisa berbicara ketika masih di buaian kecuali tiga orang. Yaitu ‘Isa putra Maryam ‘alaihissalam. Dan (yang kedua) ada seorang laki-laki dari Bani Israil bernama Juraij. Dia adalah orang yang sangat rajin ibadah. Ia punya tempat ibadah sendiri dan sering shalat di sana. Suatu hari ibunya datang dan memanggilnya, sementara Juraij sedang shalat. Ibunya berkata: “Wahai Juraij!” Juraij pun bergumam dalam hatinya: “Ya Rabb, ini ibuku atau shalatku? Akhirnya ia memilih meneruskan shalatnya, dan ibunya pun pergi. Besoknya, ibunya datang lagi. Juraij masih shalat, dan ibunya kembali memanggil: “Wahai Juraij!” Juraij berkata lagi dalam hatinya: “Ya Rabb, ibuku atau shalatku?” Ia kembali memilih shalat, dan ibunya pun pergi. Hari ketiga, ibunya datang lagi saat Juraij sedang shalat dan kembali memanggilnya. Juraij tetap memilih shalatnya. Akhirnya ibunya berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau wafatkan dia sampai Engkau perlihatkan kepadanya wajah para wanita pezina.” Tak lama kemudian, ada seorang wanita yang tertarik pada Juraij dan mencoba menggodanya, tapi Juraij menolak mentah-mentah. Wanita itu lalu mendatangi seorang penggembala, dan menyerahkan dirinya kepadanya. Ia pun hamil dan melahirkan seorang bayi. Wanita itu menuduh: “Ini anak dari Juraij!” Orang-orang pun langsung marah. Mereka datang ke tempat ibadah Juraij, menurunkannya, merobohkan tempat ibadahnya, dan memukulinya, Juraij bertanya: “Ada apa urusan kalian?” Mereka menjawab: “Kamu telah berzina dengan wanita ini, dan dia melahirkan anak darimu!” Juraij berkata: “Di mana bayinya?” Ketika bayi itu dibawa, Juraij berkata: “Biarkan aku shalat dulu.” Setelah shalat, Juraij mendekati bayi itu, lalu menyentuh perutnya dan bertanya: “Wahai bayi, siapa ayahmu?” Maka bayi itu berkata: “Ayahku adalah si penggembala.” Seketika orang-orang sadar. Mereka mendekati Juraij, mencium dan mengusap-usapnya, lalu berkata: “Kami akan bangunkan tempat ibadahmu dari emas.” Juraij menjawab: “Tidak usah. Bangun saja kembali dari tanah seperti semula.” Dan (yang ketiga), ada seorang wanita dari yang sedang membawa bayinya. Tiba-tiba lewat seorang lelaki yang kelihatannya berwibawa, rapi, dan terpandang, Si ibu pun berdoa: “Ya Allah, jadikan anakku seperti orang ini.” Tiba-tiba bayinya berkata: “Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku seperti dia.” Kemudian mereka melewati seorang wanita yang sedang dipukuli dan diteriaki “Kamu pezina! Kamu pencuri!” Padahal wanita itu hanya berkata: “Cukuplah Allah bagiku, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” Melihat itu, si ibu berdoa: “Ya Allah, jangan Engkau jadikan anakku seperti wanita ini.” Maka bayinya berkata: “Ya Allah, jadikan aku seperti wanita ini.” Rasulullah ﷺ lalu menjelaskan: “Laki-laki tadi adalah orang zalim (sewenang-wenang), sedangkan wanita itu sebenarnya tidak bersalah, tapi dituduh dengan dusta.”
Kedudukan Hadits: SHAHIH. Ini adalah bagian dari kitab shahih Imam Muslim, salah satu dari dua kitab hadits paling otentik setelah Al-Qur’an.
Pelajaran & Faidah: Ibadah Bukan Alasan untuk ‘Cold’ ke Ortu
Dari kisah Juraij ini, faidahnya banyak banget. Kita pecah jadi beberapa poin biar gampang dicerna.
1. Birrul Wālidain itu Gak Bisa Ditawar, Bahkan dengan Ibadah Sunnah!
Ini poin paling utama. Juraij sedang shalat. Tapi shalat apa? Hadits tidak menyebutkan shalat wajib. Bisa jadi itu shalat sunnah. Nah, ketika ibunya memanggil, dia mengabaikannya dengan alasan sedang beribadah. Big mistake.
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi, shahih lighairihi).
Para ulama menjelaskan, berbakti kepada orang tua (birrul wālidain) adalah kewajiban yang sangat agung. Dalam Islam, ia menempati urutan setelah tauhid. Bahkan, Allah menyandingkan perintah berbakti kepada orang tua dengan perintah untuk tidak menyekutukan-Nya (QS. Al-Isra’: 23).
Ibadah sunnah, sehebat apapun, tidak boleh mengorbankan hak orang tua yang merupakan kewajiban. Bayangkan, ibunya datang dari jauh, butuh sesuatu, atau sekadar ingin melihat anaknya. Diabaikan. Tiga kali. Perasaan ibu mana yang tidak terluka?
Analoginya zaman now: Kamu lagi asyik baca Al-Qur’an (sunnah) atau nonton kajian online, terus ibu minta tolong ambilkan air atau belikan sesuatu di warung. Kamu bilang, “Nanti dulu, Bu, lagi baca Qur’an nih.” Atau sambil scroll medsos baca konten islami, tapi chat ibu cuma dibalas ‘ok’. Itu sama aja, prioritas kita kacau. Membantu orang tua adalah ibadah yang bisa lebih utama daripada ibadah sunnah personal saat itu.
2. Doa Orang Tua yang Terluka itu Powerful Banget
Lihatlah bagaimana doa ibu Juraij dikabulkan. Dia tidak mendoakan kebaikan, tapi sebuah ujian, agar anaknya melihat wajah-wajah pelacur. Dan itu terjadi melalui fitnah keji yang hampir menghancurkan hidup Juraij.
Ini warning buat kita, terutama anak muda yang kadang suka membentak atau membuat orang tua jengkel. Jaga perasaan mereka. Air mata dan kekecewaan orang tua bisa berubah menjadi doa yang mustajab, entah itu untuk kebaikan atau—naudzubillah, keburukan kita. Sebaliknya, ridha orang tua adalah kunci ridha Allah.
3. Ujian itu Datang Justru Saat Kita ‘Merasa Paling Benar’
Juraij ahli ibadah. Dia menjauhi wanita. Tapi, ujian terbesar justru datang dalam bentuk tuduhan zina, hal yang paling dia jauhi. Ini mengajarkan kita: jangan pernah merasa aman dari ujian, apalagi merasa diri paling suci. Ujian bisa datang dari arah yang tidak terduga, merusak reputasi kita yang sudah bertahun-tahun dibangun.
Ini relevan banget di era medsos. Kamu bisa saja dikenal sebagai orang yang alim di Instagram atau TikTok, penuh dengan konten islami. Tapi, satu fitnah, satu kesalahan yang diviralkan, bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap. Kisah Juraij mengajarkan kesabaran dan tawakkal yang ekstrem. Dia tidak marah, tidak membela diri dengan emosi. Dia langsung ‘buka bukti’ dengan cara yang ajaib melalui izin Allah.
4. Menghakimi Berdasarkan Bukti, Bukan Asumsi dan Trending Topic
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS. Al-Hujurat: 6)
Masyarakat zaman Juraij langsung menghakimi berdasarkan tuduhan satu orang wanita pezina. Mereka tidak mencari bukti, tidak meminta klarifikasi mendalam. Langsung cancel culture: hancurkan biara, pukuli sang rahib. Ini cerminan kita di grup WhatsApp atau Twitter. Satu screenshot tanpa konteks, satu voice note, langsung diviralkan, dihakimi, dan dijauhi.
Islam mengajarkan untuk tabayyun (cek kebenaran). Kisah ini adalah teguran bagi kita yang gampang share berita dan ikut-ikutan men-judge.
5. Mukjizat itu Nyata, Tapi Iman Tetap Ujian
Bayi bisa bicara adalah mukjizat dari Allah untuk membersihkan nama baik Juraij. Tapi, perhatikan: mukjizat itu datang setelah Juraij dihancurkan reputasi dan fisiknya. Artinya, keimanan dan kesabaran kita diuji dulu sampai ke titik terendah, baru pertolongan Allah datang. Jangan harap ujian hidup kita langsung selesai dalam satu malam seperti di film. Prosesnya pahit, tapi akhirnya indah atas izin Allah.
Kita adalah Juraij-Juraij Modern?
Sekarang, mari kita lihat diri kita dengan jujur.
Pertama, soal prioritas. Juraij memilih shalat (sunnah) daripada ibunya. Kita memilih apa? Workaholic (hustle culture) hingga lupa menelepon orang tua? Sibuk curating feed Instagram yang religious-looking, tapi di dunia nyata cuek dengan kebutuhan keluarga? Atau sibuk dengan aktivitas “dakwah” atau organisasi, sampai-sampai orang tua di rumah merasa diabaikan? Hati-hati. Ibadah sosial (berbuat baik kepada orang tua) bisa lebih bernilai di mata Allah daripada ibadah individual yang kita pamerkan di dunia maya.
Kedua, soal validasi. Juraij, di akhir kisah, ditawari biara dari emas. Dia menolak. Dia hanya ingin yang sederhana. Dia tidak butuh validasi atau pujian manusia setelah dirinya terbukti benar. Bandingkan dengan kita. Setelah berbuat baik, pengen di-story. Setelah dapat hidayah, pengen diakui. Butuh likes dan komentar “MasyaAllah” sebagai fuel untuk tetap istiqamah. Itu bahaya. Ibadah kita jadi terkontaminasi riya’. Kita seperti orang yang membangun biara dari emas, ibadah yang tampak mewah di luar, tapi rapuh di dalam.
Ketiga, tentang prasangka dan cancel culture. Kita hidup di era di mana menghakimi itu mudah. Satu status kontroversial, langsung kita labeling “liberal”, “fundamentalis”, dll. Satu kesalahan masa lalu di-digged, langsung kena cancel. Kita menjadi seperti massa yang menghancurkan biara Juraij, menghancurkan reputasi orang berdasarkan tuduhan, sebelum klarifikasi. Kisah ini mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati, lebih adil, dan lebih banyak diam jika tidak tahu faktanya.
Keempat, tentang definisi ‘sukses’. Lihat kisah bayi ketiga. Si ibu kagum pada lelaki tampan dan perkasa (the ideal man), tapi ternyata dia seorang penguasa zalim. Si ibu jijik pada budak perempuan yang dituduh jelek-jelek, tapi ternyata dia wanita shalehah yang sabar.
Ini tamparan untuk kita yang mendefinisikan kesuksesan dari penampilan luar, posisi/jabatan, dan kekayaan. Sementara kita memandang rendah orang yang posisinya rendah, hidupnya sederhana, atau sedang diuji. Padahal, bisa jadi di mata Allah, mereka justru lebih mulia.
Padahal, bisa jadi di mata Allah, orang yang kita pandang rendah itu justru lebih mulia karena kesabaran, kejujuran, dan ketawakalannya. Bayi dalam kisah itu memilih untuk seperti budak perempuan yang sabar, bukan seperti penguasa yang zalim. Pilihan yang nggak populer, tapi itulah kebenaran.
Kesimpulan: Ibadah yang ‘Connect’, Bukan yang ‘Collect’
Apa pelajaran utama dari semua ini? Ibadah kita harusnya menjadi penghubung (connect) kita dengan Allah dan dengan manusia, terutama orang terdekat. Bukan sekadar mengumpulkan (collect) pahala sunnah atau koleksi foto spiritual di medsos.
Kisah Juraij mengajarkan bahwa kesalehan individual tidak boleh mengerdilkan tanggung jawab sosial kita, terutama kepada orang tua. Ibadah yang benar akan melunakkan hati, bukan mengeraskannya. Ibadah yang benar akan membuat kita lebih peka pada panggilan ibu, bukan mengabaikannya.
Di era yang penuh performatif religiosity ini, di mana kesalehan sering diukur dari seberapa sering posting ayat atau seberapa panjang jubah, mari kita kembali ke esensi.
Jangan sampai kita seperti Juraij awal: rajin shalat sunnah, tapi hatinya ‘lalai’ mendengar panggilan ibu.
Jangan sampai kita seperti massa yang menghakimi: mudah menyebar kebencian atas nama membela agama, tapi melupakan adab mencari bukti.
Dan jangan sampai kita seperti si ibu dalam kisah ketiga: silau dengan kesuksesan duniawi yang tampak, buta terhadap ketakwaan yang sejati.
Mari kita bangun “biara” keimanan kita dari tanah, dari kerendahan hati, kejujuran, dan kesadaran bahwa kita bisa salah. Bukan dari emas dan perak, dari pujian, likes, dan validasi manusia yang semu.
Terakhir, ingatlah: Jika bayi dalam buaian saja bisa bicara kebenaran dengan izin Allah, maka kita yang sudah dewasa, seharusnya lebih bisa memilih untuk berbicara dan bertindak benar, dimulai dari hal yang paling dekat: berkata lemah lembut kepada orang tua. ✨
Wallahu a’lam bish-shawab.


Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿