![]() |
| Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Jangan sampai mushaf tetap tertutup dan hati tak tersentuh. |
Sudah lima hari kita meninggalkan makan dan minum. Lima hari kita menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Tapi, ada satu pertanyaan reflektif yang mungkin agak nusuk buat kita renungkan di malam hari ini:
Selama lima hari ini, sudah berapa juz Al-Qur’an yang kita baca?
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat (pertolongan) bagi seorang hamba pada hari kiamat."
(HR. Ahmad, shahih)
Coba bayangin. Dua hal ini, puasa dan Al-Qur’an, akan datang sebagai pembela kita di hadapan Allah. Tapi, pertanyaannya sekarang: Apakah Al-Qur’an yang kita tinggalkan akan rela menjadi saksi dan pembela kita? Atau malah sebaliknya, dia akan menjadi saksi yang menuntut karena kita abaikan?
Ketika Fisik Puasa, Tapi Hati Lalai dari Al-Qur’an
Fenomena yang sering terjadi di kalangan kita, nggak terkecuali penulis sendiri, adalah disconnected antara puasa dan Al-Qur’an. Kita menjalankan perintah Allah untuk menahan lapar dan haus, tapi kita lupa bahwa Al-Qur’an diturunkan di bulan ini sebagai petunjuk.
Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)."
(QS. Al-Baqarah: 185)
Jadi, esensi Ramadhan itu bukan cuma lapar, tapi lapar plus hidayah. Bukan cuma haus dari minum, tapi haus akan firman Allah. Kalau kita puasa tapi hati kita gersang dari Al-Qur’an, maka kita baru mendapatkan setengah dari keutamaan Ramadhan.
Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ... وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan paling dermawan di bulan Ramadhan… Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan lalu mereka saling mempelajari Al-Qur’an.”
📚 HR. Al-Bukhari no. 6 & Muslim no. 2308
Bahkan sebagian Salaf mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga malam sekali di luar Ramadhan. Lalu di bulan Ramadhan, mereka lipat gandakan. Ada yang khatam setiap malam, ada yang setiap dua malam. Mereka rela begadang bukan buat hal yang sia-sia, tapi buat berdialog dengan Rabb-nya.
Untuk Renungan: Evaluasi Diri di Hari Kelima
- Prioritas Waktu: Apakah waktu untuk Al-Qur’an lebih banyak atau kalah sama medsos?
- Kualitas Membaca: Apakah membaca dengan tartil dan merenung, atau sekadar menggugurkan kewajiban?
- Koneksi Hati: Saat imam membaca ayat, apakah hati bergetar?
- Target Minimalis: Konsisten satu halaman sehari lebih baik daripada banyak di awal tapi putus di tengah.
Bukan hanya di dunia, Al-Qur’an akan tetap setia menemani kita sampai ke alam kubur. Ia akan menjadi teman di saat semua teman dunia pergi meninggalkan. Ia akan menjadi cahaya di dalam kegelapan kubur.
- Baca Al-Qur’an walau hanya 1 halaman.
- Baca dengan perlahan, bukan tergesa-gesa.
- Renungkan maknanya.
- Dengarkan bacaan imam dengan hati hadir.
- Jadikan Al-Qur’an teman harian.
🤲 Doa hari kelima:
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، وَاجْعَلْهُ شَفِيعًا لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Ya Allah, jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, pengusir kegelisahanku, dan jadikan ia pemberi syafaat bagiku pada hari kiamat."
✨ Hari kelima… apakah Al-Qur’an sudah menjadi bagian dari harimu, atau masih menunggu waktu yang tidak pernah kamu berikan?
— Renungan Ramadhan 1447 H —


Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿