Khutbah Jumat: Kenapa Puasa Kita Tidak Diterima? Ini Tandanya
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari-hari ini kita masih merasakan sisa manisnya Ramadhan. Masih ada yang berusaha menjaga shalat malam, masih ada yang terus bersedekah, dan masih ada yang merasa sedih karena bulan mulia itu telah berlalu. Namun, di tengah suasana ini, muncul satu pertanyaan besar yang seharusnya menggetarkan hati setiap muslim: Apakah puasa Ramadhan kita diterima oleh Allah?
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh para ulama Salaf kepada diri mereka sendiri setiap kali selesai mengerjakan amalan. Mereka sangat khawatir amalnya ditolak, meskipun mereka telah beribadah dengan sungguh-sungguh.
Dalam KItab Latoiful Ma'arif, hal: 368, Imam Ibnul Jauzi membawakan riwayat bahwa:
Fudhalah bin ‘Ubaid rahimahullah berkata
لأن أكون أعلم أنّ الله قد تقبّل منّي مثقال حبّة من خردل أحبّ إليّ من الدنيا وما فيها؛ لأنّ الله يقول:
{إِنَّما يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ}.
Sungguh jika aku tahu bahwa Allah menerima amalanku sebesar biji sawi, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya. Karena Allah berfirman, Sungguh Allah hanya menerima (amal) orang yang bertakwa.’
(QS. Al-Ma’idah: 27)
Saudaraku, Ramadhan telah usai. Kini kita memasuki bulan Syawal. Namun ironisnya, sebagian dari kita justru menunjukkan tanda puasa tidak diterima dengan jelas, tanpa disadari. Kita merasa bangga karena telah berpuasa sebulan penuh, lantas setelah Idul Fitri, kita kembali kepada kemaksiatan seolah-olah tidak pernah mengenal Allah. Inilah yang akan kita kaji bersama, agar kita tidak terjebak dalam kesombongan yang membinasakan.
Siapa yang Amalnya Diterima oleh Allah
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, mengingatkan kita tentang hakikat penerimaan amal:
Ayat ini adalah fondasi utama. Penerimaan amal, termasuk puasa, tidak diukur dari seberapa banyak kita lapar dan dahaga, tetapi dari tingkat ketakwaan yang menghiasi diri. Takwa adalah benteng yang menjaga seorang hamba agar tidak terjerumus ke dalam dosa, baik di bulan Ramadhan maupun setelahnya.
Tanda Amal Puasa Ditolak: Kembali Maksiat Setelah Ramadhan
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani,
Inilah tamparan paling keras bagi kita. Hadits ini menjelaskan bahwa tanda puasa tidak diterima adalah ketika puasa tidak meninggalkan bekas dalam diri. Secara amaliah, puasanya sah. Namun secara hakikat di sisi Allah, ia hanya mendapatkan lelah, lapar, dan dahaga. Nilai ibadahnya hilang karena ia tidak menjaga lisan dari dusta, tidak menjaga anggota badan dari maksiat, dan hatinya tidak terpaut kepada Allah.
Tanda Puasa Diterima: Iman Meningkat, Bukan Lalai Kembali
Para ulama Salaf memberikan indikator yang jelas mengenai ciri puasa diterima dalam Islam. Mereka mengatakan bahwa di antara tanda diterimanya suatu amal adalah:
- Bertambahnya ketaatan setelahnya. Jika setelah Ramadhan ibadah kita semakin baik, itu pertanda baik.
- Menjauhi kemaksiatan dengan lebih mudah. Jika dahulu terasa berat meninggalkan maksiat, setelah Ramadhan terasa ringan, itu adalah buah dari puasa yang diterima.
- Merasa takut jika amalnya tidak diterima. Kekhawatiran inilah yang membuat seorang mukmin terus berusaha memperbaiki diri.
Sebaliknya, tanda puasa kita diterima menurut ulama adalah ketika kita menjadi pribadi yang lebih baik pasca Ramadhan. Jika setelah Ramadhan kita justru melalaikan shalat, kembali menonton hal-hal haram, atau menggunjing orang lain, maka hendaklah kita bertanya: apakah puasa kita diterima Allah?
Bagaimana Mengetahui Puasa Diterima?
Para salafush shalih, jika selesai mengerjakan suatu amalan, mereka justru bersedih karena tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak.
Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat “Alladziina yu’tuuna maa aatau” (QS. Al-Mu’minun: 60) yang artinya “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan (sedekah, ibadah)...” seraya hati mereka takut. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang beramal namun takut amalnya tidak diterima.
Ini adalah tolok ukur yang sangat jelas. Apakah setelah Ramadhan kita lebih rajin shalat malam? Apakah kita lebih menjaga lisan? Apakah sedekah kita terus mengalir? Jika iya, maka itu adalah tanda amal diterima setelah Ramadhan. Jika tidak, maka kita harus segera bertobat dan memperbaiki diri.
Kenapa Setelah Ramadhan Malah Kembali Maksiat? Penyebabnya Ada di Hati
Pertanyaan mendasar: kenapa setelah Ramadhan malah kembali maksiat? Jawabannya karena hakikat puasa yang kita lakukan belum mencapai derajat takwa. Puasa hanya menjadi formalitas fisik, bukan puasa hati dan ruh. Hati belum bersih dari penyakit-penyakit seperti riya’, sombong, dan cinta dunia.
Allah berfirman mengingatkan orang-orang yang lalai:
Perumpamaan ini mirip seperti orang yang telah kuat dalam ibadah di bulan Ramadhan, kemudian setelah itu ia mengurai kembali kekuatan imannya dengan maksiat. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi: bersusah payah beribadah di siang dan malam Ramadhan, hanya untuk kemudian menghancurkan hasilnya dalam sekejap setelah hari raya.
Hadirin rahimakumullah, Ramadhan telah berlalu. Kita tidak tahu apakah amal kita diterima atau tidak. Namun yang pasti, kita masih memiliki kesempatan. Tanda taubat diterima setelah puasa adalah ketika kita segera kembali kepada Allah, memperbaiki kekurangan, dan bertekad untuk istiqamah.
Jangan biarkan setan membodohi kita dengan anggapan bahwa setelah Ramadhan, kita bebas kembali bermaksiat. Justru, momentum setelah Ramadhan adalah ujian sejati apakah puasa kita benar-benar mengubah diri.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوْهُ رَبَّكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pada khutbah pertama kita telah membahas tentang tanda puasa tidak diterima dan bagaimana seharusnya kondisi seorang mukmin setelah Ramadhan. Hari ini, saya ingin menutup khutbah dengan beberapa nasihat praktis agar kita termasuk dalam golongan yang amalan setelah puasa Ramadhan yang diterima.
Pertama, periksalah amalanmu. Jika ada ketaatan yang kamu lakukan di Ramadhan seperti shalat malam atau membaca Al-Qur’an, jangan tinggalkan begitu saja. Tetaplah menjaganya meski hanya sedikit. Rasulullah ﷺ bersabda:
Kedua, jadikan Syawal sebagai momentum pemulihan. Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah tanda syukur kita. Ini juga menjadi tameng agar kita tidak terjerumus dalam maksiat. Jika kita mampu menjaga ketaatan di bulan yang penuh godaan ini, itu adalah indikasi awal bahwa puasa kita membekas.
Ketiga, ini adalah tamparan halus untuk kita semua. Waspadai genggaman HP dan lalai dunia. Seringkali setelah Ramadhan, kita kembali disibukkan dengan media sosial, ghibah di grup chat, menonton tayangan yang merusak hati, dan melalaikan shalat karena kesibukan dunia. Jika Ramadhan telah melatih kita menahan diri, jangan biarkan Syawal merusak hasil latihan itu. Ingatlah, setan yang dibelenggu di Ramadhan kini telah bebas kembali. Ia menunggu kita lengah agar kita kembali ke lumpur maksiat.
Saudaraku, pintu taubat selalu terbuka. Jika kita merasa telah melakukan kemaksiatan setelah Ramadhan, segeralah bertaubat. Tanda taubat diterima setelah puasa adalah dengan menyesali perbuatan dosa, segera berhenti, dan bertekad tidak mengulanginya. Jangan biarkan dosa-dosa kecil menumpuk hingga mengeraskan hati.
Doa penutup
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صِيَامَنَا مَقْبُوْلًا، وَذُنُوْبَنَا مَغْفُوْرَةً، وَعَمَلَنَا بِرَحْمَتِكَ مَبْرُوْرًا. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ إِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا، وَإِذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفَرُوا. اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالظُّلْمَ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ بُقْعَةٍ مِنَ الْأَرْضِ، وَآمِنْهُمْ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَالظُّلْمِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِأَزْوَاجِنَا وَلِذُرِّيَّاتِنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Posting Komentar