Kisah Nabi Dzulkifli : Sosok Penuh Misteri dalam Al-Qur'an yang Luar Biasa Sabar
![]() |
| Ilustrasi siluet yang menggambarkan Nabi Dzulkifli sebagai sosok penuh kesabaran, keteguhan, dan misteri dalam sejarah Islam. |
Pernahkah Anda mendengar tentang seorang Nabi yang namanya hanya disebut dua kali dalam Al-Qur'an, namun kisahnya menyimpan hikmah luar biasa tentang kesabaran dan menahan amarah? Dialah Dzulkifli alaihissalam, sosok agung yang namanya diabadikan berdampingan dengan para nabi pilihan.
Misteri Seorang Nabi
Siapa sebenarnya Dzulkifli? Apakah ia seorang Nabi atau hanya manusia saleh biasa? Mengapa Allah memujinya dengan pujian istimewa? Dan apa relevansi kisahnya dengan kehidupan kita yang penuh dengan ujian emosi dan amarah?
Dalam artikel ini, kita akan menyelami kisah lengkap Nabi Dzulkifli alaihissalam sebagaimana dinukil dari kitab monumental Al-Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir, sejarawan dan mufasir besar yang otoritatif dalam manhaj Salaf. Mari kita buka lembaran sejarah yang sarat hikmah ini.
Masa Transisi Kepemimpinan Bani Israel
Untuk memahami kisah Dzulkifli, kita perlu melihat konteks zamannya. Periode setelah Nabi Sulaiman alaihissalam adalah masa transisi bagi Bani Israel. Kekuasaan besar yang pernah menyatukan mereka mulai terpecah. Kerajaan terbagi menjadi dua: Kerajaan Israel di Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan.
Pada masa inilah Allah mengutus para nabi secara beruntun untuk membimbing Bani Israel yang mulai jauh dari ajaran tauhid. Di antara nabi-nabi tersebut adalah Ilyas alaihissalam (Elias) dan kemudian Ilyasa' alaihissalam (Elisha). Keduanya berjuang keras mengembalikan umat kepada penyembahan Allah semata.
Setelah Ilyasa' alaihissalam menua dan merasa ajalnya semakin dekat, muncullah pertanyaan besar: Siapa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan umat? Siapa yang mampu memikul tanggung jawab berat sebagai nabi dan pemimpin?
Dari sinilah kisah Dzulkifli berawal, bukan sekadar cerita sejarah, tetapi potret ujian karakter yang sangat relevan dengan tantangan generasi masa kini.
Ujian Tiga Perkara
Siapa Sebenarnya Dzulkifli alaihissalam?
Para ulama berbeda pendapat mengenai status Dzulkifli. Namun pendapat yang paling kuat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya adalah bahwa Dzulkifli termasuk Nabi Allah.
Namanya disebut beriringan dengan para nabi, serta pujian Allah dengan kalimat "orang-orang sabar" dan "orang-orang sholeh", menguatkan kenabiannya. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah cenderung pada pendapat ini, meski ia juga mencatat adanya perbedaan pandangan.
Legenda Dua Kisah Populer
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir meriwayatkan beberapa versi kisah yang berkaitan dengan Dzulkifli. Mari kita telusuri satu per satu.
Kisah Pertama: Siapa yang Berani Menjamin Tiga Perkara?
Diriwayatkan dari Dawud bin Abi Hind, bahwa ketika Nabi Ilyasa' alaihissalam telah lanjut usia, beliau berpikir untuk mencari pengganti yang akan memimpin umat. Nabi Ilyasa' ingin melihat bagaimana calon penggantinya bekerja semasa hidupnya.
Maka beliau mengumpulkan Bani Israel dan berkata:
"Siapa yang menjamin bagiku tiga hal, niscaya akan aku angkat dia sebagai penggantiku: berpuasa di siang hari, shalat malam (qiyamul lail), dan tidak marah."
Suasana hening. Orang-orang saling berpandangan. Tiga perkara itu terlihat sederhana, tapi berat untuk dijamin secara konsisten. Siapa yang sanggup puasa setiap siang? Siapa yang mampu shalat malam tanpa putus? Dan yang terberat: siapa yang bisa menjamin tidak pernah marah?
Tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki yang dipandang remeh oleh mata kebanyakan orang. Dengan tegas ia berkata, "Saya."
Ilyasa' terkejut. "Kamu sanggup berpuasa di siang hari, shalat malam, dan tidak marah?"
"Ya," jawabnya mantap.
Ilyasa' mengulang tawarannya keesokan hari. Lagi-lagi orang-orang diam, dan laki-laki yang sama kembali berdiri. Maka Ilyasa' pun mengangkatnya sebagai pengganti.
Godaan Terbesar: Ujian Kemarahan
Orang itu, yang kelak dikenal sebagai Dzulkifli, mulai menjalankan tugasnya. Ia berpuasa di siang hari, menghabiskan malam dengan qiyamul lail, dan memimpin umat dengan adil.
Mendengar hal ini, Iblis murka. Ia memanggil setan-setan dan berkata, "Kalian godalah dia!" Namun para setan kewalahan. Iblis akhirnya turun tangan sendiri.
Dalam riwayat yang disampaikan Ibnu Katsir, Iblis mendatangi Dzulkifli dalam wujud kakek tua renta yang terzalimi. Saat itu Dzulkifli hendak tidur siang sejenak, satu-satunya waktu istirahatnya karena malam ia habiskan untuk shalat. Iblis mulai mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya Dzulkifli.
"Aku kakek tua yang terzalimi," jawab Iblis lirih.
Dzulkifli yang penyayang segera membuka pintu. Kakek itu bercerita panjang lebar tentang perseteruannya dengan kaumnya. Dzulkifli berkata, "Jika aku nanti pergi ke majelis, datanglah, akan kubela hakmu."
Esoknya di majelis, Dzulkifli menunggu namun kakek itu tak datang. Ia pun kehilangan waktu tidurnya. Keesokan hari, saat ia kembali hendak tidur, kakek itu datang lagi dengan alasan yang sama. Lagi-lagi Dzulkifli harus bangun dan berjanji menolongnya.
Namun saat di majelis, kakek itu kembali mangkir. Rasa kantuk begitu berat menyerang. Maka Dzulkifli berpesan kepada penjaga pintu, "Jangan biarkan seorang pun mendekat hingga aku tidur."
Iblis datang, diusir penjaga. Tapi setan laknatullah itu menemukan celah masuk dan mengetuk pintu dari dalam rumah! Dzulkifli terbangun, dan mendapati kakek itu sudah ada di dalam.
Seketika ia sadar. "Wahai musuh Allah?"
Iblis tertawa, "Ya, engkau telah membuatku kesulitan. Aku lakukan semua ini agar engkau marah. Tapi engkau tetap sabar."
Subhanallah! Karena kesabarannya yang luar biasa, ia dinamai Dzulkifli artinya pemilik jaminan, karena ia menjamin sesuatu lalu menunaikannya dengan sempurna.
Kisah Kedua: Al-Kifli yang Bertaubat
Ibnu Katsir juga mencatat riwayat lain dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dahulu ada seorang laki-laki dari Bani Israil bernama Al-Kifl. Ia tidak pernah meninggalkan dosa yang dilakukannya. Suatu hari datanglah seorang wanita kepadanya, lalu ia memberinya enam puluh dinar dengan syarat agar ia dapat berzina dengannya. Ketika ia telah duduk di antara kedua kaki wanita itu, wanita tersebut menangis dan gemetar. Ia pun bertanya: ‘Apa yang membuatmu menangis? Apakah aku memaksamu?’ Wanita itu menjawab: ‘Tidak. Tetapi ini adalah perbuatan yang belum pernah aku lakukan sama sekali. Tidak ada yang mendorongku melakukannya selain kebutuhan.’ Maka ia berkata: ‘Kamu melakukan ini padahal belum pernah melakukannya sama sekali?’ Lalu ia turun (membatalkan niatnya) dan berkata: ‘Pergilah, dinar itu untukmu.’ Kemudian ia berkata: ‘Demi Allah, Al-Kifl tidak akan bermaksiat kepada Allah selamanya.’ Pada malam itu ia meninggal dunia. Keesokan harinya tertulis di pintunya: ‘Sesungguhnya Allah telah mengampuni Al-Kifl.’”
Sunan at-Tirmidzi no. 2496
Ibnu Katsir memberikan catatan penting: hadits ini mungkin bukan tentang Dzulkifli yang disebut dalam Al-Qur'an, karena dalam teks hadits disebut "Al-Kifl" tanpa tambahan "Dzu". Bisa jadi ini adalah orang lain. Wallahu a'lam.
Versi Qatadah: Penjamin Seratus Rakaat
Riwayat lain dari Abu Musa Al-Asy'ari radiyallahu anhu menyebutkan bahwa Dzulkifli bukanlah seorang nabi, melainkan orang shaleh. Ada seorang laki-laki saleh sebelumnya yang biasa shalat seratus rakaat setiap hari. Ketika ia wafat, Dzulkifli menjamin untuk melanjutkan amalan tersebut. Karena ia menanggung (kifli) amalan itulah ia dinamai Dzulkifli.
Hikmah & Pelajaran Berharga
Dari rangkaian kisah di atas, kita bisa memetik mutiara hikmah yang sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai generasi masa kini:
- Kesabaran Adalah Kunci Kepemimpinan, Allah memuji Nabi Dzulkifli dengan sifat sabar. Di era media sosial, kita sangat membutuhkan kesabaran model Dzulkifli.
- Bahaya Amarah yang Menghancurkan, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang kuat adalah yang mampu menahan marah. لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang kuat itu dengan banyak bergulat, sesungguhnya orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari no. 6114, Muslim no. 2609) - Konsistensi Ibadah Membentuk Karakter Mulia, Puasa dan qiyamul lail adalah benteng pertahanan diri.
- Taubat Nasuha Mengubah Sejarah Hidup, Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا“Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, janganlah berputus asa dari rahmat Allah...'” (QS. Az-Zumar: 53)
- Menepati Janji Adalah Tanda Iman, Sifat ini menjadi mahal di zaman sekarang.
- Jangan Remehkan Orang Saleh, Penampilan biasa belum tentu hina di sisi Allah.
Penutup: Teladan yang Abadi
Kisah Nabi Dzulkifli alaihissalam mengajarkan kita bahwa Allah mengangkat derajat hamba-Nya bukan karena ketampanan, kekayaan, atau popularitas. Tetapi karena kesabaran, ketakwaan, dan kemampuannya menahan amarah.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir menegaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan pendapat tentang kenabian Dzulkifli, yang jelas Allah memujinya dengan pujian agung. Nama harumnya abadi dalam Al-Qur'an hingga hari kiamat.
Bagi kita generasi masa kini, tantangan pengendalian emosi justru lebih besar. Dunia maya penuh dengan pemicu amarah. Komentar pedas, berita provokatif, ujaran kebencian, semua dirancang untuk membuat kita marah dan kehilangan kendali.
Mari jadikan kisah Dzulkifli sebagai inspirasi. Jadilah pribadi yang mampu menahan amarah, konsisten dalam ibadah, dan menepati janji. Karena itulah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang sabar, yang mampu menahan amarah, dan yang Engkau masukkan ke dalam rahmat-Mu. Aamiin.
Artikel ini diringkas dari:
- Al-Bidayah wan Nihayah, karya Imam Ibnu Katsir bab kisah Dzulkifli
- Tafsir Ibnu Katsir
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS. Yusuf: 111)

Posting Komentar