KHUTBAH PERTAMA
Mukadimah Khutbah
ØĨŲَّ Ø§ŲØَŲ
ْدَ ŲŲŲِ، ŲَØْŲ
َدُŲُ ŲَŲَØŗْØĒَØšِŲŲُŲُ ŲَŲَØŗْØĒَØēْŲِØąُŲُ، ŲَŲَØšُŲØ°ُ بِاŲŲŲِ Ų
ِŲْ Ø´ُØąُŲØąِ ØŖَŲْŲُØŗِŲَا ŲَŲ
ِŲْ ØŗَŲِّØĻَاØĒِ ØŖَØšْŲ
َاŲِŲَا، Ų
َŲْ ŲَŲْدِŲِ اŲŲŲُ ŲَŲَا Ų
ُØļِŲَّ ŲَŲُ ŲَŲ
َŲْ ŲُØļْŲِŲْ ŲَŲَا ŲَادِŲَ ŲَŲُ.
ŲَØŖَØ´ْŲَدُ ØŖَŲْ Ųَا ØĨِŲٰŲَ ØĨِŲَّا اŲŲŲُ ŲَØْدَŲُ Ųَا Ø´َØąِŲŲَ ŲَŲُ، ŲَØŖَØ´ْŲَدُ ØŖَŲَّ Ų
ُØَŲ
َّدًا ØšَبْدُŲُ ŲَØąَØŗُŲŲُŲُ.
ØŖَŲ
َّا بَØšْدُ، ŲَŲَا ØŖَŲُّŲَا اŲْŲ
ُØŗْŲِŲ
ُŲŲَ، ØŖُŲØĩِŲŲُŲ
ْ ŲَŲَŲْØŗِŲ Ø¨ِØĒَŲْŲَŲ Ø§ŲŲŲِ، ŲَŲَدْ ŲَØ§Ø˛َ اŲْŲ
ُØĒَّŲُŲŲَ.
Keutamaan Hari-Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita saat ini berada di hari-hari yang sangat agung di sisi Allah. Hari-hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari yang penuh dengan keutamaan. Di dalamnya, amal shalih dilipatgandakan pahalanya. Dosa-dosa diampuni oleh Allah Yang Maha Pengampun. Dan dari seluruh penjuru dunia, kaum muslimin berbondong-bondong memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah dan Arafah.
Rasulullah īˇē bersabda dengan sabda yang mulia:
«Ų
َا Ų
ِŲْ ØŖَŲَّاŲ
ٍ اŲْØšَŲ
َŲُ Ø§ŲØĩَّاŲِØُ ŲِŲŲَا ØŖَØَبُّ ØĨِŲَŲ Ø§ŲŲَّŲِ Ų
ِŲْ ŲَذِŲِ اŲْØŖَŲَّاŲ
ِ – ŲَØšْŲِŲ ØŖَŲَّاŲ
َ اŲْØšَØ´ْØąِ –». ŲَاŲُŲØ§: Ųَا ØąَØŗُŲŲَ اŲŲَّŲِ، ŲَŲَا اŲْØŦِŲَادُ ŲِŲ ØŗَبِŲŲِ اŲŲَّŲِ؟ ŲَاŲَ: «ŲَŲَا اŲْØŦِŲَادُ ŲِŲ ØŗَبِŲŲِ اŲŲَّŲِ، ØĨِŲَّا ØąَØŦُŲٌ ØŽَØąَØŦَ بِŲَŲْØŗِŲِ ŲَŲ
َاŲِŲِ ØĢُŲ
َّ ŲَŲ
ْ ŲَØąْØŦِØšْ Ų
ِŲْ ذَŲِŲَ بِØ´َŲْØĄٍ».
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (hari-hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa sesuatu apa pun (yaitu syahid).” (HR. al-Bukhari no. 969)
Hadits yang agung ini menunjukkan betapa istimewanya sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amal-amal biasa seperti shalat, puasa, sedekah, dzikir, dan membaca Al-Qur’an menjadi jauh lebih dicintai Allah dibandingkan di hari-hari biasa. Bahkan jihad fi sabilillah yang merupakan puncak pengorbanan dalam Islam, jika tidak mencapai derajat syahid, masih kalah utama dibandingkan amal shalih di sepuluh hari ini. Subhanallah, betapa besar karunia Allah kepada umat Muhammad.
Pada hari-hari mulia ini, ada jamaah haji yang sedang bertalbiyah di padang Arafah. Ada yang thawaf mengelilingi Ka’bah dengan penuh kekhusyukan. Ada yang kelak akan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketaatan. Ada pula yang di rumah-rumah mereka memperbanyak dzikir, istighfar, dan amal-amal sunnah. Namun, saudara-saudaraku sekalian, semua ibadah yang tampak beragam itu sejatinya kembali kepada satu inti yang agung. Satu pesan utama yang menjadi ruh segala amal. Yaitu takwa kepada Allah.
Semua Ibadah Bermuara pada Takwa
Haji mengajarkan takwa. Karena seorang yang berhaji meninggalkan keluarga, harta benda, dan tanah airnya semata-mata karena memenuhi panggilan Allah. Qurban mengajarkan takwa. Karena seorang yang berkurban tidak sekadar memotong hewan, tetapi menundukkan hatinya kepada perintah Allah. Puasa Arafah mengajarkan takwa. Karena dengan menahan lapar dan dahaga, seorang hamba semakin dekat kepada Rabb-nya. Dzikir dan amal shalih lainnya juga bertujuan melatih jiwa agar selalu dalam kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.
Allah īˇģ berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 37 yang sering kita dengar ketika Hari Raya Kurban tiba:
ŲَŲْ ŲَŲَاŲَ اŲŲَّŲَ ŲُØُŲŲ
ُŲَا ŲَŲَا دِŲ
َاؤُŲَا ŲَŲَٰŲِŲْ ŲَŲَاŲُŲُ Ø§ŲØĒَّŲْŲَŲٰ Ų
ِŲْŲُŲ
ْ ۚ ŲَذَٰŲِŲَ ØŗَØŽَّØąَŲَا ŲَŲُŲ
ْ ŲِØĒُŲَبِّØąُŲØ§ اŲŲَّŲَ ØšَŲَŲٰ Ų
َا ŲَدَاŲُŲ
ْ ۗ ŲَبَØ´ِّØąِ اŲْŲ
ُØْØŗِŲِŲŲَ
“Daging-daging hewan kurban dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian. Demikianlah Dia menundukkannya untuk kalian, agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak butuh terhadap daging atau darah hewan kurban. Allah Maha Kaya lagi Maha Suci dari segala kebutuhan. Namun, yang Allah inginkan dari ibadah kurban, haji, dan semua amal shalih adalah ketakwaan yang bersemayam di dalam hati kita.
Wasiat Agung Rasulullah īˇē Inti Kehidupan Seorang Muslim
Oleh karena itu, pada kesempatan khutbah Jumat yang berbahagia ini, marilah kita merenungkan sebuah wasiat agung dari Rasulullah īˇē. Wasiat yang sangat pendek, tetapi menjadi inti dari seluruh ajaran Islam. Wasiat ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, dari sahabat Abu Dzar Jundab bin Junadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah īˇē bersabda:
«Ø§ØĒَّŲِ اŲŲَّŲَ ØَŲْØĢُŲ
َا ŲُŲْØĒَ، ŲَØŖَØĒْبِØšِ Ø§ŲØŗَّŲِّØĻَØŠَ اŲْØَØŗَŲَØŠَ ØĒَŲ
ْØُŲَا، ŲَØŽَاŲِŲِ اŲŲَّØ§Øŗَ بِØŽُŲُŲٍ ØَØŗَŲٍ»
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hadits ini sangat pendek. Namun, para ulama mengatakan bahwa sabda Nabi yang singkat ini mencakup seluruh ajaran agama Islam. Tiga hal yang disebutkan di dalamnya mewakili tiga pilar utama kehidupan seorang muslim: hubungan dengan Allah, hubungan dengan diri sendiri, dan hubungan dengan sesama manusia.
Mari kita bahas satu per satu dengan hati yang terbuka.
Bertakwa di Mana Saja Kita Berada
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada”
Makna Takwa yang Sebenarnya
Apa itu takwa? Secara bahasa, takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya menjaga atau melindungi. Secara istilah, takwa adalah menjadikan antara diri kita dan murka Allah sebuah benteng pelindung. Benteng itu adalah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Orang yang bertakwa adalah orang yang sangat berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam hal-hal yang dibenci Allah.
Bukan Hanya di Masjid, Bukan Hanya di Bulan Ramadhan
Perhatikan sabda Nabi: ØَŲْØĢُŲ
َا ŲُŲْØĒَ – di mana pun engkau berada. Maknanya sangat luas dan dalam. Takwa tidak boleh hanya kita praktikkan ketika berada di masjid. Tidak boleh hanya ketika bulan Ramadhan tiba. Tidak boleh hanya ketika kita mengenakan pakaian muslim yang rapi. Tidak boleh hanya ketika ada orang lain yang melihat kita.
Akan tetapi, takwa harus kita hayati dan amalkan:
- Saat kita sendirian di dalam kamar, tidak ada yang melihat kecuali Allah.
- Saat tangan kita memegang handphone, mengakses berbagai macam tontonan dan informasi.
- Saat kita berdagang di pasar, berhadapan dengan pembeli yang mungkin tidak tahu kelebihan dan kekurangan barang kita.
- Saat kita menjadi suami atau istri, berinteraksi dengan pasangan hidup di balik pintu rumah.
- Saat kita menjadi pegawai atau pejabat, memegang amanah yang besar.
- Saat kita jauh dari pandangan manusia, di perjalanan atau di tempat sepi.
Inilah hakikat takwa yang sesungguhnya: merasa selalu diawasi oleh Allah dalam setiap gerak-gerik kita. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril tentang ihsan: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Haji dan Kurban Adalah Latihan Takwa
Orang yang sedang berhaji sejatinya sedang dilatih untuk bertakwa secara intensif. Ia meninggalkan keluarga dan kampung halaman. Ia memakai pakaian ihram yang hanya dua lembar kain putih tanpa jahitan, tanpa wangi-wangian, tanpa berburu. Semua itu untuk menunjukkan ketundukan total kepada Allah. Demikian pula dengan ibadah kurban. Kita menyembelih hewan bukan sekadar tradisi tahunan atau sekadar memenuhi kebutuhan daging. Tetapi ibadah kurban adalah bukti nyata ketaatan kepada Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim dan putranya Ismail alaihimas salam tunduk dengan sempurna kepada perintah Rabb mereka. Mereka bertakwa dalam ujian yang paling berat sekalipun.
Kebaikan akan Menghapus Keburukan
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya”
Manusia Pasti Punya Dosa
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Poin kedua dari hadits ini memberikan harapan yang sangat besar bagi kita. Karena kita semua adalah manusia, bukan malaikat. Kita pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan. Lisan kita terkadang tergelincir menyakiti orang lain. Mata kita kadang tidak bisa menahan pandangan terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Hati kita kadang dibuai oleh rasa iri, dengki, sombong, atau ujub. Kita sering lalai dari shalat tepat waktu. Kita sering malas berdzikir dan membaca Al-Qur’an.
Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah berbuat dosa? Apakah kita larut dalam kesedihan yang berkepanjangan? Apakah kita berputus asa dari rahmat Allah? Sama sekali tidak.
Jangan Tenggelam dalam Dosa, Segera Bangkit
Nabi Muhammad īˇē mengajarkan kepada kita sebuah formula yang sangat sederhana namun dahsyat: iringilah keburukan dengan kebaikan. Artinya, misalnya:
- Setelah mata melihat yang haram, maka alihkan pandangan ke mushaf Al-Qur’an. Bacalah ayat-ayat suci.
- Setelah lisan menggunjing (ghibah) saudaranya, maka perbanyaklah istighfar dan segera minta maaf kepada orang yang digunjing.
- Setelah lalai dari shalat, maka segeralah shalat dan perbanyak shalat sunnah serta sedekah.
Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah īˇģ. Allah tidak menutup pintu taubat bagi siapa pun, selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Di Bulan Dzulhijjah, Manfaatkan Pengampunan Dosa
Pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang penuh kemuliaan ini, jangan sia-siakan kesempatan emas untuk mendapatkan ampunan dosa. Perbanyaklah amalan-amalan seperti:
1. Taubat nasuha, taubat yang sungguh-sungguh dengan menyesali dosa, meninggalkannya, dan bertekad tidak akan mengulangi.
2. Dzikir, seperti membaca Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar.
3. Sedekah, sekecil apa pun, karena sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.
4. Puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) , bagi yang tidak sedang berhaji, puasa ini menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
5. Membaca Al-Qur’an, setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan, dan di hari-hari ini dilipatgandakan.
6. Memperbanyak takbir dan tahmid, terutama mulai tanggal 1 hingga 13 Dzulhijjah.
Ingatlah, kebaikan-kebaikan itu dengan izin Allah akan menghapus dosa-dosa kita. Jangan pernah berputus asa.
Berakhlak Mulia kepada Sesama Manusia
“Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik”
Islam Bukan Hanya Ritual, Tapi Juga Akhlak
Poin ketiga dari wasiat Nabi ini seringkali menjadi bagian yang terlupakan. Banyak orang yang rajin shalat malam, tetapi lisannya menyakitkan hati orang lain. Ada yang rutin menghadiri pengajian, tetapi di rumah ia berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya. Ada pula yang sangat bersemangat menegakkan sunnah, tetapi suka merendahkan sesama muslim yang berbeda pandangan dengannya.
Padahal, ketika Rasulullah īˇē diutus ke muka bumi, salah satu misi terbesarnya adalah menyempurnakan akhlak yang mulia. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)
Bentuk-Bentuk Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari
Apa saja wujud akhlak yang baik itu? Mari kita renungkan:
- Lembut dan santun kepada keluarga, terutama orang tua, suami, istri, dan anak-anak. Jangan sampai kita lebih lembut kepada rekan kerja atau teman daripada kepada keluarga sendiri.
- Menghormati tetangga, baik yang muslim maupun non-muslim. Tidak mengganggu mereka dengan suara bising, dan berbagi kebahagiaan terutama pada hari raya.
- Jujur dalam jual beli dan semua urusan. Jangan mengurangi timbangan, jangan menyembunyikan cacat barang. Kejujuran membawa keberkahan.
- Tidak suka mencela, mengolok-olok, atau memanggil dengan gelar yang buruk. Allah melarang itu dalam surat Al-Hujurat.
- Tidak merendahkan orang miskin, orang bodoh, atau orang yang dianggap ‘sepele’ oleh ukuran dunia. Setiap muslim memiliki kemuliaan di sisi Allah karena ketakwaannya.
- Mudah memaafkan kesalahan orang lain, tidak mendendam, dan tidak suka membalas kejahatan dengan kejahatan.
- Menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, dan perkataan kotor.
Dzulhijjah Bukan Hanya untuk Ibadah Pribadi, Tapi Juga Perbaiki Hubungan
Hari-hari mulia Dzulhijjah seharusnya menjadi momentum tidak hanya untuk memperbanyak ibadah pribadi, tetapi juga untuk memperbaiki hubungan dengan sesama. Renungkanlah:
- Jangan sampai kita menyembelih hewan kurban, tetapi masih memutus tali silaturahim dengan saudara kita.
- Jangan sampai kita bertakbir dengan suara menggelegar di masjid, tetapi hati kita masih menyimpan kebencian dan kedengkian kepada muslim lain.
- Jangan sampai kita sangat bersemangat beribadah, tetapi akhlak kita justru rusak dan menjauhkan orang dari Islam.
Saudaraku, akhlak yang baik adalah ibadah yang paling berat timbangannya di hari kiamat. Nabi bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kesimpulan Khutbah Pertama
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hadits agung dari Rasulullah īˇē yang baru saja kita renungkan mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslim yang sejati harus memperbaiki tiga perkara secara serius:
Tiga Pilar Kesempurnaan Muslim
1. Hubungan dengan Allah melalui takwa yang menyeluruh di mana pun berada.
2. Hubungan dengan diri sendiri melalui taubat dan amal shalih yang mengiringi setiap keburukan.
3. Hubungan dengan manusia melalui akhlak yang mulia dalam semua interaksi.
Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang benar-benar bertakwa. Orang-orang yang ketika disebut nama Allah, hati mereka bergetar. Orang-orang yang ketika berbuat salah, segera bertaubat dan beramal shalih. Dan orang-orang yang ketika bergaul dengan sesama, mereka selalu berusaha memberikan kebaikan dan senyuman.
ØŖŲŲŲ ŲŲŲŲ ŲØ°Ø§ ŲØŖØŗØĒØēŲØą Ø§ŲŲŲ Ø§ŲØšØ¸ŲŲ
ŲŲ ŲŲŲŲ
ŲØ§ØŗØĒØēŲØąŲŲ ØĨŲŲ ŲŲ Ø§ŲØēŲŲØą Ø§ŲØąØŲŲ
.
KHUTBAH KEDUA
Mukaddimah Khutbah Kedua
Ø§ŲØŲ
د ŲŲŲ ØŲ
دًا ŲØĢŲØąًا ØˇŲØ¨ًا Ų
Ø¨Ø§ØąŲًا ŲŲŲ ŲŲ
ا ŲØØ¨ ØąØ¨ŲØ§ ŲŲØąØļŲ، ŲØŖØ´Ųد ØŖŲ ŲØ§ ØĨŲŲ ØĨŲØ§ اŲŲŲ ŲØØ¯Ų ŲØ§ Ø´ØąŲŲ ŲŲ، ŲØŖØ´Ųد ØŖŲ Ų
ØŲ
دًا ØšØ¨Ø¯Ų ŲØąØŗŲŲŲ.
ØŖŲ
ا بؚد، ŲŲØ§ ؚباد اŲŲŲ، اØĒŲŲØ§ اŲŲŲ ØŲ Ø§ŲØĒŲŲŲ.
Nasihat di Penghujung Dzulhijjah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari-hari yang penuh keberkahan ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, akan segera berlalu meninggalkan kita. Waktu terus berjalan. Malam berganti siang. Dan tak terasa, usia kita pun terus berkurang. Orang yang paling cerdas adalah orang yang memanfaatkan musim-musim ketaatan ini sebelum datang penyesalan yang tidak berguna. Perbanyaklah di sisa hari-hari yang mulia ini:
- Takbir, tahmid, tahlil, dan takbir (membaca Allahu Akbar, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah)
- Sedekah, meskipun hanya dengan sepotong kurma atau senyuman kepada saudara
- Membaca Al-Qur’an, tadabburi maknanya, dan amalkan ajarannya
- Berbakti kepada orang tua, menjenguk kerabat, dan menyambung silaturahim
- Memperbaiki hubungan yang sempat renggang, meminta maaf dan memberi maaf
Keutamaan Ibadah Kurban
Bagi saudara-saudara kita yang telah diberi kelapangan rezeki oleh Allah dan mampu berqurban, janganlah meremehkan ibadah agung ini. Qurban adalah syiar Islam yang paling jelas. Qurban adalah sunnah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Muhammad īˇē yang terus dijaga oleh umat Islam dari generasi ke generasi. Jangan sampai karena alasan kesehatan atau kesibukan duniawi, kita meninggalkan qurban padahal mampu. Niatkanlah qurban sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang tak terhitung jumlahnya.
Inti Segala Amal Ialah Takwa
Dan sekali lagi, jangan pernah lupa bahwa inti dari segala amal ibadah kita, baik haji, qurban, puasa, shalat, zakat, sedekah, maupun dzikir, adalah takwa. Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan panjang menuju akhirat. Allah īˇģ berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
ŲَØĒَØ˛َŲَّدُŲØ§ ŲَØĨِŲَّ ØŽَŲْØąَ Ø§ŲØ˛َّادِ Ø§ŲØĒَّŲْŲَŲٰ ۚ ŲَاØĒَّŲُŲŲِ Ųَا ØŖُŲŲِŲ Ø§ŲْØŖَŲْبَابِ
“Berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Mari kita jadikan takwa sebagai bekal utama kita. Bukan hanya sekadar bekal untuk ibadah haji, tetapi bekal untuk seluruh kehidupan kita di dunia ini dan bekal untuk menghadap Allah kelak di akhirat.
Doa Penutup
اŲŲŲŲ Ø§ØēŲØą ŲŲŲ ØŗŲŲ ŲŲ ŲØ§ŲŲ ØŗŲŲ Ø§ØĒ، ŲØ§ŲŲ Ø¤Ų ŲŲŲ ŲØ§ŲŲ Ø¤Ų ŲØ§ØĒ، Ø§ŲØŖØŲØ§ØĄ Ų ŲŲŲ ŲØ§ŲØŖŲ ŲØ§ØĒ.
Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat.
اŲŲŲŲ
ØŖØĩŲØ ŲŲŲØ¨Ųا ŲØŖØšŲ
اŲŲØ§ ŲØŖØŽŲاŲŲØ§.
Ya Allah, perbaikilah hati kami, amal perbuatan kami, dan akhlak kami.
اŲŲŲŲ
ØŖØšŲØ§ ØšŲŲ Ø°ŲØąŲ ŲØ´ŲØąŲ ŲØØŗŲ ØšØ¨Ø§Ø¯ØĒŲ.
Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.
اŲŲŲŲ
ØĒŲØ¨Ų Ų
Ų Ø§ŲØØŦاØŦ ØØŦŲŲ
، ŲŲ
Ų Ø§ŲŲ
ØļØŲŲ ØŖØļØŲØĒŲŲ
، ŲØ§ØēŲØą ŲŲØ§ ŲŲŲØ§ŲدŲŲØ§ ŲŲØŦŲ
ب𠨧ŲŲ
ØŗŲŲ
ŲŲ.
Ya Allah, terimalah dari para jamaah haji ibadah haji mereka, terimalah dari orang-orang yang berkurban ibadah kurban mereka, dan ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.
ØąَبَّŲَا ØĸØĒِŲَا ŲِŲ Ø§ŲØ¯ُّŲْŲَا ØَØŗَŲَØŠً ŲَŲِŲ Ø§ŲْØĸØŽِØąَØŠِ ØَØŗَŲَØŠً ŲَŲِŲَا Øšَذَابَ اŲŲَّØ§Øąِ.
Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.
Penutup
ØŗØ¨ØØ§Ų ØąØ¨Ų ØąØ¨ Ø§ŲØšØ˛ØŠ ØšŲ
ا ŲØĩŲŲŲ ،
Ų ØŗŲØ§Ų ØšŲŲ Ø§ŲŲ ØąØŗŲŲŲ ،
ŲØĸØŽØą Ø¯ØšŲØ§Ųا
Ø§Ų Ø§ŲØŲ
د ŲŲŲ ØąØ¨ Ø§ŲØšØ§ŲŲ
ŲŲ
