![]() |
| Islam tidak hanya menilai estetika, tapi juga bagaimana kehormatan ayat dijaga. |
Banyak rumah zaman sekarang kelihatan makin “islami” gara-gara dipasangin hiasan kaligrafi ayat Al-Qur’an di ruang tamu. Terlihat megah, tamu datang juga langsung terkesan, “wah, rumahnya islami banget.” Tapi pertanyaan seriusnya: memang Al-Qur’an diturunkan buat jadi dekorasi atau buat jadi pedoman hidup? Nah, di sini kita akan bongkar tuntas: dalil, hadits, atsar ulama, sampai fatwa kontemporer tentang hukum menjadikan Al-Qur’an sebagai hiasan rumah.
Al-Qur’an Diturunkan untuk Dibaca, Bukan Dipajang
Allah Ta’ala menegaskan tentang fungsi utama Al-Qur’an:
﴿كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ﴾
“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)
Jelas ya, tujuan diturunkannya Qur’an itu buat ditadabburi, bukan buat ditempel di dinding dengan pigura mahal.
Hadits tentang Menghiasi Qur’an
Ada sebuah riwayat:
«زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ، وَلَا تُزَيِّنُوهُ بِالْحِبْرِ»
“Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian, jangan kalian hiasi dengan tinta.”
(HR. Al-Baihaqi, Syu‘ab al-Iman 2/540)
Catatan: hadits ini dha’if, tapi maknanya nyambung dengan prinsip umum: memperindah bacaan lebih mulia daripada memperindah tulisannya.
Sikap Para Ulama Salaf
Ulama salaf jelas punya sikap tegas soal ini. Mereka nggak doyan kalau Qur’an dijadikan barang estetik belaka.
Imam Malik rahimahullah: ketika ditanya soal mushaf yang dihias, beliau berkata:
«أَكْرَهُ ذَلِكَ»
“Aku tidak menyukainya.”
(Al-Qadhi Iyadh, Tartib al-Madarik, 2/348)
Ibnul ‘Arabi Al-Maliki (w. 543 H) rahimahullah berkata:
«إِنَّ الْقُرْآنَ إِنَّمَا أُنْزِلَ لِيُعْمَلَ بِهِ وَيُتَدَبَّرَ، لَا لِيُتَّخَذَ زِينَةً»
“Al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan dan ditadabburi, bukan untuk dijadikan perhiasan.”
(Ahkam al-Qur’an, 4/1174)
Larangan Menghiasi Masjid, Relevan dengan Rumah?
Kalau masjid saja diperingatkan jangan dihias berlebihan, apalagi rumah pribadi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا زُخْرِفْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالْدَّمَارُ عَلَيْكُمْ»
“Apabila kalian menghiasi masjid dan memperindah mushaf kalian, maka kebinasaan akan menimpa kalian.”
(HR. Ibn Abi Syaibah, al-Musannaf 2/374)
Umar bin Khaththab radiyallahu anhu juga pernah menegur ketika beliau memerintahkan pembangunan masjid, beliau berkata:
سُتُّوا النَّاسَ مِنَ الْمَطَرِ، وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُحَمِّرُوا وَتُصَفِّرُوا فَتَفْتِنُوا النَّاسَ
“Lindungi manusia dari hujan, dan hati-hatilah kalian menghiasinya dengan merah dan kuning hingga membuat orang terfitnah (sibuk memperhatikannya).”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih, Kitab ash-Shalah, Bab Bina al-Masajid).
Kalau di masjid saja termasuk "dilarang", ya jelas di rumah juga nggak lebih baik. Fungsinya Qur’an bukan jadi dekorasi.
Fatwa Ulama Kontemporer
Dalam Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, jilid 6, fatwa no. 2079 disebutkan:
كتابة آيات من القرآن على الجدران أو على اللوحات لتعليقها في المجالس أو المكاتب أو المدارس لا يجوز، لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم، ولأنه قد يعرضها للإهانة ولعدم المبالاة بها، ولأنه قد يقصد بها الزينة فقط، والقرآن الكريم إنما أنزل للتلاوة والتدبر والعمل به.
Artinya:
“Menulis ayat-ayat Al-Qur’an di dinding atau papan untuk digantung di ruang tamu, kantor, atau sekolah tidak diperbolehkan. Karena hal itu tidak pernah ada dari Nabi ﷺ maupun para sahabatnya, dan dikhawatirkan bisa menyebabkan penghinaan terhadap ayat, atau diabaikan, atau sekadar dijadikan hiasan. Padahal Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, ditadabburi, dan diamalkan.”
Kesimpulan Hukum
1. Tidak ada Hadits shahih yang melarang secara spesifik. Yang ada hanya hadits dha’if dan ada prinsip umum.
2. Sikap ulama salaf adalah tidak suka atau makruh, bahkan bisa haram kalau sekadar gaya-gayaan.
3. Fatwa ulama kontemporer yang tegas melarang.
Jadi, menghiasi rumah dengan kaligrafi Qur’an hukumnya tidak disyariatkan, minimal makruh, dan bisa jatuh ke haram kalau tujuan atau praktiknya malah merendahkan Qur’an.
Alternatif: Hiasan Islami yang Lebih Aman
Pakai kaligrafi lafazh seperti
“بسم الله”,
“الحمد لله”,
atau doa-doa singkat. Itu bukan ayat Qur’an langsung, lebih aman.
Atau motif arabic khas Islam yang indah tanpa harus menyeret ayat suci jadi dekorasi.
Penutup: Jangan Bikin Qur’an Jadi Wallpaper Hidup
Ngaku cinta Qur’an tapi ayatnya dipajang doang, dibaca enggak, diamalkan apalagi. Itu kayak punya Ferrari tapi dipakai jemur pakaian. Qur’an itu pedoman hidup, bukan wallpaper ruang tamu. Kalau mau rumah adem, bukan piguranya yang bikin adem, tapi tilawah, dzikir, dan amal shalih penghuninya.


Posting Komentar