Pernah Denger Sindiran dari Sahabat Ibn Mas’ud?
Sobat, pernah nggak kamu dengar kata-kata Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu:
إني لأبغض الرجل أن أراه فارغاً ليس في شيء من عمل الدنيا ولا في عمل الأخرة
“Sesungguhnya aku sangat benci melihat seorang pengangguran yang dia tidak mau bekerja untuk dunianya, dan tidak pula mau beramal untuk akhiratnya.” (Shifatush Shafwah, hlm. 111)
Kalimat itu pedes, tapi jujur: pas kalau kita renungkan. Kita hidup antara dua dunia, dunia yang butuh kerja agar hidup “nyambung”, akhirat yang butuh amalan agar tak rugi selamanya. Kalau kita santuy banget sampai nggak ngapa-ngapain, bisa jadi kita kehilangan momen untuk berkarya dan berbakti.
Di artikel ini kita bakal ngebahas: kenapa Islam sangat menekankan kerja, bahaya jadi pengangguran yang ogah usaha, dalil-dalil kuat dari Al-Qur’an dan Hadits, juga pandangan para ulama salaf. Semangat produktif + ridho Allah, yuk!
Kenapa Islam Mengutuk “Pengangguran Kronis”?
Sebelum kita nyebut “pengangguran”, kita harus cermat: maksudnya orang yang mempunyai kemampuan tapi memilih nggak mau berusaha, bukan yang karena sakit, usia tua, atau kondisi yang mencegah bekerja.
Beberapa alasan kenapa Islam lebih tepatnya para sahabat & salaf menganggap sifat “kosong/tidak mau bekerja” sebagai bahaya:
- Nafsu malas dan sikap egois tumbuh: kalau kita nggak punya aktivitas positif, hati rentan terjerembap ke malas, boros waktu, bahkan dosa ringan jadi berat.
- Menjadi beban orang lain: Islam menekankan agar muslim mandiri, tidak memberatkan orang lain tanpa alasan yang sah.
- Mengabaikan kesempatan beramal: dunia itu ladang amalan. Kalau kita kosong, kita kehilangan banyak peluang ibadah.
- Rugi di akhirat: semua amal baik akan kembali kepada kita, tapi kalau nggak ada amal berarti kita kehilangan bekal.
Sahabat Ibn Mas’ud berkata bahwa dia sangat membenci melihat orang kosong seperti itu — karena itu menunjukkan manusia menolak tanggung jawab dunia & akhirat.
Dalil dari Al-Qur’an: Perintah untuk “Bekerjalah”
Mari kita lihat apa kata Al-Qur’an soal bekerja dan usaha:
1. QS At-Taubah ayat 105
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS At-Taubah [9]: 105)
Ayat ini mengajarkan bahwa pekerjaan kita dilihat, bukan oleh dunia aja, tapi Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin. Jadi kerja itu bukan sekadar aktivitas duniawi, dia punya dimensi ukhrawi juga.
2. QS Al-Jumu’ah ayat 10
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 10)
artinya: setelah salat, kita “disuruh” untuk “bertebaran di bumi” dan mencari karunia-Nya. Bentuknya bisa berupa kerja, usaha, aktivitas produktif.
3. QS Al-Ankabut ayat 17
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Maka carilah rizki di sisi Allah, kemudian beribadahlah kepada-Nya dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan.” (QS Al-Ankabut [29]: 17)
artinya: mencari rizki adalah bagian dari ibadah, selama cara dan niatnya benar.
Jadi jelas: bekerja dalam Islam bukan sekadar “harus nyambung hidup”, tapi bagian dari kewajiban dan ibadah.
Hadits & Sunnah Nabi ﷺ : Bekerja adalah Kehormatan
Konteks ini makin kuat kalau kita lihat apa yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya:
1. “Tidak ada makanan yang lebih baik…” (HR Bukhari)
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik daripada makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud ‘alaihissalam memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR al-Bukhārī, no. 2072)
Ini hadits shahih, menunjukkan bahwa rezeki dari kerja tangan sendiri punya keutamaan besar.
2.. Hadits sahih tentang mencari nafkah untuk keluarga
Dari Ka‘b bin ‘Ujrah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَفْضَلَ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ.
“Sebaik-baik penghasilan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang jujur.” (HR Ahmad no.17496; dinilai sahih oleh al-Albānī dalam Shohihul Jami no.1126)
3. Hadits tentang orang yang menafkahi keluarganya
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ.
“Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat mencari ridha Allah kecuali engkau akan mendapat pahala karenanya — bahkan suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu.”
(HR al-Bukhārī no.56 dan Muslim no.1628)
Ini menunjukkan bahwa bekerja untuk menafkahi keluarga bernilai ibadah, sama sekali bukan urusan dunia semata.
Bukti Nyata: Kenapa Banyak Orang yang “Mau Tapi Gak Mau”?
Sekarang kita ngomong jujur: banyak orang (termasuk kita kadang) bilang “aku pengangguran”, padahal sebenarnya:
- Tak punya motivasi kuat
- Tak punya ide atau direction jelas
- Tak punya keberanian untuk memulai
- Sering takut gagal atau malu
- Terlena dengan kenyamanan hidup pasif (minta bantuan, hidup sendirian, nunggu “rezeki jatuh”)
Padahal, dalam Islam, pilihan “nganggur tapi aman” itu bukan jalan yang dipandang baik kalau ada jalan yang halal dan layak.
“Yang Nabi ﷺ maksudkan adalah mencari nafkah dan bekerja dengan semua bentuk profesi yang mubah, bukan yang haram.” (para ulama menjelaskan hadits tentang orang membawa kayu bakar).
Kita butuh mindset: “tidak layak bagi seorang muslim yang sehat dan berkemampuan memilih untuk kosong total.”
Strategi & Tips: Gimana Biar Gak Jadi Pengangguran yang Ogah Usaha
Berikut tips agar kita bisa aktif produktif, sambil menjaga niat agar tetap lillāh:
-
Kenali potensi & minatmu
Kadang orang nggak mulai karena bingung “apa yang mau dikerjakan?” Coba cari bidang yang kamu senang dan punya pasar, lalu belajar dasar-dasarnya. -
Mulai dari kecil & konsisten
Gak usah langsung cari proyek gede, mulai dari mikro (online freelance, jualan kecil, les, bantu tetangga). Yang penting konsisten. -
Gunakan waktu “nganggur” jadi “waktu coba”
Daripada scroll medsos tanpa arah, manfaatkan waktu itu untuk eksperimen: bikin konten, belajar skill, networking. -
Cari lingkungan yang produktif
Teman yang rajin dan produktif bisa menyulut kita agar nggak pasif. Join komunitas, ikutan workshop, ikut proyek kecil. -
Niatkan sebagai ibadah
Setiap usaha kita harus disertai niat agar mendapat ridho Allah — bukan cuma “untuk uang”. Dengan niat benar, pekerjaan biasa bisa jadi pahala. -
Pantang malu belajar & gagal
Orang yang takut gagal dan malu melakukan langkah awal, dia nggak akan jalan. Ingat: Nabi dan para sahabat dulunya belajar dan mengalami kesulitan. -
Mohon pertolongan kepada Allah & berdoa terus-menerus
Kita kerja, tetapi Allah-lah yang menggerakkan hati & membuka pintu kesempatan. -
Jangan meremehkan pekerjaan kecil
Semua pekerjaan yang halal dan bermanfaat punya nilai — meski bukan pekerjaan yang glamor. Jadi kalau usaha kecil-kecilan pun, lakukan dengan baik dan jujur.
Penutup
Sobat, kalau kamu sampai memilih jalan kosong tanpa usaha, maka kamu sedang membiarkan waktu, peluang, dan (mungkin) amal pergi begitu saja. Sahabat Ibn Mas’ud sudah memberi sindiran tajam: “dia tidak mau bekerja untuk dunia, dan tidak mau beramal untuk akhirat.” Itu sindiran untuk orang yang pasif dua-duanya.
Tapi, kita punya pilihan untuk jadi beda. Kita bisa memilih jalan produktif: bekerja keras di dunia, menata amalan di akhirat, dan menjalin keseimbangan. Jangan jadi generasi “cuma ngarep rezeki tanpa usaha”. Malah kalau kita usaha tapi gagal, belum tentu Allah menolak bisa jadi usaha kita itu jadi saham pahala (asal niatnya lurus).
Semoga Bermanfaat.


mantap bro, lanjutkan berbagi ilmu
BalasHapus