![]() |
| Langkah pelan, niat besar, pertolongan Allah nyata. |
Gue Jalan Kaki dari Afrika ke Mekah Demi Lihat Ka’bah. Cerita Gila yang Bikin Lo Mikir Ulang Soal “Udzur”!
Woi, guys! Duduk dulu yang nyaman. Ambil cemilan, taruh kopinya. Karena cerita yang gue mau share ini bukan cerita biasa. Ini cerita tentang perjalanan gue dan temen-teman, lima orang gila yang nekat jalan kaki dari Gambia, ya, ujung Barat Afrika yang mungkin cuma lo liat di peta, sampe ke Mekkah, Saudi Arabia. Bukan naik pesawat, bukan naik kapal. Tapi walking. Jalan kaki. Selama dua taun penuh!
Nama gue Utsman Dabu. Dulu gue tinggal di desa kecil dekat Banjul, ibukota Gambia. Rumah gue sederhana banget, bukan yang mewah. Hidup biasa aja. Tapi gue punya mimpi yang gak biasa. Dan gue yakin, lo semua yang lagi baca ini pasti bakal angkat eyebrow dan bilang, “Ini beneran, atau cuma khayalan?”
Beneran, guys. Ini kisah nyata. Dan gue akan ceritain dengan bahasa gue sendiri, seolah-olah kita lagi nongkrong di warung kopi. So, siap-siap. Ini bakal panjang, tapi gue janji, bakal worth it.
Awal Mula Ide Gila: “Kita Muda dan Kuat, Masa Kalah Sama Nabi Ibrahim?”
Jadi, waktu itu sekitar lima puluh taun yang lalu. Gue dan empat temen gue –sebut aja mereka Abou, Mamadou, Lamin, dan Sidi– lagi nongkrong di bawah pohon besar sepulang kerja. Kita lagi obrolin tentang kehidupan, tentang agama, kayak biasa.
Lalu, entah bagaimana, obrolan kita nyerempet ke kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kalian tau kan, beliau diperintah Allah buat ninggalin keluarganya di lembah yang gersang, gak ada tetumbuhan, yang sekarang kita kenal sebagai Mekkah. Bayangin, zaman itu, gak ada hotel, gak ada minimarket, gak ada apa-apa. Cuma pasir dan bebatuan. Tapi Nabi Ibrahim jalan dengan iman yang segede gunung.
Nah, salah satu dari kita, Mamadou, yang paling filosofis di antara kita, tiba-tiba ngomong dengan suara lowkey tapi dalem banget.
“Bro,” katanya sambil ngegulung kainnya yang terbuat dari kain sederhana. “Kita di sini pada masih muda, masih kuat. Badan masih sehat, kaki masih bisa jalan jauh. Nabi Ibrahim aja berangkat ke tempat yang belum jelas, masa kita yang tujuannya udah jelas, yaitu Baitullah, cuma bisa ngomong, ‘wah, gue belum mampu… gue belum ada duit…’?”
Dia pause sebentar, liatin kita satu-satu.
“Kita bayangin, taun-tahun ke depan, kita jadi tua. Badan udah sakit-sakitan, kaki udah gemeteran. Trus pas ditanya sama Allah, ‘Hei, lo dulu waktu muda kenapa gak dateng ke rumah Gue?’ Apa alesan kita? ‘Eh, sorry ya Allah, gue sibuk… gue gak punya uang… gue tunggu promo tiket pesawat’? Dasar kita lemah banget!”
Dia lanjutin, “Hari-hari yang berlalu cuma bikin kita makin lemah. Mending kita jalan sekarang. Gue yakin, selama niat kita bener, Allah bakal kasih jalan. Daripada kita nunda-nunda dan akhirnya menyesal.”
Wah, bro, kalimat itu kena banget di hati gue. Kayak disetrum. Iya juga ya. Kita sering banget cari udzur (alasan) buat hal-hal baik. “Belum mampu” kadang cuma alesan buat nutupin rasa malas dan takut kita.
Akhirnya, dengan semangat yang membara, kita berlima mutusin buat berangkat. Niatnya sih cuma satu: menghadap Allah di Baitullah. Modal nekat dan tawakkal.
Kita berangkat cuma bawa bekal yang cukup untuk maybe satu atau dua minggu. Selebihnya? Kita serahkan pada Allah yang di atas. Kita percaya, rezeki itu ada di mana-mana. Selama kita mau kerja dan berusaha, Allah akan kasih.
Perjalanan Dimulai: Langkah Pertama Menuju Mimpi
Hari keberangkatan kita dateng. Gue pamitan sama keluarga. Ibu gue nangis. Dia khawatir, mana mungkin anaknya bisa selamat jalan kaki sejauh itu. Tapi gue cuma bisa bilang, “Ibu, ini panggilan hati. Allah yang akan jaga gue.”
Lalu, kita berlima melangkah. Kaki kita jejakin tanah Gambia buat terakhir kalinya. Awalnya sih semangat 45. Kita nyanyi-nyanyi, becanda, kayak lagi road trip biasa. Tapi semakin jauh dari rumah, reality starts to hit.
Tantangan pertama: alam Afrika yang kejam dan indah sekaligus.
Kita jalan melalui hutan-hutan yang lebat. Suara binatang buas malam hari bikin kita gak bisa tidur nyenyak. Seringkali kita harus gantian jaga, siap dengan tongkat dan batu, kalau-kalau ada singa atau hyena yang ngeliat kita sebagai menu makan malam.
Pernah suatu malam, kita lagi tidur di bawah pohon. Tiba-tiba, ada suara deru napas berat dekat kepala gue. Gue kebangun, dan.., sepasang mata bersinar nanar menatap gue dari kegelapan. Gue beku. Gak berani bergerak. Itu adalah seekor leopard. Gue cuma bisa bisikin doa dalam hati. Ajaibnya, setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, leopard itu pergi dengan geram. Mungkin dia lagi kenyang, atau mungkin malaikat lagi jagain kita. Gue langsung sujud syukur.
Banyak malam yang kita lalui dengan perut keroncongan. Bekal kita udah habis, dan kita belum nemuin desa atau kota untuk kerja. Lapar? Itu adalah teman sehari-hari. Rasanya perut mau melilit, kepala pusing. Tapi kita selalu ingat, bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat juga pernah merasakan lapar yang lebih parah.
Lamin, yang paling humoris di antara kita, selalu becanda, “Perut kita ini lagi diet ala Nabi, guys. Biar sehat dan dapat pahala.” Kita pun ketawa, meski kadang sambil nahan air mata.
Lalu ada juga ancaman manusia. Kita sering nemuin lembah-lembah yang dikenal sebagai sarang perampok. Kita harus ekstra hati-hati, kadang muter jalan yang lebih jauh cuma buat menghindari mereka. Takut? Pasti. Tapi ketakutan kita pada manusia tidak boleh melebihi ketakutan kita pada Allah.
Gue sering banget di situasi kayak gitu nyanyi-nganyi sendiri dalam hati buat ngilangin takut:
"Betapa banyak malam yang telah kutangisi
Tatkala Kupindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya"
Artinya, satu masalah keluar, masalah lain datang. Begitu terus. Tapi justru di situlah kita belajar arti sabar yang sebenernya.
Cobaan Terberat: Sengatan dan Bisikan Setan
Nah, sekarang gue mau cerita tentang salah satu momen terberat gue secara pribadi.
Suatu malam, kita lagi jalan melalui semak-semak. Gue yang ada di depan tiba-tiba ngerasa sakit banget di kaki. Kayak disetrum listrik. Gue jerit. Ternyata, gue kesengat kalajengking atau ular berbisa, gue aja gak tau pasti.
Rasa sakitnya itu luar biasa. Panasnya merambat ke seluruh tubuh. Gue demam tinggi, menggigil, dan berkeringat dingin. Badan gue lemas banget sampe gak bisa jalan. Temen-temen harus gendong gue dan nemuin tempat buat istirahat.
Mereka nemuin sebuah pohon besar, dan kita berhenti di bawahnya. Mereka harus pergi cari kerja dan cari makanan, sementara gue ditinggal sendirian dalam keadaan sakit.
Wah, bro, di saat-saat kayak gitu, pikiran negatif mulai menyerbu. Setan datang dengan bisikan-bisikan jahatnya.
“Ngapain lo di sini, Utsman?” bisiknya. “Di rumah lo nyaman. Lo bisa kerja, nikah, punya anak, ibadah dengan tenang. Kenapa lo harus nyiksa diri begini? Lo pikir Allah butuh pengorbanan lo? Lo aja belum tentu mampu!”
Bisikan itu bikin gue sedih. Air mata gue meleleh. Gue lihat langit malam yang dipenuhi bintang. Gue perhatiin bintang-bintang itu satu per satu, kayak lagi jadi pengawas bintang, sambil bersenandung:
“Sungguh Aku terus mencermati bintang-bintang itu, hingga
seakan …
Aku adalah pengawas setiap bintang di langit”
Gue merasa sendiri, lemah, dan hampir menyerah. Jiwa gue jadi berat banget. Gue hampir aja teriak, “Gue mau pulang!”
Tapi kemudian, temen-temen gue pulang. Abou, yang paling perhatian, langsung liat ada yang gak beres dengan gue. Dia dateng, duduk di sebelah gue.
“Utsman, what’s wrong?” tanyanya lembut.
Gue cuma bisa menunduk. Dia liat ada bekas air mata di pipi gue. Dia gak banyak nanya. Dia cuma tepuk pundak gue dan bilang,
“Bro, berdiri. Ambil wudhu. Lalu shalat. Gue yakin, setelah shalat, lo akan merasa lebih baik. Ingat, Allah bilang di Qur’an:
‘Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45)
Gue coba ikuti sarannya. Dengan susah payah, gue ambil wudhu. Airnya yang dingin bikin gue sedikit sadar. Lalu gue shalat. Gue pasrahkan semua pada Allah. Gue bilang, “Ya Allah, jika ini adalah akhir untuk gue, terimalah amal gue. Tapi jika Engkau masih punya rencana untuk gue, kuatkanlah gue.”
Ajaib. Setelah shalat, dada gue yang sebelumnya sesak jadi plong banget. Rasanya kayak beban berat langsung diangkat. Gue jadi kuat lagi. Gairah untuk lanjut jalan kembali membara. Alhamdulillah…
Kehilangan yang Menyayat Hati: Sampai Jumpa di Surga, Bro..
Perjalanan kita lanjut. Tapi cobaan belum berakhir. Malah, cobaan terberat harus kita hadapi: kita kehilangan temen-teman kita satu per satu.
Orang pertama yang pergi adalah Sidi. Dia kena penyakit malaria akut. Kita udah berusaha cari obat, tapi di pedalaman Afrika waktu itu, obat itu barang mewah. Kita cuma bisa lihat dia merintih kesakitan, sampe akhirnya dia meninggal dengan tenang di pangkuan kita. Kita kubur dia dengan sederhana di tepi jalan, dengan doa yang tulus.
Lalu, Mamadou menyusul. Dia jatuh dari tebing waktu kita mencoba mengambil jalan pintas. Kakinya patah dan dia mengalami pendarahan dalam. Kita gak bisa ngapa-ngapain. Dia pergi dengan cepat. Kita kubur dia di samping Sidi.
Yang paling mengharukan adalah Lamin, orang ketiga yang pergi. Dia meninggal bukan di darat, tapi di atas kapal waktu kita mau nyebrang Laut Merah menuju Jeddah. Mungkin karena kelelahan akut.
Tapi yang bikin gue nangis sampai sekarang adalah pesan terakhirnya. Dia pegang tangan gue dan Abou (yang tersisa cuma kita berdua sekarang).
Dia bilang dengan suara lemah, “Bro… kalo kalian berdua akhirnya nyampe ke Masjidil Haram… tolong… bilangin sama Allah… bahwa gue kangen banget pengen ketemu Dia.”
Dia napas berat, lalu lanjutin, “Dan… tolong doakan… semoga Allah ngumpulin gue dan ibu gue… bareng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janji ya?”
Gue cuma bisa manggut sambil nahan tangis. Beberapa saat kemudian, dia meninggal. Gue dan Abou nangis berpelukan. Kehilangan tiga temen terbaik dalam perjalanan adalah pukulan terberat. Lamin adalah orang paling sabar dan paling kuat di antara kita. Kalo dia aja bisa meninggal, gimana dengan kita?
Gue sempet down banget. Rasa takut mati sebelum sampai membayangi gue. Setiap hari terasa panas kayak bara api. Tapi kerinduan pada Ka’bah terus membakar hati gue dan Abou. Kita harus lanjut, untuk kita, dan untuk temen-teman kita yang udah gak bisa lanjutin.
Final Push: Sakit di Jeddah dan Wasiat Terakhir
Akhirnya, setelah hampir dua taun berjalan… kita nyampe di Jeddah! Luar biasa! Tapi, mungkin karena kelelahan dan sedih yang menumpuk, gue sakit parah lagi. Gue demam tinggi dan hampir gak bisa jalan.
Gue takut. Takut banget. Gimana kalo gue mati di sini, di Jeddah, padahal tinggal sedikit lagi ke Mekkah? Rasanya kayak ikut lomba lari, tapi jatuh pas di garis finish.
Gue panggil Abou. “Bro,” gue bilang. “Gue rasa gue gak akan kuat. Kalo sesuatu terjadi pada gue… kalo gue meninggal… tolong kafanin gue dengan pakaian ihram gue. Dan tolong… bawa mayat gue sedekat mungkin ke Mekkah. Gue mohon. Gue pengen Allah ngelihat gue masih dalam keadaan ihram dan pengen dipersempit jarak antara gue dan Baitullah. Siapa tau Dia ngasih gue pahala haji.”
Abou cuma bisa meluk gue sambil nangis. “Jangan bilang gitu, Utsman. Kita udah sampe sini. Kita harus sampe sana bersama-sama.”
Kita tinggal di Jeddah beberapa hari sampai gue agak pulih. Lalu, dengan sisa tenaga yang ada, kita lanjutkan perjalanan terakhir menuju Mekah.
Puncak Segalanya: Melihat Ka’bah dan Tangis yang Tak Terbendung
Dan akhirnya… hari itu dateng.
Kita masuk ke kota Mekkah. Langkah kita semakin cepat. Jantung berdebar kencang. Gue pegang tangan Abou kuat-kuat.
Lalu, kita masuki Masjidil Haram. Kita dorong diri kita melewati kerumunan orang. Dan… there it was.
Ka’bah.
Baitullah. Rumah Allah.
Gue langsung jatuh bersujud. Gue gak bisa menahan tangis lagi. Gue nangis terisak-isak kayak anak kecil. Semua rasa sakit, lelah, sedih, dan takut selama dua taun itu keluar menjadi air mata. Gue rasakan kelezatan dan kedamaian yang gue belum pernah rasakan seumur hidup gue. Seakan-akan semua pengorbanan itu terbayar lunas di detik itu.
Gue lihat Abou, dia juga sedang bersujud dan menangis.
Di saat itu, gue ingat temen-teman gue: Sidi, Mamadou, dan Lamin. Mereka gak bisa merasakan ini. Gue pun memuji Allah atas nikmat yang Dia berikan pada gue. Gue berdoa, “Ya Allah, catatlah setiap langkah mereka. Jangan hilangkan pahala untuk mereka. Kumpulkan kami semua di sisi-Mu, di tempat yang mulia.”
Gue duduk di sana, lama sekali. Hanya memandangi Ka’bah. Merasa sangat kecil, tapi sangat dicintai. Itulah momen terindah dalam hidup gue.
Epilog: Pesan Buat Kalian, Generasi Sekarang
Jadi, guys, itu cerita gue.
Gue ceritain ini bukan supaya kalian pada ikutan nekat jalan kaki ke Mekkah. Tapi gue mau kalian ngerti satu hal: jangan pernah remehin kekuatan niat dan tawakkal.
Kita dulu berangkat dengan modal nekat dan keyakinan bahwa Allah akan bantu. Dan memang, Allah selalu kasih jalan. Dia kasih kita rezeki dari arah yang gak disangka-sangka, Dia kasih kita kekuatan di saat kita lemah, dan Dia kasih kita pertolongan di saat kita hampir menyerah.
Kalo kalian punya mimpi, punya tujuan baik, jangan banyak cari alesan. “Belum mampu” itu seringkali cuma topeng dari rasa takut dan malas kita. Kalo kita mau berusaha dan serahkan semuanya pada Allah, percayalah, Dia akan buka jalan.
Hidup ini singkat, guys. Jangan sampai kita menyesal di akhirat nanti karena kita terlalu banyak cari udzur di dunia.
Gue udah tua sekarang. Tapi melihat kalian, generasi muda, gue harap kalian bisa lebih hebat dari gue. Gunakan semua fasilitas yang ada sekarang, pesawat, internet, ilmu, untuk beribadah yang lebih baik lagi kepada Allah.
Jangan sampai kemudahan justru bikin kalian malas.
Jadi, itulah cerita gue. Terima kasih udah mau dengerin cerita orang tua seperti gue. Semoga bisa ngasih kalian semangat baru.
Barakallahu fiikum. Semoga Allah memberkati kalian semua.
[ Berdasarkan kisah nyata dengan gaya bahasa yang sudah dirubah dari Kitab Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal. 107-109 ]


Posting Komentar