الحمد لله الذي هدانا للإيمان، ووفقنا للاستقامة على الطاعة، نحمده حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Coba kita bayangkan seseorang yang setiap pagi selalu datang ke masjid, duduk di saf pertama, wajahnya tenang, suaranya lembut. Tapi suatu hari, dia berhenti datang. Seminggu, dua minggu, sebulan… hilang. Ketika ditanya, ia berkata, “Aku lagi capek.”
Begitulah, saudara-saudara—istiqomah itu bukan tentang kuat di awal, tapi tentang bertahan sampai akhir.
Karena banyak yang semangat di awal, namun futur di tengah jalan. Nabi ﷺ sudah mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah bukan yang paling banyak, tapi yang paling terus menerus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Istiqomah itu seperti mata air di gunung. Tidak deras, tapi tidak pernah berhenti. Ia mungkin kecil, tapi menghidupi banyak hal di sekitarnya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Istiqomah itu mahal karena dia bukan hasil dari satu tindakan, tapi dari perjuangan hati setiap hari.
Ada satu kisah menarik. Seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:
"Wahai Rasulullah, katakan padaku satu perkataan tentang Islam yang aku tidak akan bertanya lagi kepada siapa pun setelahmu."
Nabi ﷺ menjawab singkat namun menghantam ke dalam dada:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakan: Aku beriman kepada Allah, lalu beristiqomahlah.”
(HR. Muslim)
Singkat. Tapi itu inti hidup.
Mengucapkan “Aku beriman” itu mudah. Tapi istiqomah? Itu perjuangan. Karena setan tidak iri dengan orang yang baru taubat, tapi dia panik dengan orang yang tetap taat setelah taubatnya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Bagaimana kita tahu bahwa kita termasuk orang yang istiqomah?
Ulama menyebut ada beberapa tanda-tanda istiqomah:
-
Hatinya tenang di atas ketaatan.
Ia tidak lagi mencari alasan untuk menunda ibadah. Ia justru gelisah kalau jauh dari Allah.
Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat turun kepada mereka...”
(QS. Fussilat: 30)Malaikat turun bukan hanya di waktu sakaratul maut, tapi juga dalam kehidupan: meneguhkan hati, menenangkan langkah.
-
Tidak tergoda oleh pujian, tidak runtuh oleh hinaan.
Orang istiqomah itu tidak berubah karena komentar manusia.
Kalau orang lain memuji, dia tidak tinggi hati. Kalau dicaci, dia tidak berhenti.
Sebab yang ia cari bukan tepuk tangan manusia, tapi ridha Allah. -
Konsisten di amal kecil, bukan hanya ketika ramai.
Shalat malam satu rakaat pun, tapi rutin. Sedekah seribu rupiah pun, tapi terus.
Karena Allah melihat ketulusan, bukan besarnya jumlah.
Ma’asyiral Muslimin, a'azzakumullah
Istiqomah itu seperti berlari maraton, bukan sprint.
Kita tidak butuh cepat, tapi butuh tetap di jalan sampai garis akhir.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Istiqomah adalah jalan menuju Allah tanpa menoleh ke kanan atau kiri.”
Artinya, terus maju meski dunia menawari seribu jalan pintas.
Kadang istiqomah itu berat.
Tapi kalau Allah lihat kita terus berusaha, Dia akan turunkan pertolongan yang tak pernah kita sangka.
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Istiqomah tidak berarti tanpa dosa. Tapi orang yang istiqomah tidak nyaman di dalam dosa.
Ia segera kembali. Ia cepat sadar.
Allah tidak menuntut kita untuk selalu sempurna, tapi untuk selalu kembali kepada-Nya.
Maka, ketika kamu merasa lelah dalam ketaatan, ingat: bahkan Rasulullah ﷺ pun berdoa agar diberi keteguhan hati.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
Jika Nabi yang ma’shum saja memohon istiqomah, apalagi kita yang penuh cela.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari jaga istiqomah ini bersama:
- Istiqomah di shalat lima waktu.
- Istiqomah dalam menahan lisan dari ghibah.
- Istiqomah dalam menundukkan pandangan.
- Dan istiqomah dalam memperbaiki diri setiap hari, walau perlahan.
Karena tidak ada perjalanan yang lebih indah selain terus berjalan menuju Allah.
اللهم اجعلنا من الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا، وثبتنا على طاعتك حتى نلقاك وأنت راضٍ عنا.
اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.


Posting Komentar
Semoga dari diskusi lahir ilmu yang berkah 🌿